Getting Burnt in a Flame (2)
Terompet tahun baru dan letupan bunyi petasan menutup lembaran kalender usang 2007. Malam pergantian tahun itu aku lewatkan dengan sederhana di ruang kamarku sambil mencoreti carikan kertas usang di meja tulis, menuangkan segala carut-marut yang ada di benakku. Banyak hal yang melintas di pikiran, dan salah satunya adalah pertanyaan Pak Zarzalis itu: Wie finden Sie das Thema?
Ironis juga, dimana ketika orang-orang sibuk merumuskan resolusi tahun barunya, aku duduk sendirian di ruang gelap dengan mata menerawang dan pikiran kosong. Aku perhatikan jam, masih beberapa menit lagi menuju jam 12 malam. Aku bosan! Lalu kuputuskan untuk tidur saja.
Lampu kamar pun kupadamkan, tapi gorden kubiarkan terbuka. Dari jendela aku pandangi langit malam yang gelap tanpa bintang. Aku coba pejamkan mata, tapi ternyata tidak mudah untuk tidur dengan hingar bingar suara orang-orang di malam tahun baru itu.
Menjelang tengah malam suara terompet semakin keras. Dan tiba-tiba terdengar suara letupan yang keras sekali disertai sorak-sorai orang-orang. Kiranya detik-detik pergantian tahun sudah dilalui. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju jendela. Dari situ aku melihat warna-warni kilatan kembang api menghiasi langit malam. Percikan api itu begitu indah dalam berbagai konfigurasi.
Bukan pertama kali ini aku melihat kembang api. Tapi aneh bahwa kali ini aku begitu terpesona lebih dari biasanya. Saat itu aku rasa seperti ada sesuatu yang melonjak dalam batinku. Aku seperti melihat diriku di tengah-tengah pijaran bunga api. Eureka! Inilah jawaban yang aku tunggu-tunggu. Aku suka bermain-main dengan api. Dia menyenangkan. Dan menegangkan! Aku merasa saat itu juga mendapat resolusi tahun baru.
I love spark, glow, flash, flare.
I love flame.