Getting Burnt in a Flame (3)

Akhirnya dalam suatu kesempatan aku menyampaikan pada Pak Zarzalis bahwa aku jadi mengambil topik yang ditawarkannya itu untuk master thesis-ku, meski aku sama sekali tidak tau tepatnya seperti apa masalah yang harus diteliti. Saat itu juga beliau langsung merespon dengan membuat janji untuk mengantarkanku ke fasilitas test. Maksud beliau adalah supaya aku terlebih dahulu belajar tentang seluk-beluk fasilitas itu, sebelum periode thesisku dimulai.

Akhirnya pada hari yang dijanjikan aku diantarkan ke laboratorium yang dimaksud. Laboratorium itu berukuran kurang lebih 4×4 meter dipenuhi dengan tabung-tabung gas, pipa-pipa, valve dan sebuah ruang bakar besar di tengah-tengahnya. Di salah satu sudutnya ada seperangkat komputer. Di situ aku melihat seorang perempuan berambut pirang bermata coklat tajam dengan hidungnya yang luar biasa mancung. Aku mengenali perempuan itu. Dia pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah transport phenomena, salah satu mata kuliah tersulit yang pernah aku pelajari dalam hidupku, setidaknya sampai saat ini. Perempuan itu adalah Nona Jorjevik. Dia adalah peneliti muda berdarah Slavia. Jenius dan cantik! Suatu kombinasi yang membuat dunia ini semakin penuh dengan kesenjangan sosial.

Aku melihat Pak Zarzalis dan Nona Jorjevik berbicara sebentar. Entah apa yang mereka perbincangkan aku tak ambil pusing. Sampai akhirnya Pak Zarzalis mengatakan padaku, bahwa selanjutnya Nona Jorjevik lah yang akan memberi pengantar tentang cara kerja fasilitas test itu dan sekaligus menjelaskan secara detail apa saja topik yang akan aku teliti di situ. Aku mengangguk-angguk, sambil sesekali menjawab sekenanya dengan sedikit berbasa-basi. Lalu tak lama kemudian Pak Zarzalis pun pergi meninggalkan kami berdua.

Tanpa membuang waktu lama, Nona Jorjevik langsung memulai dengan menjelaskan secara garis besar topik penelitiannya. Gaya bicaranya cepat dan ringkas dengan aksen Slavia yang kental. Setauku dia ini juga mahir dalam berbahasa. Yang aku tau, dia bisa berbahasa Jerman, Inggris dan Yunani, disamping tentu saja bahasa Serbia sebagai bahasa ibu.

Meski dia sudah banyak berbicara, hanya sedikit yang bisa aku tangkap dari penjelasannya. Pada akhir penjelasannya dia mengatakan bahwa saat ini ada salah satu mahasiswa Diplom yang sedang melakukan penelitian juga di tempat itu. Lalu dia memperlihatkan padaku hari-hari mana saja si mahasiswa itu melakukan percobaan dan dia memintaku datang lagi pada hari dimana dia akan melakukan percobaan agar aku bisa melihat langsung prosesnya. Akhirnya, dia memberikan padaku beberapa kutipan jurnal di bidang yang ditelitinya itu sebagai bekal untuk dipelajari.

Leave a Reply