Archive for January, 2008

Jelajah Karlsruhe (2) - Universitaet

Friday, January 25th, 2008

Universität Fridericiana zu Karlsruhe (Uni-Karlsruhe) adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kota Karlsruhe. Didirikan tahun 1825 sebagai politeknik, Uni Karlsruhe telah meretas jalan panjang dalam tradisi akademiknya.

Heinrich Hertz dan Karl Benz adalah sedikit diantara dertan nama besar lain di dunia sains yang pernah menjejakkan kaki di universitas ini. Kini tidak kurang dari 18.000 pelajar dari puluhan negara di seluruh dunia mengenyam pendidikan di  universitas yang menempati rangking teratas  perguruan tinggi di Jerman ini.

Selamat menikmati!


000_0010_2

Gothic

Pada umumnya gedung-gedung lama di Uni-Karlsruhe
dibangun dengan corak Gothic…


000_0007_3

Greek Revival

… tapi sebagian juga dibangun dengan corak Greek Revival.


 

000_0008Hertz

Tahun 1885 di sini Heinrich Hertz menjadi profesor,
di situ dia menemukan teori gelombang elektromagnetik.


000_0009_1Benz

Carl Benz dulu kuliah di teknik mesin, lulus tahun 1864.
Setelah nge-top, mendapat Dr. honorus causa di tahun 1914.

 

 



000_0005

Kabut

Gedung Studentenwerk diselimuti kabut pagi.

 


 

000_0011_1

Parkir (1)

Beberapa mobil sedang diparkir di pelataran…

 


000_0006

Parkir (2)

…tapi sepeda lebih populer di kalangan mahasiswa.

000_0002

Mensa

Makan siang di mensa: praktis meski tidak terlalu ekonomis

000_0013_1

Kelas berat

Uni Karlsuhe memang untuk orang serius kelas berat…

Dsc00096

Psikopat

.. tapi cocok juga bagi orang yang sedikit psikopat

Jelajah Karlsruhe (1) - Schloss

Wednesday, January 23rd, 2008

Sore ini aku merasa perlu sedikit angin segar. Oleh karena itu aku melangkahkan kakiku ke suatu tempat yang terletak tidak jauh dari tempatku. Tempat ini bernama Schloss.

Dalam bahasa Jerman, Schloss berarti puri. Sesuai dengan namanya, pada saat didirikan tahun 1770, tempat ini adalah kediaman para bangsawan. Berdiri tegak di jantung kota, di istana ini tersimpan segala kemegahan.

Dengan bangunan artistik  berlanggam baroque dan rokoko, Schloss berdiri di tengah-tengah taman yang terhampar luas di sekelilingnya, beserta jalan yang ditata sedemikian rupa sehingga menyerupai pancaran cahaya ke seluruh penjuru kota dengan istana sebagai mataharinya.

Kini Schloss tidak lagi berfungsi sebagai istana. Bangunannya telah dialihfungsikan sebagai museum, dan pekarangannya sebagai botanical garden. Namun bangunannya yang elegan dan hamparan taman yang teduh mempesona tetap menampilkan kemasyhuran dan tentu saja romantisme.

Berikut beberapa citra yang sempat aku rekam. Klik gambar supaya lebih jelas. Selamat menikmati!

 

000_0011

Elegan

Menara Schloss berdiri elegan.
Hangat penuh wibawa.

000_0018

Merpati

Sekawanan merpati bermain di halaman
menikmati keramahan alam

 

000_0015

Gerbang

Berdiri kokoh, gerbang yang memandu
menuju ke botanical garden.


000_0014

Bangku Kosong.

Hanya ada sepasang patung rusa di antara
deretan bangku kosong.


000_0019

Arcade

Arkade dengan topangan pilar kekar,
memanjakan pejalan kaki.


000_0016

Menikmati Senja

Seseorang lelaki di usia senja, duduk
menikmati senja kala hari.

000_0013

Memadu Kasih

Sepasang muda-mudi asyik memadu kasih
di balik rimbun pepohonan.

Sampah, Koin dan Hidup

Sunday, January 20th, 2008

Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan mengunjungi dua fasilitas pengolahan sampah kota (municipal solid waste - MSW). Yang pertama di Ludwigshafen dan yang kedua di Karlsruhe. Meski sama-sama mengolah sampah, dua fasilitas ini berbeda satu sama lain. Yang di Ludwigshafen mengolah sampah menjadi listrik (waste to electricity), sementara di Karlsruhe mengolah sampah menjadi biogas (waste to biogas).

Di antara beberapa teknik pengolahan sampah di Jerman, insenirasi (pembakaran) adalah teknik yang paling umum. Cara inilah yang digunakan di Ludwigshafen. Jadi di sini sampah organik kering dimasukkan ke suatu furnace yang biasanya berkapasitas 3000 m³, lalu dibakar di situ hingga mencapai suhu 1000 - 1200°C. Entalpi pembakaran ini lantas disalurkan ke suatu boiler untuk menguapkan air, hingga diperolehlah uap (steam) dengan suhu 400°C dan tekanan 40 bar. Uap ini dipakai untuk menggerakkan turbine uap (steam turbine) yang produk akhirnya adalah energi listrik. Sampah perkotaan dengan volume 180 ribu ton per tahun dapat mengandung thermal load sampai 100 MW. Dengan efisiensi konversi ke energi listrik, katakanlah 30% saja, 33 MW listrik bisa didapat. Potensial bukan?

Sedangkan yang di Karlsruhe, tekniknya adalah biological treatment. Di sini yang dijadikan bahan baku adalah sampah organik basah, seperti sampah dapur. Sampah-sampah itu digiling dalam suatu hydro-pulper sampai membentuk suspensi. Lalu dengan bantuan bakteri methanogenik, suspensi ini secara anaerobik dikonversi menjadi gas dalam bentuk methana dan karbon dioksida. Setelah melalui tahapan pemurnian dengan membuang gas karbon dioksida, biogas tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak atau dipakai untuk membuat uap untuk pemanas ruangan. Dari tiap ton sampah, tidak kurang 90 m³ biogas dapat dihasilkan.

Memang canggih cara mereka ini mengelola sampah. Bagaimana mengolah sampah bukan sekedar untuk menstabilisasi dan menghancurkan zat-zat toksik - berbahaya tapi juga mengambil manfaat lain seperti energi listrik, biogas, pupuk, dll. Menarik untuk diamati, dan tentu saja dicontoh :)

Namun demikian, ada hal lain lagi yang bagiku tak kalah menarik untuk diamati selama kunjunganku ke situ. Sebelum hydro-pulping ada proses pemilahan. Di sini material-material yang non-digestible dipisahkan dari material organik. Ya, meskipun di sini ada aturan untuk memilah-milah sampah dalam 3 tempat sampah yang berbeda (organik basah - recycleable - residue), tetap saja ada oknum yang melanggar aturan.

Dengan menggunakan cyclone, material-material non-digestible itu dipisahkan. Umumnya ini berupa plastik, pasir dan logam. Yang cukup mengagetkan adalah, dalam residue itu tiap-tiap hari ditemukan juga koin-koin. Umumnya pecahan sen euro, tapi kadang juga ada pecahan 1 dan 2€. Menurut keterangan pekerja di situ, dalam satu hari bisa ditemukan 10-20€ koin yang terbuang di situ. Tapi sayang sekali saat keluar dari cylone, koin-koin itu sudah rusak tak berbentuk. :(

Aku cuma bisa tersenyum dan menghela nafas. Jadi teringat salah satu quote:

"Life is just like a coin. You can spend it any way you wish. But you only spend it once"

Tapi kali ini mungkin ada quote baru:

"Life is just like a coin: valuable but some of us just don’t realize"

Kerja sambil Kuliah (di Jerman), Mungkinkah?

Saturday, January 5th, 2008

Seorang temanku beberapa waktu lalu menanyakan perihal biaya hidup dan peluang sumber-sumber finansial untuk membiayai studi di Jerman. Tidak diragukan bahwa pertanyaan ini kritikal sekali.

Pepatah Jawa  "jer basuki mawa bea" yang kurang lebih sepadan dengan ungkapan Inggris "no pain no gain" mengatakan bahwa untuk mencapai sesuatu dibutuhkan pengorbanan. Dan tentu kita semua setuju bahwa pengorbanan yang paling terukur adalah dalam bentuk uang. Ini tanpa bermaksud mengatakan bahwa uang adalah segala-galanya dan mengabaikan peranan pengorbanan yang lain.

Berapa budget bulanan studi di Jerman?

Budget bulanan yang perlu dipikirkan dalam hal ini adalah biaya studi dan biaya hidup. Biaya studi adalah biaya yang harus disetorkan ke penyelenggara pendidikan, dan biaya hidup adalah semua biaya yang diperlukan untuk mendukung kebutuhan sehari-hari, seperti tempat tinggal, makanan, transportasi, dan lain-lain.

Beberapa tahun yang lalu mungkin banyak perguruan tinggi di Jerman yang bebas biaya studi, namun kini tampaknya itu tidak banyak lagi. Saat ini perguruan-perguruan tinggi Jerman umumnya menarik biaya studi, yang  besarnya bervariasi tergantung beberapa faktor misalnya jenjang pendidikan yang ditempuh (Bachelor, Master atau Diplom) dan lokasi tempat perguruan tinggi berada. Namun untuk jenjang Doktorat (Ph.D), saat ini masih 100% bebas biaya.

Biaya pendidikan yang bisanya disebut "Semesterbeiträge" berkisar antara 100€ - 250€. Di samping itu di beberapa negara bagian terentu masih harus lagi ditambah dengan "Studiengebühren" yang untuk di Baden-Württemberg besarnya 500€ per semester. Ini belum lagi termasuk biaya materi perkuliahan seperti buku teks dan diktat.

Untuk beberapa program yang tailor-made (biasanya program Master), biaya pendidikan kadang sedikit berbeda. Biasanya besarannya dihitung per tahun, yang berkisar antara 5000€ - 8000€ per tahun.

Biaya hidup lebih besar lagi variasinya, tentu tergantung dari gaya hidup masing-masing individu dan lokasi di mana berada. Untuk gampangnya, biaya hidup bisa dibagi atas beberapa alokasi berikut:

  • Biaya akomodasi, mulai dari 200€ per bulan
  • Biaya asuransi (merupakan syarat mutlak), mulai 50€ per bulan
  • Biaya makan, mulai dari 250€ per bulan
  • Transportasi dan telekomunikasi

Untuk biaya transportasi, sebagai pelajar ada kesempatan untuk memiliki tiket langganan yang besarnya 100€ - 150€ per semester. Dengan tiket ini biasanya sudah bebas menggunakan fasilitas transport (trem dan bus) di kota setempat 24 jam sehari.

Biaya telekomunikasi juga sangat ditentukan oleh kebutuhan dan gaya hidup. Beberapa jaringan telepon seluler menawarkan biaya langganan sekitar 20€ per bulan, dengan fasilitas bebas menelepon ke telepon rumah (landline) di seluruh Jerman 24 jam sehari, plus ke nomor selular yang merupakan produknya. Sementara untuk telepon ke luar negeri (misal ke Indonesia), ada beberapa penyedia voip (voice over internet protocol) yang menawarkan harga mulai 1 sen per menit.

Namun secara umum, dengan gaya hidup normal seorang pelajar di Jerman membutuhkan sekitar 600€ - 800€ per bulan. Sebagai peraturan, seorang pelajar internasional diharuskan mempunyai deposit sebesar 7020€ per tahun akademik untuk bukti kecukupan finansial, yang biasanya diminta pada saat pengurusan visa studi.

Bagaimana cara membiayai studi?

Cara pertama (dan tentu paling dicari) adalah beasiswa. Mengenai hal ini sudah cukup banyak saya ulas peluang dan problematikanya dalam salah satu posting saya tahun lalu. Dengan memperoleh beasiswa, biasanya masalah biaya hidup sudah bukan pertanyaan lagi.

Namun demikian ada pula cara lain yang cukup populer di kalangan pelajar, yaitu bekerja paruh waktu yang dikenal sebagai "studentischen Jobs". Tapi sebagai pemegang paspor Indonesia (baca: yang bukan anggota uni-eropa), kesempatan kerja dibatasi sebesar maksimum 90 hari per tahun.

Kerja paruh waktu ini dapat dilakukan dalam beberapa cara. Cara termudah adalah menjadi scientific assistant (Hilsfkraft-Wissenschaft, atau disingkat HiWi). Peluang kerja HiWi biasanya ditawarkan oleh unversitas atau lembaga riset. Di sini pekerjaan yang dilakukan adalah membantu peneliti dalam melakukan tugas sehari-hari, seperti mengoperasikan alat di lab atau mengolah data-data experimen. Tapi juga terkadang dituntut untuk melakukan aktifitas ringan seperti menjilid lembar-lembar publikasi atau menyiapkan OHP atau beamer jika peneliti itu (biasanya profesor atau post-doc) hendak melakukan presentasi.

Penghasilan yang bisa diperoleh dengan cara ini berkisar 8 - 12€ per jam. Di sini pekerjaan dilakukan di hari kerja biasa. Untuk ini diperlukan manajemen waktu yang bagus agar tidak mengganggu aktivitas perkuliahan.

Kerja lain yang lebih konvensional adalah bekerja di industri, seperti pabrik, restoran atau konstruksi. Pekerjaan yang dilakukan di bidang ini adalah jenis Red-neck-jobs, seperti Produktionshelfer (pembantu produksi), Reinigungspersonal (pelayan kebersihan), Spüler (pencuci piring) atau Baustellenhelfer (pembantu konstruksi). Banyak biro tenaga kerja yang merekrut pelajar-pelajar untuk posisi itu. Dan memang mereka lebih senang merekrut pelajar, karena satu dan lain hal. Bahkan di beberapa tempat yang tingkat penganggurannya sangat rendah, dengan sedikit keberuntungan Anda bisa mendapat info lowongan semacam ini tertempel di halte bus atau stasiun kereta.

Penghasilan dengan cara ini memang sedikit lebih rendah dari cara pertama, yakni berkisar 6 - 9€ per jam. Namun di sini besar kemungkinan untuk bekerja hanya pada akhir pekan, sehingga lebih fleksibel dan tidak mengganggu jadwal kuliah.

Ada lagi cara lain yang tidak kalah populer, yakni Ferienjob. Ini adalah bekerja full time di perusahaan, yang dilakukan pada saat libur semester. Salah satu perusahaan yang secara reguler menawarkan program ini adalah Daimler. Perusahaan otomotif produsen BMW ini memberi kesempatan pelajar untuk bekerja di situ, layaknya pekerja reguler selama periode 60 - 90 hari. Jenis pekerjaannya umumnya adalah ikut di lini produksi mereka, misalnya assembling.

Menurut mereka yang pernah bekerja di sini, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai 2000€ per bulan. Tentu cukup menggiurkan, namun sepadan juga dengan tuntutannya karena harus konsekwen bekerja tiap hari dan dirotasi dalam 3 shift.

Besar pasak daripada tiang?

Nah, sekarang mari kita hitung-hitungan. Anggap saja dalam kasus ini seseorang merencanakan untuk menempuh studi di salah satu perguruan tinggi di Jerman di regio yang relatif "mahal". Untuk biaya studi dia harus membayar Semesterbeiträge sebesar 100€, dan Studiengebühren sebesar 500€, ditambah buku dan diktat-diktat sebesar 100€; Total per semester menjadi 700€. Dikalikan dua (2 semester per tahun) menjadi 1.400€ per tahun.

Untuk biaya hidup, sekuat-kuatnya dia mengencangkan ikat pinggang, dibutuhkan 700€ per bulan. Dikalikan duabelas menjadi 8.400€ per tahun. Sehingga total general biaya studi dan biaya hidup menjadi 9.800€ per tahun, dibulatkan menjadi 10.000€ (anggap 200€ dihabiskan untuk jalan-jalan pada saat libur atau biaya tiket nonton Bundesliga)

Sekarang, berapa penghasilan yang bisa dia peroleh selama satu tahun itu, jika dia ingin membiayai pendidikannya dengan bekerja?

Misalkan dia merencanakan bekerja sebagai Produktionshelfer di salah satu industri makanan ternak (salah satu peluang kerja yang paling optimis untuk diraih) setiap Sabtu dan Minggu, dengan gaji 7€ per jam. Memang dalam setahun ada 52 minggu, yang berarti 104 hari kerja, namun keterbatasan ijin kerja di visa memaksanya untuk  hanya bekerja 90 hari per tahun.

Rata-rata jam kerja di industri adalah 7,5 jam per hari, maka 7,5 jam x 7€ per jam = 52,5€ per hari. Dikalikan 90 hari per tahun, total peluang penghasilannya menjadi 4.725€ per tahun.

Kalau dia sedikit lebih beruntung mendapat kesempatan Ferienjob, peluang penghasilannya bisa lebih tinggi, katakanlah 6.000€ per tahun.

So? Jelas sekali bahwa biaya studi yang 10.000€ per bulan itu tidak bisa dicukupi melalui kerja sambilan. Tapi jangan putus asa, judi buntut di Jerman adalah legal. Toto Lotto, judi buntut yang terkenal menawarkan hadiah utama sampai 5 juta € lho! ;)

Ya, begitulah realita yang dihadapi. Memang jer basuki mawa bea.

Selamat berjuang!

———————————–

Beberapa tautan yang selaras:

Five Good Reason for Studying in Germany (Leaflet by DAAD)

Opportunity for Vocational Jobs at Daimler

Ph.D Opportunity at Research Centre Karlsruhe/FZK (contact person)

Arbeit Agentur: Job Agency in Germany (seite auf Deutsch)

Cerpen: Penantian

Wednesday, January 2nd, 2008

Hari ini langit cerah. Ini hari pertama perjalanan wisataku di tempat ini. Aku bergegas berangkat keluar dari hotelku menuju sungai ini. Aku begitu menikmati nyanyian camar yang beterbangan di atas perahu-perahu yang ditambatkan di dermaga dan mengabadikannya dalam bidikan blitz kameraku. Tapi sekarang langit tiba-tiba gelap. Kepulan awan membubung di atas kepalaku, seolah mengusirku pergi dari keteduhan alam ini.

Aku mempercepat bidikan kamera, menyorot apa saja yang kiranya masih dapat kutangkap selama sinar mentari masih mengintip di balik awan. Kulihat orang-orang yang tadi bersamaku di tepian sungai ini mulai sibuk berbenah. Opa-oma yang tadi duduk di bangku taman kini bersiap dengan tongkat dan payungnya. Perempuan paruh baya yang tadi sibuk membaca mulai melipat bukunya ke dalam tas, dan dengan sigap melepaskan anjingnya dari ikatan untuk beranjak dari situ. Tinggal sepasang muda-mudi yang masih asyik berpelukan, saling memberi kehangatan di tengah gigitan angin musim dingin ini.

Sebutir salju setipis kapas jatuh di atas rambutku, langsung mencair meninggalkan rasa dingin yang alang-kepalang. Orang-orang mulai berlarian, sementara mataku masih sibuk mencari sudut-sudut artistik lain yang masih mungkin kuabadikan. Beberapa saat kemudian butir-butir lain tanpa ampun menghujam di mukaku. Aku menyerah, lalu berlari ke salah satu emperan bangunan di seberang jalan pinggiran sungai itu.

Awan menghitam dan hembusan angin menusuk ke sumsum tulang. Telapak tanganku mulai kaku, dan lutut gemetar. Aku tak henti-hentinya mengumpat dalam hati, antara mengutuki turunnya salju ini dan memarahi diriku sendiri karena tidak siap dengan cuaca seperti ini. Tapi di tengah derai dan gemertak gigi, terdengar suara asing menyibak telingaku

"Sehr kalt?"

Aku menoleh, dan aku lihat seorang pria bermantel hitam menyapaku.

"Ja. Winter ist zu kalt und zu lang" balasku berbasa-basi.

"Trinkst du Kafee?" tanyanya lagi

"Eigentlich ja, aber.." jawabku sekenanya.

Orang itu langsung beranjak dari tempatnya dan menuju mesin pembuat kopi. Dari situ dibawanya dua cangkir cappuccino. Disodorkannya satu buatku dan aku terima dengan senang hati. Sembari menyeruput cappuccino itu, aku memperhatikan orang itu. Badannya kuyu dan matanya sayu seolah penuh rindu. Kami menghabiskan minuman itu tanpa suara.

Ketika melihat cangkirku telah kosong dan aku menunjukkan gelagat mau beranjak, dia malah menawarkan mantelnya kepadaku. "Bawalah" ujarnya, "Kembalikan lagi padaku jika kau sempat"

"Bagaimana aku bisa mengembalikannya padamu?" tanyaku.

Dia hanya menunjuk salah satu kapal yang ditambat di dermaga sungai itu, tanpa bicara.

"O, ya?" tanyaku seolah tak percaya "Kau tinggal di situ?"

"Sebenarnya rumahku ada di suatu tempat. Tapi itu tidak penting. Jika kau mencari aku, cari saja di situ." tegasnya lagi sambil menunjuk ke kapal itu.

"Oh.. apa yang kau lakukan di tempat ini?"

"Mengunggu"

"Menunggu? Menunggu apa?"

"Menunggu seseorang. Dia adalah sahabatku." ujarnya lirih. Matanya menyorot tajam menembus kabut salju di hadapannya. "Dia pernah berjanji akan menemuiku di tempat ini."

"Sudah berapa lama kau menunggu?"

"Entahlah, mungkin 10, 11 atau 12 tahun.. aku lupa."

"Sedemikian lama? Kau yakin, dia akan datang?"

"Mengapa tidak? Bukankah dia sudah berjanji?"

Aku bingung. Tak tau harus menjawab apa, dan tak tau harus berbuat apa. Tapi yang jelas aku sedikit takut berlama-lama dekat dengan orang itu. Jangan-jangan ada yang kurang beres. Aku ingin segera pergi. Segera aku pakai mantel yang diberikannya itu, aku kemasi barang-barangku. "Besok sore mantelmu aku kembalikan. Aku berjanji. Terima kasih sebelumnya!"  ujarku lalu pamit meninggalkannya.

***

Hari ini langit cerah. Ini hari kedua perjalanan wisataku di tempat ini. Aku bergegas meninggalkan hotelku untuk kembali berburu objek-objek menarik di sudut-sudut kota ini. Tak lupa aku bawa mantel yang kemarin dipinjamkan oleh pria misterius di tepi sungai itu.

Dari atas jembatan di tengah sungai itu aku mengamati ke dermaga. Persis seperti yang dikatakannya kemarin, pria itu berada di atas kapal yang ditunjuknya. Langit tiba-tiba berubah gelap dan awan hitam bergerak cepat. Aku urungkan niatku mendekatinya. Aku amat-amati dari jauh.

Entah apa yang tiba-tiba mengisi pikiranku, aku mendadak histeris. Aku sibakkan mantel itu sekuat tenaga hingga robek menjadi dua bagian. Belum puas dengan itu aku cabik-cabik mantel itu menjadi helai-helai kecil lalu dari atas jembatan kulemparkan ke sungai dan mengambang di permukaan air.

Tiba-tiba aku merasa salju tipis jatuh di atas rambutku. Mencair dan meninggalkan rasa dingin yang alang-kepalang. Aku lalu bergegas lari dan pulang.

***

Hari ini langit cerah. Ini hari ketiga perjalanan wisataku di tempat ini. Aku bergegas meninggalkan hotelku untuk mendatangi pria misterius itu. Aku merasa perlu meminta maaf kepadanya, karena telah merusak mantelnya, dan terlebih karena telah mengingkari janjiku kepadanya.

Namun kali ini dia sudah tidak ada lagi di tempat itu.

Tiba-tiba aku merasa salju tipis jatuh di atas rambutku…

***

Hamburg, 2 Januari 2008

000_0007_2

===========================

Senarai Jerman - Indonesia :

 Sehr kalt? = Dingin sekali kah?

Ja. Winter ist zu kalt und zu lang = Ya. Musim dingin terlalu dingin dan terlalu lama

Trinkst du Kafee? = Mau minum kopi?

Eigentlich ja, aber.. = Sebenarnya iya, tapi..