Jelajah Karlsruhe (4) - Bernhardkirche

March 21st, 2008 by bona-amanitogar

Gereja St. Bernhard (St. Berhnardkirche) adalah satu dari 28 gereja Katolik yang terdapat di kota Karlsruhe. Gereja ini menarik, bukan saja karena arsitektur bangunannya yang megah tapi juga karena di dalamnya tersimpan perjalanan sejarah yang cukup panjang.

Terletak di persimpangan "Durlacher Tor" tidak jauh dari Universität Karlsruhe, St. Bernhard berdiri megah-monumental. Dengan menara setinggi 93 meter, dan lantai dasar terangkat 1,5 meter dari permukaan jalan Durlacher Allee, gereja ini dapat dilihat dari jarak beberapa kilometer jauhnya.

Pembangunan gereja St. Bernhard dimulai tahun 1892. Secara arsitektural, St. Bernhard adalah salah satu bangunan neo-Gothic terbaik di Baden, dengan arsitek Max Meckel (1847-1910) sebagai perencananya. Meckel merancang disain arsitektural sekaligus disain interior.

Tahun 1944, saat memanasnya Perang Dunia II, St. Bernard ikut menjadi korban pemboman tentara sekutu yang mengakibatkan seluruh atap terbakar hangus, mozaik kaca hancur dan organ serta altar pun turut porak-poranda. Baru sepuluh tahun kemudian renovasi gereja ini rampung dan dapat dipakai seperti sedia kala.

Sejak tahun 1992, St. Bernhard mendapat status cagar budaya dari pemerintah Jerman melalui undang-undang seni budaya ( §12 Denkmalschutzgesetzes von Baden-Würgtemberg), sehingga dia tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah melainkan juga museum budaya.

Sebagai gereja paroki, St. Bernhard melayani umat  Katolik setempat dalam radius 10 km². Sebagaimana gereja paroki, St. Bernhard memberi layanan misa baik hari Minggu maupun misa harian dan pelayanan sakramen-sakramen lain.  Namun sebagaimana gereja-gereja di Eropa, St. Berhnard tidak luput dari tipikal "gereja tua": gereja yang tidak hanya bangunannya saja yang tua, tapi juga lebih banyak dikunjungi oleh orang-orang tua.   


000_0005_4Menara

Menjulang setinggi 93 meter,
menara ini terlihat jelas dari beberapa kilometer.

 

000_0004Maria

Beberapa lilin menyala di altar Maria,
tempat
berdevosi pada Sang Bunda.


000_0007_5

Stasi

Beberapa stasi jalan salib,
terpahat di dinding berupa relief.

 

000_0001

Komuni

Suasana penerimaan komuni,
Umat berbaris menyambut hosti.


000_0002_1Organis

Seorang organis memainkan organ pipa,
Dari atas balkon mengiringi misa.


000_0003Berkat

Imam dan diakon membagi berkat,
pada hari peringatan St. Blasius.


000_0012_1 Ikon

Salah satu ikon gereja timur,
yang dipakai komunitas ortodox.


000_0001_1
Palma

Suasana Minggu Palma,
tanpa daun palma yang sebenarnya.


000_0002_2

Misdinar

Iring-iringan para misdinar,
dengan wajah yang bersinar.


000_0003_1 Salib

Setelah Jumat Agung usai,
salib ditaburi bunga rampai.

 

Jelajah Karlsruhe (3) - Fasching

February 4th, 2008 by bona-amanitogar

Salah satu tradisi unik di Karlsuhe adalah karnaval tahunan. Karnaval ini dalam bahasa setempat disebut "Fasching". Diadakan setahun sekali, tiap hari Selasa sebelum "Rabu Abu" - hari raya Katolik yang menandai dimulainya masa Pra-paskah. Senin (Rosenmontag) dan Selasa (Faschingsdienstag) sebelum Rabu Abu (Aschermittwoch) memang dirayakan cukup meriah di Jerman selatan yang masih cukup kental dengan tradisi Katolik, meski dengan nuansa religius yang semakin lama semakin memudar.

Rute karnaval ini adalah jalan-jalan utama di kota Karsruhe, dengan Marktplaz (alun-alun kota) sebagai pusatnya. Di Marktplatz itulah didirikan tribun, dimana para pembesar kota hadir dan menyambut peserta karnaval.


Peserta karnaval yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat berbaris dengan balutan kostum berwarna warni dan lucu-lucu, seperti pakaian tradisional, badut, nenek sihir, dll. Pada umumnya mereka duduk di atas mobil hias, tapi ada pula yang berbaris sambil menari atau bermain drum band.

Cukup unik juga bahwa anggota drum band itu juga terdiri dari ibu-ibu dan kakek-kakek.  Tapi mereka tidak berjalan dengan tangan kosong.  Sesekali mereka melemparkan makanan kecil seperti kacang, coklat dan permen ke arah penonton. Para penonton juga datang dengan kostum warna warni, sehingga menjadikan suasana semakin semarak.

Oh iya, satu lagi yang tak kalah menarik, beberapa jam sebelum dimulai para penonton telah membanjiri rute karnaval. Orang-orang dari segala usia berkumpul bersama, menikmati suasana dengan bercanda dan berdansa dengan iringan lagu-lagu folk song yang menghidupkan suasana, seperti petikan syair berikut ini:


Am Rosenmontag bin ich geboren,
am Rosenmontag in Mainz am Rhein,
bis Aschermittwoch bin ich verloren,
denn Rosenmontagskinder müssen närrisch sein!

[link youtubenya bisa diklik disini]

Selamat menikmati foto-fotonya…

dan selamat hari Rabu Abu bagi yang mengimaninya!

000_0015_1
Penonton

Beberapa jam sebelum karnaval dimulai,
penonton sudah memadati jalan raya

000_0016_1
Markgrafen von Karslruhe

Para bangsawan (Markgraf) berdiri di tribun,
menyambut peserta pawai sambil berseru,
"Hellaw!"

000_0005_2Polizei

Polisi dari "Polda" Baden-Württemberg
membuka iring-iringan peserta karnaval sambil menunggang kuda.

000_0009_2

Drum Band

Faktor usia tidak melunturkan semangat
bapak-bapak dan ibu-ibu ini untuk meniup terompetnya

000_0010_3

Semarak

Dengan kostum yang berwarna-warni,
suasana karnaval menjadi hidup dan semarak

000_0007_4

Apache

Komunitas Indian Apache yang ada di Karlsruhe,
ikut berpartisipasi sebagai peserta karnaval

000_0012

Sihir

Seorang "tukang sihir" beraksi tepat di depanku,
mungkin lulusan Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry

000_0013_3German Beauty

Gadis-gadis Jerman yang jelita melambaikan tangan,
sambil melemparkan permen ke arah penonton

Jelajah Karlsruhe (2) - Universitaet

January 25th, 2008 by bona-amanitogar

Universität Fridericiana zu Karlsruhe (Uni-Karlsruhe) adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kota Karlsruhe. Didirikan tahun 1825 sebagai politeknik, Uni Karlsruhe telah meretas jalan panjang dalam tradisi akademiknya.

Heinrich Hertz dan Karl Benz adalah sedikit diantara dertan nama besar lain di dunia sains yang pernah menjejakkan kaki di universitas ini. Kini tidak kurang dari 18.000 pelajar dari puluhan negara di seluruh dunia mengenyam pendidikan di  universitas yang menempati rangking teratas  perguruan tinggi di Jerman ini.

Selamat menikmati!


000_0010_2

Gothic

Pada umumnya gedung-gedung lama di Uni-Karlsruhe
dibangun dengan corak Gothic…


000_0007_3

Greek Revival

… tapi sebagian juga dibangun dengan corak Greek Revival.


 

000_0008Hertz

Tahun 1885 di sini Heinrich Hertz menjadi profesor,
di situ dia menemukan teori gelombang elektromagnetik.


000_0009_1Benz

Carl Benz dulu kuliah di teknik mesin, lulus tahun 1864.
Setelah nge-top, mendapat Dr. honorus causa di tahun 1914.

 

 



000_0005

Kabut

Gedung Studentenwerk diselimuti kabut pagi.

 


 

000_0011_1

Parkir (1)

Beberapa mobil sedang diparkir di pelataran…

 


000_0006

Parkir (2)

…tapi sepeda lebih populer di kalangan mahasiswa.

000_0002

Mensa

Makan siang di mensa: praktis meski tidak terlalu ekonomis

000_0013_1

Kelas berat

Uni Karlsuhe memang untuk orang serius kelas berat…

Dsc00096

Psikopat

.. tapi cocok juga bagi orang yang sedikit psikopat

Jelajah Karlsruhe (1) - Schloss

January 23rd, 2008 by bona-amanitogar

Sore ini aku merasa perlu sedikit angin segar. Oleh karena itu aku melangkahkan kakiku ke suatu tempat yang terletak tidak jauh dari tempatku. Tempat ini bernama Schloss.

Dalam bahasa Jerman, Schloss berarti puri. Sesuai dengan namanya, pada saat didirikan tahun 1770, tempat ini adalah kediaman para bangsawan. Berdiri tegak di jantung kota, di istana ini tersimpan segala kemegahan.

Dengan bangunan artistik  berlanggam baroque dan rokoko, Schloss berdiri di tengah-tengah taman yang terhampar luas di sekelilingnya, beserta jalan yang ditata sedemikian rupa sehingga menyerupai pancaran cahaya ke seluruh penjuru kota dengan istana sebagai mataharinya.

Kini Schloss tidak lagi berfungsi sebagai istana. Bangunannya telah dialihfungsikan sebagai museum, dan pekarangannya sebagai botanical garden. Namun bangunannya yang elegan dan hamparan taman yang teduh mempesona tetap menampilkan kemasyhuran dan tentu saja romantisme.

Berikut beberapa citra yang sempat aku rekam. Klik gambar supaya lebih jelas. Selamat menikmati!

 

000_0011

Elegan

Menara Schloss berdiri elegan.
Hangat penuh wibawa.

000_0018

Merpati

Sekawanan merpati bermain di halaman
menikmati keramahan alam

 

000_0015

Gerbang

Berdiri kokoh, gerbang yang memandu
menuju ke botanical garden.


000_0014

Bangku Kosong.

Hanya ada sepasang patung rusa di antara
deretan bangku kosong.


000_0019

Arcade

Arkade dengan topangan pilar kekar,
memanjakan pejalan kaki.


000_0016

Menikmati Senja

Seseorang lelaki di usia senja, duduk
menikmati senja kala hari.

000_0013

Memadu Kasih

Sepasang muda-mudi asyik memadu kasih
di balik rimbun pepohonan.

Sampah, Koin dan Hidup

January 20th, 2008 by bona-amanitogar

Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan mengunjungi dua fasilitas pengolahan sampah kota (municipal solid waste - MSW). Yang pertama di Ludwigshafen dan yang kedua di Karlsruhe. Meski sama-sama mengolah sampah, dua fasilitas ini berbeda satu sama lain. Yang di Ludwigshafen mengolah sampah menjadi listrik (waste to electricity), sementara di Karlsruhe mengolah sampah menjadi biogas (waste to biogas).

Di antara beberapa teknik pengolahan sampah di Jerman, insenirasi (pembakaran) adalah teknik yang paling umum. Cara inilah yang digunakan di Ludwigshafen. Jadi di sini sampah organik kering dimasukkan ke suatu furnace yang biasanya berkapasitas 3000 m³, lalu dibakar di situ hingga mencapai suhu 1000 - 1200°C. Entalpi pembakaran ini lantas disalurkan ke suatu boiler untuk menguapkan air, hingga diperolehlah uap (steam) dengan suhu 400°C dan tekanan 40 bar. Uap ini dipakai untuk menggerakkan turbine uap (steam turbine) yang produk akhirnya adalah energi listrik. Sampah perkotaan dengan volume 180 ribu ton per tahun dapat mengandung thermal load sampai 100 MW. Dengan efisiensi konversi ke energi listrik, katakanlah 30% saja, 33 MW listrik bisa didapat. Potensial bukan?

Sedangkan yang di Karlsruhe, tekniknya adalah biological treatment. Di sini yang dijadikan bahan baku adalah sampah organik basah, seperti sampah dapur. Sampah-sampah itu digiling dalam suatu hydro-pulper sampai membentuk suspensi. Lalu dengan bantuan bakteri methanogenik, suspensi ini secara anaerobik dikonversi menjadi gas dalam bentuk methana dan karbon dioksida. Setelah melalui tahapan pemurnian dengan membuang gas karbon dioksida, biogas tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak atau dipakai untuk membuat uap untuk pemanas ruangan. Dari tiap ton sampah, tidak kurang 90 m³ biogas dapat dihasilkan.

Memang canggih cara mereka ini mengelola sampah. Bagaimana mengolah sampah bukan sekedar untuk menstabilisasi dan menghancurkan zat-zat toksik - berbahaya tapi juga mengambil manfaat lain seperti energi listrik, biogas, pupuk, dll. Menarik untuk diamati, dan tentu saja dicontoh :)

Namun demikian, ada hal lain lagi yang bagiku tak kalah menarik untuk diamati selama kunjunganku ke situ. Sebelum hydro-pulping ada proses pemilahan. Di sini material-material yang non-digestible dipisahkan dari material organik. Ya, meskipun di sini ada aturan untuk memilah-milah sampah dalam 3 tempat sampah yang berbeda (organik basah - recycleable - residue), tetap saja ada oknum yang melanggar aturan.

Dengan menggunakan cyclone, material-material non-digestible itu dipisahkan. Umumnya ini berupa plastik, pasir dan logam. Yang cukup mengagetkan adalah, dalam residue itu tiap-tiap hari ditemukan juga koin-koin. Umumnya pecahan sen euro, tapi kadang juga ada pecahan 1 dan 2€. Menurut keterangan pekerja di situ, dalam satu hari bisa ditemukan 10-20€ koin yang terbuang di situ. Tapi sayang sekali saat keluar dari cylone, koin-koin itu sudah rusak tak berbentuk. :(

Aku cuma bisa tersenyum dan menghela nafas. Jadi teringat salah satu quote:

"Life is just like a coin. You can spend it any way you wish. But you only spend it once"

Tapi kali ini mungkin ada quote baru:

"Life is just like a coin: valuable but some of us just don’t realize"

Kerja sambil Kuliah (di Jerman), Mungkinkah?

January 5th, 2008 by bona-amanitogar

Seorang temanku beberapa waktu lalu menanyakan perihal biaya hidup dan peluang sumber-sumber finansial untuk membiayai studi di Jerman. Tidak diragukan bahwa pertanyaan ini kritikal sekali.

Pepatah Jawa  "jer basuki mawa bea" yang kurang lebih sepadan dengan ungkapan Inggris "no pain no gain" mengatakan bahwa untuk mencapai sesuatu dibutuhkan pengorbanan. Dan tentu kita semua setuju bahwa pengorbanan yang paling terukur adalah dalam bentuk uang. Ini tanpa bermaksud mengatakan bahwa uang adalah segala-galanya dan mengabaikan peranan pengorbanan yang lain.

Berapa budget bulanan studi di Jerman?

Budget bulanan yang perlu dipikirkan dalam hal ini adalah biaya studi dan biaya hidup. Biaya studi adalah biaya yang harus disetorkan ke penyelenggara pendidikan, dan biaya hidup adalah semua biaya yang diperlukan untuk mendukung kebutuhan sehari-hari, seperti tempat tinggal, makanan, transportasi, dan lain-lain.

Beberapa tahun yang lalu mungkin banyak perguruan tinggi di Jerman yang bebas biaya studi, namun kini tampaknya itu tidak banyak lagi. Saat ini perguruan-perguruan tinggi Jerman umumnya menarik biaya studi, yang  besarnya bervariasi tergantung beberapa faktor misalnya jenjang pendidikan yang ditempuh (Bachelor, Master atau Diplom) dan lokasi tempat perguruan tinggi berada. Namun untuk jenjang Doktorat (Ph.D), saat ini masih 100% bebas biaya.

Biaya pendidikan yang bisanya disebut "Semesterbeiträge" berkisar antara 100€ - 250€. Di samping itu di beberapa negara bagian terentu masih harus lagi ditambah dengan "Studiengebühren" yang untuk di Baden-Württemberg besarnya 500€ per semester. Ini belum lagi termasuk biaya materi perkuliahan seperti buku teks dan diktat.

Untuk beberapa program yang tailor-made (biasanya program Master), biaya pendidikan kadang sedikit berbeda. Biasanya besarannya dihitung per tahun, yang berkisar antara 5000€ - 8000€ per tahun.

Biaya hidup lebih besar lagi variasinya, tentu tergantung dari gaya hidup masing-masing individu dan lokasi di mana berada. Untuk gampangnya, biaya hidup bisa dibagi atas beberapa alokasi berikut:

  • Biaya akomodasi, mulai dari 200€ per bulan
  • Biaya asuransi (merupakan syarat mutlak), mulai 50€ per bulan
  • Biaya makan, mulai dari 250€ per bulan
  • Transportasi dan telekomunikasi

Untuk biaya transportasi, sebagai pelajar ada kesempatan untuk memiliki tiket langganan yang besarnya 100€ - 150€ per semester. Dengan tiket ini biasanya sudah bebas menggunakan fasilitas transport (trem dan bus) di kota setempat 24 jam sehari.

Biaya telekomunikasi juga sangat ditentukan oleh kebutuhan dan gaya hidup. Beberapa jaringan telepon seluler menawarkan biaya langganan sekitar 20€ per bulan, dengan fasilitas bebas menelepon ke telepon rumah (landline) di seluruh Jerman 24 jam sehari, plus ke nomor selular yang merupakan produknya. Sementara untuk telepon ke luar negeri (misal ke Indonesia), ada beberapa penyedia voip (voice over internet protocol) yang menawarkan harga mulai 1 sen per menit.

Namun secara umum, dengan gaya hidup normal seorang pelajar di Jerman membutuhkan sekitar 600€ - 800€ per bulan. Sebagai peraturan, seorang pelajar internasional diharuskan mempunyai deposit sebesar 7020€ per tahun akademik untuk bukti kecukupan finansial, yang biasanya diminta pada saat pengurusan visa studi.

Bagaimana cara membiayai studi?

Cara pertama (dan tentu paling dicari) adalah beasiswa. Mengenai hal ini sudah cukup banyak saya ulas peluang dan problematikanya dalam salah satu posting saya tahun lalu. Dengan memperoleh beasiswa, biasanya masalah biaya hidup sudah bukan pertanyaan lagi.

Namun demikian ada pula cara lain yang cukup populer di kalangan pelajar, yaitu bekerja paruh waktu yang dikenal sebagai "studentischen Jobs". Tapi sebagai pemegang paspor Indonesia (baca: yang bukan anggota uni-eropa), kesempatan kerja dibatasi sebesar maksimum 90 hari per tahun.

Kerja paruh waktu ini dapat dilakukan dalam beberapa cara. Cara termudah adalah menjadi scientific assistant (Hilsfkraft-Wissenschaft, atau disingkat HiWi). Peluang kerja HiWi biasanya ditawarkan oleh unversitas atau lembaga riset. Di sini pekerjaan yang dilakukan adalah membantu peneliti dalam melakukan tugas sehari-hari, seperti mengoperasikan alat di lab atau mengolah data-data experimen. Tapi juga terkadang dituntut untuk melakukan aktifitas ringan seperti menjilid lembar-lembar publikasi atau menyiapkan OHP atau beamer jika peneliti itu (biasanya profesor atau post-doc) hendak melakukan presentasi.

Penghasilan yang bisa diperoleh dengan cara ini berkisar 8 - 12€ per jam. Di sini pekerjaan dilakukan di hari kerja biasa. Untuk ini diperlukan manajemen waktu yang bagus agar tidak mengganggu aktivitas perkuliahan.

Kerja lain yang lebih konvensional adalah bekerja di industri, seperti pabrik, restoran atau konstruksi. Pekerjaan yang dilakukan di bidang ini adalah jenis Red-neck-jobs, seperti Produktionshelfer (pembantu produksi), Reinigungspersonal (pelayan kebersihan), Spüler (pencuci piring) atau Baustellenhelfer (pembantu konstruksi). Banyak biro tenaga kerja yang merekrut pelajar-pelajar untuk posisi itu. Dan memang mereka lebih senang merekrut pelajar, karena satu dan lain hal. Bahkan di beberapa tempat yang tingkat penganggurannya sangat rendah, dengan sedikit keberuntungan Anda bisa mendapat info lowongan semacam ini tertempel di halte bus atau stasiun kereta.

Penghasilan dengan cara ini memang sedikit lebih rendah dari cara pertama, yakni berkisar 6 - 9€ per jam. Namun di sini besar kemungkinan untuk bekerja hanya pada akhir pekan, sehingga lebih fleksibel dan tidak mengganggu jadwal kuliah.

Ada lagi cara lain yang tidak kalah populer, yakni Ferienjob. Ini adalah bekerja full time di perusahaan, yang dilakukan pada saat libur semester. Salah satu perusahaan yang secara reguler menawarkan program ini adalah Daimler. Perusahaan otomotif produsen BMW ini memberi kesempatan pelajar untuk bekerja di situ, layaknya pekerja reguler selama periode 60 - 90 hari. Jenis pekerjaannya umumnya adalah ikut di lini produksi mereka, misalnya assembling.

Menurut mereka yang pernah bekerja di sini, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai 2000€ per bulan. Tentu cukup menggiurkan, namun sepadan juga dengan tuntutannya karena harus konsekwen bekerja tiap hari dan dirotasi dalam 3 shift.

Besar pasak daripada tiang?

Nah, sekarang mari kita hitung-hitungan. Anggap saja dalam kasus ini seseorang merencanakan untuk menempuh studi di salah satu perguruan tinggi di Jerman di regio yang relatif "mahal". Untuk biaya studi dia harus membayar Semesterbeiträge sebesar 100€, dan Studiengebühren sebesar 500€, ditambah buku dan diktat-diktat sebesar 100€; Total per semester menjadi 700€. Dikalikan dua (2 semester per tahun) menjadi 1.400€ per tahun.

Untuk biaya hidup, sekuat-kuatnya dia mengencangkan ikat pinggang, dibutuhkan 700€ per bulan. Dikalikan duabelas menjadi 8.400€ per tahun. Sehingga total general biaya studi dan biaya hidup menjadi 9.800€ per tahun, dibulatkan menjadi 10.000€ (anggap 200€ dihabiskan untuk jalan-jalan pada saat libur atau biaya tiket nonton Bundesliga)

Sekarang, berapa penghasilan yang bisa dia peroleh selama satu tahun itu, jika dia ingin membiayai pendidikannya dengan bekerja?

Misalkan dia merencanakan bekerja sebagai Produktionshelfer di salah satu industri makanan ternak (salah satu peluang kerja yang paling optimis untuk diraih) setiap Sabtu dan Minggu, dengan gaji 7€ per jam. Memang dalam setahun ada 52 minggu, yang berarti 104 hari kerja, namun keterbatasan ijin kerja di visa memaksanya untuk  hanya bekerja 90 hari per tahun.

Rata-rata jam kerja di industri adalah 7,5 jam per hari, maka 7,5 jam x 7€ per jam = 52,5€ per hari. Dikalikan 90 hari per tahun, total peluang penghasilannya menjadi 4.725€ per tahun.

Kalau dia sedikit lebih beruntung mendapat kesempatan Ferienjob, peluang penghasilannya bisa lebih tinggi, katakanlah 6.000€ per tahun.

So? Jelas sekali bahwa biaya studi yang 10.000€ per bulan itu tidak bisa dicukupi melalui kerja sambilan. Tapi jangan putus asa, judi buntut di Jerman adalah legal. Toto Lotto, judi buntut yang terkenal menawarkan hadiah utama sampai 5 juta € lho! ;)

Ya, begitulah realita yang dihadapi. Memang jer basuki mawa bea.

Selamat berjuang!

———————————–

Beberapa tautan yang selaras:

Five Good Reason for Studying in Germany (Leaflet by DAAD)

Opportunity for Vocational Jobs at Daimler

Ph.D Opportunity at Research Centre Karlsruhe/FZK (contact person)

Arbeit Agentur: Job Agency in Germany (seite auf Deutsch)

Cerpen: Penantian

January 2nd, 2008 by bona-amanitogar

Hari ini langit cerah. Ini hari pertama perjalanan wisataku di tempat ini. Aku bergegas berangkat keluar dari hotelku menuju sungai ini. Aku begitu menikmati nyanyian camar yang beterbangan di atas perahu-perahu yang ditambatkan di dermaga dan mengabadikannya dalam bidikan blitz kameraku. Tapi sekarang langit tiba-tiba gelap. Kepulan awan membubung di atas kepalaku, seolah mengusirku pergi dari keteduhan alam ini.

Aku mempercepat bidikan kamera, menyorot apa saja yang kiranya masih dapat kutangkap selama sinar mentari masih mengintip di balik awan. Kulihat orang-orang yang tadi bersamaku di tepian sungai ini mulai sibuk berbenah. Opa-oma yang tadi duduk di bangku taman kini bersiap dengan tongkat dan payungnya. Perempuan paruh baya yang tadi sibuk membaca mulai melipat bukunya ke dalam tas, dan dengan sigap melepaskan anjingnya dari ikatan untuk beranjak dari situ. Tinggal sepasang muda-mudi yang masih asyik berpelukan, saling memberi kehangatan di tengah gigitan angin musim dingin ini.

Sebutir salju setipis kapas jatuh di atas rambutku, langsung mencair meninggalkan rasa dingin yang alang-kepalang. Orang-orang mulai berlarian, sementara mataku masih sibuk mencari sudut-sudut artistik lain yang masih mungkin kuabadikan. Beberapa saat kemudian butir-butir lain tanpa ampun menghujam di mukaku. Aku menyerah, lalu berlari ke salah satu emperan bangunan di seberang jalan pinggiran sungai itu.

Awan menghitam dan hembusan angin menusuk ke sumsum tulang. Telapak tanganku mulai kaku, dan lutut gemetar. Aku tak henti-hentinya mengumpat dalam hati, antara mengutuki turunnya salju ini dan memarahi diriku sendiri karena tidak siap dengan cuaca seperti ini. Tapi di tengah derai dan gemertak gigi, terdengar suara asing menyibak telingaku

"Sehr kalt?"

Aku menoleh, dan aku lihat seorang pria bermantel hitam menyapaku.

"Ja. Winter ist zu kalt und zu lang" balasku berbasa-basi.

"Trinkst du Kafee?" tanyanya lagi

"Eigentlich ja, aber.." jawabku sekenanya.

Orang itu langsung beranjak dari tempatnya dan menuju mesin pembuat kopi. Dari situ dibawanya dua cangkir cappuccino. Disodorkannya satu buatku dan aku terima dengan senang hati. Sembari menyeruput cappuccino itu, aku memperhatikan orang itu. Badannya kuyu dan matanya sayu seolah penuh rindu. Kami menghabiskan minuman itu tanpa suara.

Ketika melihat cangkirku telah kosong dan aku menunjukkan gelagat mau beranjak, dia malah menawarkan mantelnya kepadaku. "Bawalah" ujarnya, "Kembalikan lagi padaku jika kau sempat"

"Bagaimana aku bisa mengembalikannya padamu?" tanyaku.

Dia hanya menunjuk salah satu kapal yang ditambat di dermaga sungai itu, tanpa bicara.

"O, ya?" tanyaku seolah tak percaya "Kau tinggal di situ?"

"Sebenarnya rumahku ada di suatu tempat. Tapi itu tidak penting. Jika kau mencari aku, cari saja di situ." tegasnya lagi sambil menunjuk ke kapal itu.

"Oh.. apa yang kau lakukan di tempat ini?"

"Mengunggu"

"Menunggu? Menunggu apa?"

"Menunggu seseorang. Dia adalah sahabatku." ujarnya lirih. Matanya menyorot tajam menembus kabut salju di hadapannya. "Dia pernah berjanji akan menemuiku di tempat ini."

"Sudah berapa lama kau menunggu?"

"Entahlah, mungkin 10, 11 atau 12 tahun.. aku lupa."

"Sedemikian lama? Kau yakin, dia akan datang?"

"Mengapa tidak? Bukankah dia sudah berjanji?"

Aku bingung. Tak tau harus menjawab apa, dan tak tau harus berbuat apa. Tapi yang jelas aku sedikit takut berlama-lama dekat dengan orang itu. Jangan-jangan ada yang kurang beres. Aku ingin segera pergi. Segera aku pakai mantel yang diberikannya itu, aku kemasi barang-barangku. "Besok sore mantelmu aku kembalikan. Aku berjanji. Terima kasih sebelumnya!"  ujarku lalu pamit meninggalkannya.

***

Hari ini langit cerah. Ini hari kedua perjalanan wisataku di tempat ini. Aku bergegas meninggalkan hotelku untuk kembali berburu objek-objek menarik di sudut-sudut kota ini. Tak lupa aku bawa mantel yang kemarin dipinjamkan oleh pria misterius di tepi sungai itu.

Dari atas jembatan di tengah sungai itu aku mengamati ke dermaga. Persis seperti yang dikatakannya kemarin, pria itu berada di atas kapal yang ditunjuknya. Langit tiba-tiba berubah gelap dan awan hitam bergerak cepat. Aku urungkan niatku mendekatinya. Aku amat-amati dari jauh.

Entah apa yang tiba-tiba mengisi pikiranku, aku mendadak histeris. Aku sibakkan mantel itu sekuat tenaga hingga robek menjadi dua bagian. Belum puas dengan itu aku cabik-cabik mantel itu menjadi helai-helai kecil lalu dari atas jembatan kulemparkan ke sungai dan mengambang di permukaan air.

Tiba-tiba aku merasa salju tipis jatuh di atas rambutku. Mencair dan meninggalkan rasa dingin yang alang-kepalang. Aku lalu bergegas lari dan pulang.

***

Hari ini langit cerah. Ini hari ketiga perjalanan wisataku di tempat ini. Aku bergegas meninggalkan hotelku untuk mendatangi pria misterius itu. Aku merasa perlu meminta maaf kepadanya, karena telah merusak mantelnya, dan terlebih karena telah mengingkari janjiku kepadanya.

Namun kali ini dia sudah tidak ada lagi di tempat itu.

Tiba-tiba aku merasa salju tipis jatuh di atas rambutku…

***

Hamburg, 2 Januari 2008

000_0007_2

===========================

Senarai Jerman - Indonesia :

 Sehr kalt? = Dingin sekali kah?

Ja. Winter ist zu kalt und zu lang = Ya. Musim dingin terlalu dingin dan terlalu lama

Trinkst du Kafee? = Mau minum kopi?

Eigentlich ja, aber.. = Sebenarnya iya, tapi..

Reflexi Tutup Tahun

December 30th, 2007 by bona-amanitogar

Tiap kali tiba di penghujung tahun, orang akan disadarkan oleh kenyataan betapa cepatnya waktu itu berlalu. Baru kemarin rasanya tahun ini dimulai, kini kalender usang itu sudah harus diganti. Setahun berlalu meninggalkan berbagai pengalaman yang terhampar dalam perjalanan waktu. Sedih dan gembira berbaur jadi satu.

Dalam perjalanan itu, tiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Ada masa sulit dalam pendidikan, karier, rumah tangga, kesehatan, percintaan atau kehidupan pribadi lainnya. Tentu semua setuju, bahwa masa-masa sulit ini bukan keadaan yang diharapkan. Malah orang sering atau bahkan selalu berdoa agar dihindarkan dari segala bentuk kesulitan dan kesedihan. Tapi sepandai-pandai kita menghindar, kesulitan dan kesedihan itu tetap akan datang menghujam raga.

Maka sudah sepantasnya jika kita memperlengkapi diri dengan keikhlasan dan penyerahan diri, agar kita mampu menerima kenyataan jika kesulitan dan kesedihan datang menghampiri. Syukur-syukur bisa tersenyum, meskipun sakit rasa di badan.

Tapi jangan pernah lupa juga bahwa dalam hempasan dan deraan semacam ini, ada seseorang yang amat berguna, yang kehadirannya adalah seumpama oase di padang gurun. Dia mampu menghalau segala duka, dan menghadirkan sebuah asa. Orang ini bernama sahabat.

Memang tidak semua sahabat fasih memberi nasehat. Tetapi dengan kesediaannya untuk mendengar dan
sinaran mata yang berisi empati, sahabat telah menjadi permata batin yang amat berguna dalam keadaan-keadaan
seperti ini. Sahabat sejati adalah dia yang mendengar apa yang tidak dikatakan, dia yang memberi tanpa harus diminta.

Oleh karena itu di penghujung tahun ini pantaslah kita tanya diri kita sendiri: sejauh mana aku sudah menjadi sahabat sejati?

————————————-
Every book has the last chapter
Every chapter has the last word
Only true friend lasts forever

Selamat tutup tahun!

Cerpen: Bintang Betlehem

December 24th, 2007 by bona-amanitogar

Cerpen ini aku tulis buat semua teman-temanku yang sedang merayakan Natal: di Jakarta, Surabaya, Malang, Bandung, Jogja, Jayapura, Semarang, Abu Dhabi, Sydney, Karlsruhe, Hamburg, anywhere.

Selamat menikmati, dan Selamat Natal!

=================================

"Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru
dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang
untuk menyembah Dia."

Nirwan menutup Alkitabnya begitu selesai membaca kutipan naskah injil Matius itu. Dia enggan menyelesaikan seluruh perikop, karena sudah tau cerita itu akan diteruskan ke kisah tentang 3 orang majus. Cerita yang sudah berulang-ulang didengarnya.

Memang Nirwan tidak terlalu rajin membaca Alkitab. Kali ini pun sebenarnya dia membuka Alkitab cuma untuk menghabiskan waktu sebelum berangkat misa malam natal. Sekedar untuk mendapat greget-nya, demikian pikir Nirwan ketika membuka bab-bab kisah kelahiran Yesus itu.

Waktu kecil dulu kisah-kisah natal itu - terutama tentang orang majus - sering dijadikan dongeng sebelum tidur oleh ibunya. Dan sudah pernah juga diperankannya dalam drama natal semasa dia masih bocah ingusan.

Tapi Nirwan kini adalah pemuda mapan dan intelek. Dia lulusan universitas ternama  yang sekarang menjadi eksekutif muda di metropolitan. Dia tidak lagi suka cerita dongeng. Dia telah menjadi seorang pragmatis. Nirwan lalu mulai mempertanyakan ikhwal kesejatian Bintang Betlehem. Apakah kisah itu sungguh nyata, ataukah hanya romantisme belaka.

Dari jendela kamarnya, dia menatap ke langit malam. Tatapannya itu dibalas oleh kedipan mata bintang-bintang, lalu bulan pun tersenyum.

"Apa yang menggelisahkanmu, Nirwan?" Bulan menyapa dengan suara selembut angin.

Nirwan tersipu sejenak. Namun ia mencoba menguasai dirinya dan menjawab sapaan bulan itu.

"Bulan, apakah bintang Betlehem itu benar ada?"

Bulan tersenyum lagi, kali ini senyuman Bulan terlihat genit.

"Menurutmu?" Bulan balik bertanya

"Aku yang bertanya padamu, Bulan!" gugat Nirwan, "Tapi baiklah, dulu aku percaya bahwa betul itu adalah bintang. Bintang yang bergerak menuntun ketiga orang majus itu menuju kandang Betlehem. Tapi itu dulu. Waktu aku masih kecil. Sebelum aku belajar astronomi. Kini aku tau, bahwa bintang itu diam di tempat. Tidak pernah ada bintang yang bergerak. Mereka itu statis. Tidak seperti kau, Bulan! Jadi, tidak ada itu yang namanya bintang Betlehem!". Emosi Nirwan mulai tersulut.

"Lalu, kau anggap apa orang-orang majus itu? Mereka itu adalah para pakar pada jamannya. Orang-orang bahkan menyebut mereka orang bijak dari timur. Kau menertawai mereka, seolah-olah mereka itu lebih bodoh dari dirimu?"

"Aku tidak bermaksud itu. Aku cuma ingin tau, apakah bintang Betlehem itu sungguh ada. Itu saja. Jangan-jangan itu hanya sejenis meteor, atau komet, atau konjungsi planet-planet di tata surya, atau supernova: ledakan bintang, yang secara kebetulan terjadi pada saat itu."

"Nirwan, bintang Betlehem bukan meteor, komet ataupun supernova. Meteor, komet dan supernova itu hanya terjadi sekali. Tapi dia ini bintang. Dia selalu ada."

"Selalu ada? Apa maksudmu, Bulan?"

"Kau mungkin perlu merasakan menjadi bintang, agar kau bisa memahami. Kau mau mencoba?"

Nirwan belum sempat menjawab ketika pelan-pelan ia merasa tubuhnya yang gemuk menjadi mengempis. Tanpa rasa nyeri dan rasa sakit, kini tubuhnya menjadi seperseribu aslinya. Kulitnya yang tadinya coklat kehitaman, sekarang berubah menjadi pendaran kuning keemasan. Dan dalam sekian detik badannya berubah menjadi bersudut-sudut. Dia kini sungguh berubah menjadi sebuah bintang.

Akan tetapi Nirwan bukanlah bintang yang menggantung di angkasa. Dia cuma bintang yang teronggok di rak sebuah hypermarket dalam "Christmas Big Sale" bersama ornamen-ornamen natal lainnnya.

Lama Nirwan berjejal di situ, hingga akhirnya beberapa sosok manusia datang mendekat. Sepertinya rombongan anak-anak muda. Ada empat atau lima orang bergerombol di sekitar Nirwan.

"Eh, liat tuh.. ada bintang, duh lutuna.. " kata seorang.

"Iye.. lo ambil deh. Bagus tau.. " sahut seorang lainnya.

Hanya percakapan itu yang sempat didengar oleh Nirwan, setelah itu ia merasa dirinya dilemparkan ke keranjang belanjaan, sesak berimpitan. Gerah dan sumpek. Nirwan ingin protes. Tapi apa daya, dia kini tak mampu bersuara.

Selanjutnya dia telah bertengger di pucuk sebuah pohon cemara plastik. Sedikit di bawahnya tergantung bola-bola plastik warna warni, lonceng dan gambar malaikat meniup nafiri, yang tentu saja semuanya terbuat dari plastik. Kini Nirwan menjadi hiasan pohon natal. Anak-anak muda tadi telah membelinya untuk meramaikan acara yang mereka sebut sebagai pesta natal.

Dentum musik yang hingar bingar mengiringi pesta itu. Dari pucuk pohon natal itu Nirwan dapat melihat jelas ulah mereka. Semalam-malaman mereka berdansa dansi, sementara lain menenggak "air kata-kata" dan di sudut ruangan, ya ampun.. ada yang nyimeng.

Menjelang pagi mereka semakin liar. Dari kamar mandi terdengar suara orang muntah-muntah dan siraman air. Orang-orang yang berdansa-dansi di sekitar pohon natal di mana Nirwan bertengger kini mulai gontai, mukanya pucat dan matanya merah. Sementara dari sudut ruangan lain terdengar suara orang bertengkar.

Kemudian Nirwan melihat seseorang berjalan sempoyongan mendekat ke pohon natal. Sepertinya orang ini berjalan tanpa sadar. Nirwan mulai cemas. Apa gerangan yang akan dilakukannya. Tiba-tiba orang itu berteriak-teriak seperti kesurupan. Digoncang-goncangkannya pohon natal itu. Ornamen-ornamen itu satu per satu mulai lepas, dimulai dari daun cemara, malaikat , bola-bola, lonceng. Semua!

Nirwan semakin ketakutan. Kini tinggal dia satu-satunya hiasan di pohon natal yang sudah botak karena semua daunnya telah rontok akibat ulah orang mabuk tadi. Bak kesurupan, orang itu lalu mencabik-cabik ranting-rantingnya menjadi potongan kecil-kecil. Nirwan perpegangan erat pada pucuk pohon itu dengan perasaan amat takut.

Orang-orang ketakutan. Tak satupun berani mendekat apalagi mencegah perbuatannya. Mulut mereka semua terkatup dan berdiri gemetaran di sudut-sudut ruang. Akhirnya orang mabuk itu mencabut pohon itu dari tempatnya berpijak, dan dengan satu lontaran keras : wuss… ! Pohon itu dilemparkannya ke luar dari pintu.

Tidak kuat berpegangan, akhirnya Nirwan yang malang pun terlepas dari pucuk pohon itu. Dia terjatuh dan melenting-lenting. Terbanting ke lantai, lalu memantul  dan mengenai pagar, jatuh ke aspal jalanan memantul lagi, dan pluk!!

Nirwan terlempar persis ke tempat sampah tetangga sebelah. Tepat di atas gundukan yang terdiri dari nasi basi, tutup botol, kulit durian, kaleng susu, sobekan buku renungan harian dan kondom bekas.

Mentari mulai memancarkan sinarnya pagi itu. Kemilau sinar mentari pagi memantul keemasan dari tubuh Nirwan. Lalu seorang bocah memungutnya dari tempat sampah itu. Dia adalah anak dari pemilik rumah mewah itu.

Di raut wajah bocah itu tergambar rasa penasaran dan sedikit rasa senang. Mulai timbul sedikit kebahagiaan di hati Nirwan. Setidaknya ini bisa menghiburnya dari perlakuan kasar orang tadi. Tapi seketika itu juga ibu bocah itu melihatnya, dan dibungkus oleh gengsinya ibu itu menghardik anaknya:

"Duh sayang mama kok mainan sampah? Buang ya sayang.. gak usah main yang kayak gituan. Nanti deh ikut mama ke mal. Mama beliin kamu mainan yang bagus. Yang ini kan sampah, nanti kamu cacingan. Buang ya…"

Plak!! Nirwan terlempar kembali ke gundukan sampah tadi. Hati Nirwan tersayat-sayat. Bintang yang cemerlang itu dianggap sampah, dihina, direndahkan bahkan disetarakan dengan nasi basi dan barang-barang busuk lainnya.

Nirwan mencari cara untuk dapat lari dari lingkungan najis itu, tapi sia-sia. Dia tak bisa bergerak. Sungguh dia ingin sekali menangis pada saat itu, tapi lagi-lagi dia tidak bisa.

Beberapa saat kemudian sebuah tangan legam meraih Nirwan. Tangan itu mengangkat Nirwan keluar dari tempat sampah itu, menimang-nimangnya sambil membelai membersihkan kotoran dan debu yang melekat. Telapaknya kasar dengan urat-urat nadi menonjol. Tapi dari denyut nadinya Nirwan dapat merasakan betapa orang itu dipenuhi sukacita yang teramat sangat.

Orang itu memperhatikan Nirwan, seolah-olah baru saja menemukan mutiara yang telah lama hilang. Kemudian menggosok-gosok Nirwan ke bajunya yang kumal, lalu sekali-sekali diarahkannya menantang matahari sambil menikmati kemilau yang terpancar.

Ketika Nirwan beradu pandang dengan wajah orang itu, tahulah ia bahwa orang itu ternyata adalah seorang pemulung. Seorang gelandangan. Bajunya kumal, rambut awut-awutan, matanya sayu, wajah penuh debu dan gigi kotor menyeringai.

"Oh.. akhirnya aku menemukannya!" gumamnya. Ia lalu bergegas menuju satu arah yang tampaknya ia begitu yakin. Seolah-olah ada seseorang di ujung jalan sana yang tengah mengharapkannya.

Nirwan bingung. Ia sama sekali tak mengerti arah pembicaraan orang itu. Antara rasa cemas dan penasaran, ia ingin sekali bertanya mau ke mana gerangan ia akan dibawa. Tapi dia tidak bisa. Maka Nirwan hanya diam dalam genggaman orang itu.

Langkahnya ternyata berhenti di depan sebuah rumah kardus beratap plastik. Ia menyingkap tirai kumal penutup rumah kardus itu. Tiga pasang sorot mata manusia menyongsongnya. Sorotan mata milik seorang lelaki dan perempuan, serta satu lagi milik seorang balita yang sedang terbaring lemah. Mata anak itu sayu, tubuhnya lemah dan membiru. Sepertinya anak itu sedang sakit.

"Ada apa pagi-pagi begini kau datang, Gaspar?" tanya lelaki di rumah kardus itu. Rupanya orang yang memungut Nirwan dari tempat sampah itu bernama Gaspar.

"Ucup, aku datang untuk Mahdi, anakmu. Semalam aku tak bisa tidur karena terbayang dia yang kemarin kejang-kejang dan mengigau ingin bintang. Pagi ini dalam perjalananku aku menemukan sebuah bintang yang berkilau. Langsung aku teringat pada Mahdi dan menghentikan pekerjaanku hari ini."

Perlahan Gaspar mendekati Mahdi. "Ini Nak, ada bintang" kata Gaspar sambil mengulurkan Nirwan dalam genggaman tangannya ke hadapan Mahdi. Si kecil Mahdi berumur 3 tahun yang sedang sakit itu mulai mengangkat tubuh dan tersenyum. Senyuman tersimpul di wajahnya yang merupakan pantulan cermin gambaran hatinya.

"Ini Nak" kata Gaspar sekali lagi. Mahdi semakin girang. Kini bukan cuma senyum yang terlukis di wajahnya. Matanya kini bersinar ketika tangannya meraih Nirwan si bintang kecil itu.

Nirwan terharu melihat adegan itu. Jiwanya tergelitik perasaan cinta yang tiada tara. Dia merasa dirinya sungguh bermakna, meski berada di tengah-tengah para tuna wisma. Berbagai rasa mengembang dalam dirinya seiring mengembangnya keceriaan di wajah Mahdi. Dia kini telah menjadi sumber keriangan manusia kanak-kanak yang lugu. Kesembuhan satu jiwa.

Nirwan merasa makin bergairah manakala Mahdi kegirangan mempermainkan dirinya. Kegairahan yang belum pernah dirasakan sepanjang umur hidup Nirwan. Kini di lubuk hatinya terbersit suatu penantian. Penantian menuju suatu klimaks rahasia yang setara jika diibaratkan sebagai suatu persalinan baru.

Tiba-tiba,

Drriiiiinggg!!!

Suara alarm mengejutkan Nirwan. Oh, dia tersadar dari lamunannya. Diliriknya jam dinding. Dia harus pergi. Beberapa menit lagi dia bertugas memimpin paduan suara di gerejanya untuk misa malam natal.

Sejenak Nirwan menatap lagi ke langit malam dari jendela kamarnya. Bulan masih tetap tersenyum dan bintang-bintang mengedipkan matanya. Namun kini Nirwan melihat ada satu kilau bintang yang melebihi kilau selaksa bintang lain yang bertengger di awang-awang. Bintang cemerlang. Secemerlang dirinya. Secemerlang bintang Betlehem.

****

Karlsruhe, 24 Desember 2007

We don’t see things as they are, we see things as we are.

 

Tudo Bem!

December 6th, 2007 by bona-amanitogar

Como é que vai?

Tudo bem, obrigado. E você?

Beleza!

Muito prazer, meu amigo.

Igualmente.

==============================

Hehehe.. itu adalah sepotong percakapan dalam bahasa Portugis. Yo’i man!, hari ini genap 1 bulan sudah aku berkenalan dengan bahasa ini. Iseng aja kok. Gak ada tuntutan dan gak ada target.

Idenya sebenarnya dimulai dari celotehan adikku sayang. Dia ngomporin aku. Katanya aku berbakat belajar bahasa. ‘Trus aku jadi mikir? Apa iya.. (sambil rada GR juga seh). Nah daripada GR-nya kelamaan, mendingan aku tindak-lanjutin aja. Aku daftar salah satu program bahasa di Sprachenzentrum (=pusat bahasa) Uni-Karlsruhe.

Ada banyak sih bahasa yang ditawarin di situ. Ada Prancis, Spanyol, Rusia, Arab, Cina, Jepang, Belanda, dll. ‘Trus sempat bingung, mau pilih mana. Biar jangan kelamaan mending mainin kancing baju aja. Eh, jatohnya ke Portugis. Gak peduli ah, daftar aja udah. :)

Nah, giliran mulai kursus, aku yang kelimpungan. Ternyata kursusnya pake bahasa pengantar Jerman. Abis gitu yang belajar juga Jerman totok semua. Busyet dah! Begitu mulai, sama gurunya semua orang disuruh jelasin motivasi masing-masing buat belajar bahasa Portugis. Gimana gak bingung coba? Gak mungkinlah aku bilang motivasinya karena dapat dari kancing baju, gila aja! Terpaksa dalam waktu sekian detik ngarang-ngarang.

Ich komme aus Indonesien. In Indonesien haben wir eine Nachbarland, die Öst-Timor heißt. Dort spricht man auch auf Portugiesisch, und deshalb hätte ich gern, Portugieschisch zu lernen. Wenn ich auf Portugiesisch sprechen kann, würde ich nicht in Öst-Timor verloren gehen.*)

"Sukses!" teriakku dalam hati, begitu giliranku selesai. Bisa juga nih orang aku kadalin. :) Ya namanya kepepet.. alasan apa lagi coba yang lebih logis daripada itu.

Nah singkatnya, sejak saat itu aku harus berjuang menangkap dua bahasa asing sekaligus dalam satu paket. Ditambah lagi, buku teksnya juga voll-Deutsch, ya sudah - lengkaplah penderitaan. Tapi, lama-lama aku juga jadi terbiasa. Asyik juga sih..

Ternyata belajar bahasa Portugis itu gak terlalu susah. Ya memang tetap aja ada masalah klasik - sebagaimana bahasa-bahasa Eropa lainnya (selain kosa kata baru):

  • kata kerja yang akhirannya bervariasi, tergantung subjek. abis gitu harus juga ngapalin kata kerja tak beraturan
  • kata benda ada maskulin ada feminim
  • ada "to be". Dalam bahasa Ingris atau Jerman mah masih mending, "to be" (atau "sein") cuma ada satu jenis, di Portugis ada 2: ser dan estar
  • trus ada lagi bunyi-bunyi nasal yang susah diucapkan: manhã, alemão, dll

Tapi sowieso, asyik deh pokoknya. Kadang-kadang lucu juga kalo ketemu kata-kata yang mirip bahasa Indonesia, contohnya:
duas = dua
sapatos = sepatu
escola = sekolah
limão = jeruk (jeruk kan disebut juga limau)

Terus, pernah dengar gak di Larantuka (Flores, NTT) ada tradisi "Semana Santa"? Itu ritualnya orang Katolik di sana, kalo gak salah pas hari Jumat agung atau apa gitu. Ternyata dalam bahasa Portugis, semana itu artinya pekan, dan santa artinya suci. Jadi semana santa = pekan suci. Dari situ bisa dibayangin kalo tradisi itu sudah dikembangkan di sana sejak jaman Portugis.

So, segitu dulu ya cerita-ceritanya soal belajar bahasa Portugis. Meski Indonesia gak ada hubungan diplomatik dengan Portugal, gak pa-pa kan belajar bahasanya? Makasih ya dek buat idenya.

Tudo de bom pra você! Até mais tarde!

—————————–

*) I come from Indonesia. We have a neighboring country: East Timor. People there also speak Portuguese, and that’s why I want to learn Portuguese. With this language, I believe that I won’t get lost anytime I go there.