Kemarin, Kini dan Esok : Berani?
Diakui atau tidak, kerap kita menghendaki masa lalu terulang kembali. Alih-alih menjalani hari ini - apalagi memikirkan hari esok - kita lebih sering menginginkan hari kemarin. Masa lalu memang sering terasa jauh lebih berarti dibandingkan masa kini; apa lagi dibandingkan masa depan yang sungguh abstrak tak berbentuk.
Keinginan untuk kembali ke masa lalu itu bisa jadi disebabkan dua alasan yang berbeda. Satu: jika masa lalu itu manis, ingin rasanya mereguk kembali segala keindahan dan mengecap semua kenikmatannya. Dua: jika itu pahit, ingin supaya bisa merubahnya dan memperbaiki kesalahan, baik perbuatan maupun kelalaian.
Hidup dalam "kekinian" memang tidaklah mudah. Terlebih jika dihadapkan dengan realita yang muram dan bayangan masa depan yang suram. Maka jangan heran, banyak orang yang berprinsip "berani mati". Padahal sesunguhnya itu bukanlah prinsip keberanian sejati, karena dibaliknya tersembunyi suatu ketakutan menghadapi realita kehidupan. "Berani mati" karena "takut hidup".
Bagiku, keberanian yang sesungguhnya adalah keberanian menghadapi realita, apa pun bentuknya. Keberanian adalah suatu kualitas, sesuatu yang hanya dapat dialami, bukan wacana. Keberanian adalah sebuah sikap, sesatu yang hanya dapat dirasakan, bukan retorika. Dan dalam hal ini, aku berprinsip bahwa keberanian sejati adalah keberanian untuk hidup dan menghadapi apa pun yang terjadi pada hari ini, tanpa penyesalan akan hari kemarin atau kecemasan akan hari esok.
Seseorang pernah menulis sajak seperti ini:
Need no time machine
I don’t need it
Neither to change the past nor the futureNo regret… The past is good
No wonder… The future is great
As I don’t see my life is not my own again
As I live not for my own againTime machine…
I don’t need it
Even if it truly exists
The greatest and the best are preparedI knew that my way had never been that easy
I knew it…
But this is my path…
This is my life
Dan aku sependapat…
So, what bothers you?
Isn’t it today what yesterday we worried about tomorrow?
June 7th, 2008 at 7:17 pm
need no time machine…but i need ‘pintu ke mana saja’…
June 27th, 2008 at 7:37 am
katanya eyang buyut,… orang yang optimis menghadapi masa depan adalah orang yang mampu berdamai dengan masa lalu dan mensyukuri apa yang dilalui sekarang…..
July 6th, 2008 at 8:01 am
bener bangeeet…..
buat apa menyesali hidup,
gak akan merubah apa2
tanpa ada keberanian
untuk menjadi berani
menghadapi, menerima dan
menjalani kehidupan…
so let it flow…
biar aja ngaliiir…
September 8th, 2008 at 7:45 pm
yosep..
to be honest, setiap aku lagi sumpek..aku selalu pingin buka blog punya kamu. Dan aku selalu menemukan kata2 mu yg luar biasa…yg bikin aku jadi semangat lagi…
so aku setuju banget..need no time machine…buat apa mikirin kemarin yg jelas2 sudah ga bisa dirubah..juga buat apa susah2 mikirin besok yang belum tentu juga ada…
yosep…yang rajin bikin blog ya..miz u Sep..