Getting Burnt in a Flame (1)

Hari ini baru saja aku merampungkan rangkaian tugas akhirku dalam studi ini. Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan dengan sukses Thesis defense, sore tadi - ditemani oleh Suzan teman sekelasku - aku telah menjilid buku Master Thesis-ku yang berjudul “Flame Stabilization and Emissions of a SiSiC Porous Burner” untuk segera diserahkan ke universitas. Suatu tonggak penting dalam hidupku. Sesuatu yang dulu - sejujurnya - membayangkan pun aku tak berani.

Rangkaian panjang dan melelahkan (fisik dan mental) ini sebenarnya sudah dimulai dari penghujung tahun 2007 yang lalu. Saat itu di suatu perayaan natal di Engler-Bunte-Institut, aku duduk semeja dengan Pak Zarzalis, profesor di bidang Combustion Technology. Di sela-sela menikmati hidangan, beliau “menawarkan” sebuah proyek Masterarbeit di group riset yang dipimpinnya. Tawaran yang dapat ditafsirkan sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi merupakan kebanggaan bagiku dipercaya untuk berkolaborasi di grup riset yang bergengsi itu. Tapi di sisi lain, bidang ini sangat asing bagiku dan tentu menuntut kerja dan belajar yang extra keras.

Sejak saat itu kepalaku langsung dipenuhi dengan tanda tanya besar: apakah mungkin aku menerima tawaran (baca: tantangan) ini. Tapi, apakah etis kalau aku menolak kepercayaan pak profesor itu, apalagi beliau adalah kepala program (=Kajur) studiku ini. Heat Transfer, Transport Phenomena, Chemical Kinetics, Thermodynamics, dll adalah momok bagiku selama ini. Padahal di bidang Combustion Technology, mereka itu semua adalah makanan sehari-hari. Lalu, sanggupkah aku hidup berdampingan dengan mereka itu?

Memang di akhir percakapan Pak Zarzalis mengatakan, “Aber, was Sie wollen, it’s up to you…!” yang aku tanggapi dengan, “Ich will überlegen, please give me time to think about it.

“Ya, I’ll definetely think about it“, batinku sambil menikmati Glühwein dan Spekulatius

One Response to “Getting Burnt in a Flame (1)”

  1. indah Says:

    selamat…dan selamat datang kembali di negara kami…

Leave a Reply