Archive for June, 2008

Kemarin, Kini dan Esok : Berani?

Friday, June 6th, 2008

Diakui atau tidak, kerap kita menghendaki masa lalu terulang kembali. Alih-alih menjalani hari ini - apalagi memikirkan hari esok - kita lebih sering menginginkan hari kemarin. Masa lalu memang sering terasa jauh lebih berarti dibandingkan masa kini; apa lagi dibandingkan masa depan yang sungguh abstrak tak berbentuk.

Keinginan untuk kembali ke masa lalu itu bisa jadi disebabkan dua alasan yang berbeda. Satu: jika masa lalu itu manis, ingin rasanya mereguk kembali segala keindahan dan mengecap semua kenikmatannya. Dua: jika itu pahit, ingin supaya bisa merubahnya dan memperbaiki kesalahan, baik perbuatan maupun kelalaian.

Hidup dalam "kekinian" memang tidaklah mudah. Terlebih jika dihadapkan dengan realita yang muram dan bayangan masa depan yang suram. Maka jangan heran, banyak orang yang berprinsip "berani mati". Padahal sesunguhnya itu bukanlah prinsip keberanian sejati, karena dibaliknya tersembunyi suatu ketakutan menghadapi realita kehidupan. "Berani mati" karena "takut hidup".

Bagiku, keberanian yang sesungguhnya adalah keberanian menghadapi realita, apa pun bentuknya. Keberanian adalah suatu kualitas, sesuatu yang hanya dapat dialami, bukan wacana. Keberanian adalah sebuah sikap, sesatu yang hanya dapat dirasakan, bukan retorika. Dan dalam hal ini, aku berprinsip bahwa keberanian sejati adalah keberanian untuk hidup dan menghadapi apa pun yang terjadi pada hari ini, tanpa penyesalan akan hari kemarin atau kecemasan akan hari esok.

Seseorang pernah menulis sajak seperti ini:

Need no time machine
I don’t need it
Neither to change the past nor the future

No regret… The past is good
No wonder… The future is great
As I don’t see my life is not my own again
As I live not for my own again

Time machine…
I don’t need it
Even if it truly exists
The greatest and the best are prepared

I knew that my way had never been that easy
I knew it…
But this is my path…
This is my life


Dan aku sependapat…

So, what bothers you?
Isn’t it today what yesterday we worried about tomorrow?