Getting Burnt in a Flame (7) - habis
Sunday, September 28th, 200811 September 2008. Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tibalah. Slide presentasi sudah siap. Presentasi pun sudah beberapa kali pula aku latih, baik di rumah maupun di hadapan Nona Jorjevik yang dengan setia mendengarkan dan memberi masukan-masukan. Jas baru telah aku beli. Dan tidak lupa pula mencukur rambutku yang gondrong itu sehari sebelumnya, setelah 1 tahun penuh tidak tersentuh alat pangkas. Persiapan yang sempurna.
Presentasi dijadwalkan jam 4 sore. Beberapa jam sebelumnya aku membeli satu krat bir dan beberapa soft drink untuk hadirin, sebagaimana “adat” yang berlaku di sini. Setengah jam sebelumnya aku dan Nona Jorjevik sudah stand-by di ruangan untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar presentasi berjalan mulus.
Menjelang jam 4 orang-orang pun mulai berdatangan. Hadir di situ Pak Zarzalis dan Pak Schaub sebagai penguji. Lalu banyak pula peneliti-peneliti dari institut-institut yang berkaitan dengan combustion technology dan thermal process engineering. Lalu ada pula teman-teman sekelasku: Ben, Suzan dan Andy. Diikuti oleh mahasiswa baru, adik kelasku yang baru saja datang di Jerman. Dan yang paling penting bagiku adalah kehadiran teman-temanku dari komunitas Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI) Karlsruhe: Ardo, Vincent, Gita, Adeline, Jejes, dan Irene. Total kira-kira ada 30 orang yang hadir memenuhi ruangan itu.
Tepat jam 4, moderator pun berbicara, menandai dimulainya seminar. Langsung tegangan darahku naik tajam. Jelas ini bukan presentasi pertamaku. Tapi tetap saja rasa grogi itu tak bisa hilang. Namun semua itu segera hilang begitu moderator menyebut namaku dan mempersilahkan aku memulai presentasi. Bakat singa podium itu tiba-tiba muncul entah darimana datangnya, dan dengan lancar aku membeberkan slide demi slide presentasi itu tanpa halangan apapun. Selama lebih kurang 30 menit aku berbicara dengan menghabiskan 35 lembar slide. Sampai akhirnya pada slide terakhir aku mengucapkan “thank you for your attention”, diikuti dengan ketuk meja (di sini, seperti itulah gantinya tepuk tangan) para hadirin.
Tapi ternyata perjuangan belum berakhir di situ. Moderator telah membuka sesi tanya jawab, yang langsung dibuka oleh pertanyaan Pak Zarzalis. Dua pertanyaan beruntun dari beliau langsung kujawab taktis. Setelah itu muncul pertanyaan dari seorang peneliti Cina yang juga meneliti topik yang sama persis dengan yang aku geluti ini. Tidak kurang dari 5 pertanyaan diajukan olehnya, yang membuatku harus jungkir balik menjelaskan. Akhirnya sesi itu ditutup dengan pertanyaan dari Pak Schaub.
Ujian akhir itu memakan waktu kurang lebih 1 jam. Tepuk tangan hadirin menutup seluruh acara itu. Pak Zarzalis pun datang menyalamiku sambi mengatakan, “Sie sind jetzt fertig“. “Fast fertig” jawabku sambil melirik ke arah Nona Jorjevik yang tersenyum penuh arti.
Fast fertig! Hampir selesai. Karena saat itu - dan sampai detik ini pun - aku belum tau berapa nilai yang aku dapat. Hanya bisik-bisik dari Nona Jorjevik yang aku dengar, bahwa Pak Zarzalis berkomentar bahwa beliau puas dengan apa yang telah aku buat. “Er ist überhaupt zufrieden” begitu katanya.
Na, und? Kita lihat saja nanti setelah pak pos mengantarkan Masterurkunde itu ke rumahku di Bekasi. Karena besok pagi aku akan kembali. Kembali ke kampung halamanku, di tempat mana matahari tak pernah terlambat bersinar. Indonesia!