Getting Burnt in a Flame (5)
Sekarang tibalah waktuku untuk memulai thesis. Nona Jorjevik membawa secarik kertas yang ditandatangani oleh Pak Zarzalis, berisi penugasan resmi dari universitas tentang thema yang harus aku kerjakan, berikut output-output yang diinginkan. Memang begitulah di sini. Untuk memulai thesis atau Diplomsarbeit, semua deskripsi tugas dan kerangka waktu pengerjaan tertulis jelas hitam di atas putih.
Eksperimen pertama disepakati tanggal 16 April 2007. Aku pun datang tepat pada waktu yang dijanjikan, jam 8 pagi. Di situlah aku pertama kali mengalami secara utuh seperti apa jalannya percobaan, yang selama ini hanya aku lihat sebagian-sebagian saat mengikuti percobaan yang dilakukan oleh Peter.
Rangkaian operasi itu dimulai dengan start up, yakni menyalakan kompresor yang terletak di ruang bawah tanah, lalu membuka katup gas, kemudian menyalakan exhaust gas analyser, setelah itu mengaktifkan sistem kontrol dengan program LabVIEW. Setelah itu sistem dibiarkan stabil kira-kira setengah jam. Setelah sistem stabil, Nona Jorjevik akan datang untuk melakukan ignition.
Proses Ignition cukup berbahaya, karena memungkinkan terjadinya ledakan apabila ada parameter tertentu yang kurang tepat. Itu sebabnya Nona Jorjevik tidak mau ambil resiko, dan selalu ada pada saat itu. Proses ini berlangsung kira-kira 30 menit. Setelah itu pekerjaan rutin pun dimulai: pengamatan stabilisiasi nyala dan tingkat emisi gas buang.
Proses pengamatan ini sungguh membosankan. Aku harus terpaku di depan kontrol panel untuk melihat kondisi nyala yang ditampilkan dalam bentuk temperature profile. Setiap 2-3 menit sekali seluruh parameter dicatat, ada yang dengan cara menyimpan data di program, ada yang harus dicatat manual.
Karena pekerjaan ini berhubungan dengan api terbuka, maka fasilitas uji tidak bisa ditinggalkan. Bahkan untuk makan siang pun aku harus membawa bekal dan dimakan di sela-sela pengukuran. Kalau aku mau ke toilet, aku harus memanggil Nona Jorjevik untuk menggantikan tugasku sementara. Jadi betul-betul seperti di penjara.
Rutinitas seperti itulah yang aku lakukan berbulan-bulan. Maka sering kali di jam-jam tertentu saat aku sudah betul-betul lelah dan bosan, pikiranku melayang sendiri sampai lupa saat itu aku sedang berada di mana. Memang menyebalkan berada sendirian di antara pipa gas methana itu, belum lagi tabung-tabung gas bertekanan tinggi: N2, CO2, CO, O2, NOx yang semuanya mudah meledak. Tapi belakangan aku tau bahwa ada satu yang jauh lebih mudah meledak daripada itu semua, yaitu Nona Jorjevik.