Cerpen ini aku tulis buat semua teman-temanku yang sedang merayakan Natal: di Jakarta, Surabaya, Malang, Bandung, Jogja, Jayapura, Semarang, Abu Dhabi, Sydney, Karlsruhe, Hamburg, anywhere.
Selamat menikmati, dan Selamat Natal!
=================================
"Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru
dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang
untuk menyembah Dia."
Nirwan menutup Alkitabnya begitu selesai membaca kutipan naskah injil Matius itu. Dia enggan menyelesaikan seluruh perikop, karena sudah tau cerita itu akan diteruskan ke kisah tentang 3 orang majus. Cerita yang sudah berulang-ulang didengarnya.
Memang Nirwan tidak terlalu rajin membaca Alkitab. Kali ini pun sebenarnya dia membuka Alkitab cuma untuk menghabiskan waktu sebelum berangkat misa malam natal. Sekedar untuk mendapat greget-nya, demikian pikir Nirwan ketika membuka bab-bab kisah kelahiran Yesus itu.
Waktu kecil dulu kisah-kisah natal itu - terutama tentang orang majus - sering dijadikan dongeng sebelum tidur oleh ibunya. Dan sudah pernah juga diperankannya dalam drama natal semasa dia masih bocah ingusan.
Tapi Nirwan kini adalah pemuda mapan dan intelek. Dia lulusan universitas ternama yang sekarang menjadi eksekutif muda di metropolitan. Dia tidak lagi suka cerita dongeng. Dia telah menjadi seorang pragmatis. Nirwan lalu mulai mempertanyakan ikhwal kesejatian Bintang Betlehem. Apakah kisah itu sungguh nyata, ataukah hanya romantisme belaka.
Dari jendela kamarnya, dia menatap ke langit malam. Tatapannya itu dibalas oleh kedipan mata bintang-bintang, lalu bulan pun tersenyum.
"Apa yang menggelisahkanmu, Nirwan?" Bulan menyapa dengan suara selembut angin.
Nirwan tersipu sejenak. Namun ia mencoba menguasai dirinya dan menjawab sapaan bulan itu.
"Bulan, apakah bintang Betlehem itu benar ada?"
Bulan tersenyum lagi, kali ini senyuman Bulan terlihat genit.
"Menurutmu?" Bulan balik bertanya
"Aku yang bertanya padamu, Bulan!" gugat Nirwan, "Tapi baiklah, dulu aku percaya bahwa betul itu adalah bintang. Bintang yang bergerak menuntun ketiga orang majus itu menuju kandang Betlehem. Tapi itu dulu. Waktu aku masih kecil. Sebelum aku belajar astronomi. Kini aku tau, bahwa bintang itu diam di tempat. Tidak pernah ada bintang yang bergerak. Mereka itu statis. Tidak seperti kau, Bulan! Jadi, tidak ada itu yang namanya bintang Betlehem!". Emosi Nirwan mulai tersulut.
"Lalu, kau anggap apa orang-orang majus itu? Mereka itu adalah para pakar pada jamannya. Orang-orang bahkan menyebut mereka orang bijak dari timur. Kau menertawai mereka, seolah-olah mereka itu lebih bodoh dari dirimu?"
"Aku tidak bermaksud itu. Aku cuma ingin tau, apakah bintang Betlehem itu sungguh ada. Itu saja. Jangan-jangan itu hanya sejenis meteor, atau komet, atau konjungsi planet-planet di tata surya, atau supernova: ledakan bintang, yang secara kebetulan terjadi pada saat itu."
"Nirwan, bintang Betlehem bukan meteor, komet ataupun supernova. Meteor, komet dan supernova itu hanya terjadi sekali. Tapi dia ini bintang. Dia selalu ada."
"Selalu ada? Apa maksudmu, Bulan?"
"Kau mungkin perlu merasakan menjadi bintang, agar kau bisa memahami. Kau mau mencoba?"
Nirwan belum sempat menjawab ketika pelan-pelan ia merasa tubuhnya yang gemuk menjadi mengempis. Tanpa rasa nyeri dan rasa sakit, kini tubuhnya menjadi seperseribu aslinya. Kulitnya yang tadinya coklat kehitaman, sekarang berubah menjadi pendaran kuning keemasan. Dan dalam sekian detik badannya berubah menjadi bersudut-sudut. Dia kini sungguh berubah menjadi sebuah bintang.
Akan tetapi Nirwan bukanlah bintang yang menggantung di angkasa. Dia cuma bintang yang teronggok di rak sebuah hypermarket dalam "Christmas Big Sale" bersama ornamen-ornamen natal lainnnya.
Lama Nirwan berjejal di situ, hingga akhirnya beberapa sosok manusia datang mendekat. Sepertinya rombongan anak-anak muda. Ada empat atau lima orang bergerombol di sekitar Nirwan.
"Eh, liat tuh.. ada bintang, duh lutuna.. " kata seorang.
"Iye.. lo ambil deh. Bagus tau.. " sahut seorang lainnya.
Hanya percakapan itu yang sempat didengar oleh Nirwan, setelah itu ia merasa dirinya dilemparkan ke keranjang belanjaan, sesak berimpitan. Gerah dan sumpek. Nirwan ingin protes. Tapi apa daya, dia kini tak mampu bersuara.
Selanjutnya dia telah bertengger di pucuk sebuah pohon cemara plastik. Sedikit di bawahnya tergantung bola-bola plastik warna warni, lonceng dan gambar malaikat meniup nafiri, yang tentu saja semuanya terbuat dari plastik. Kini Nirwan menjadi hiasan pohon natal. Anak-anak muda tadi telah membelinya untuk meramaikan acara yang mereka sebut sebagai pesta natal.
Dentum musik yang hingar bingar mengiringi pesta itu. Dari pucuk pohon natal itu Nirwan dapat melihat jelas ulah mereka. Semalam-malaman mereka berdansa dansi, sementara lain menenggak "air kata-kata" dan di sudut ruangan, ya ampun.. ada yang nyimeng.
Menjelang pagi mereka semakin liar. Dari kamar mandi terdengar suara orang muntah-muntah dan siraman air. Orang-orang yang berdansa-dansi di sekitar pohon natal di mana Nirwan bertengger kini mulai gontai, mukanya pucat dan matanya merah. Sementara dari sudut ruangan lain terdengar suara orang bertengkar.
Kemudian Nirwan melihat seseorang berjalan sempoyongan mendekat ke pohon natal. Sepertinya orang ini berjalan tanpa sadar. Nirwan mulai cemas. Apa gerangan yang akan dilakukannya. Tiba-tiba orang itu berteriak-teriak seperti kesurupan. Digoncang-goncangkannya pohon natal itu. Ornamen-ornamen itu satu per satu mulai lepas, dimulai dari daun cemara, malaikat , bola-bola, lonceng. Semua!
Nirwan semakin ketakutan. Kini tinggal dia satu-satunya hiasan di pohon natal yang sudah botak karena semua daunnya telah rontok akibat ulah orang mabuk tadi. Bak kesurupan, orang itu lalu mencabik-cabik ranting-rantingnya menjadi potongan kecil-kecil. Nirwan perpegangan erat pada pucuk pohon itu dengan perasaan amat takut.
Orang-orang ketakutan. Tak satupun berani mendekat apalagi mencegah perbuatannya. Mulut mereka semua terkatup dan berdiri gemetaran di sudut-sudut ruang. Akhirnya orang mabuk itu mencabut pohon itu dari tempatnya berpijak, dan dengan satu lontaran keras : wuss… ! Pohon itu dilemparkannya ke luar dari pintu.
Tidak kuat berpegangan, akhirnya Nirwan yang malang pun terlepas dari pucuk pohon itu. Dia terjatuh dan melenting-lenting. Terbanting ke lantai, lalu memantul dan mengenai pagar, jatuh ke aspal jalanan memantul lagi, dan pluk!!
Nirwan terlempar persis ke tempat sampah tetangga sebelah. Tepat di atas gundukan yang terdiri dari nasi basi, tutup botol, kulit durian, kaleng susu, sobekan buku renungan harian dan kondom bekas.
Mentari mulai memancarkan sinarnya pagi itu. Kemilau sinar mentari pagi memantul keemasan dari tubuh Nirwan. Lalu seorang bocah memungutnya dari tempat sampah itu. Dia adalah anak dari pemilik rumah mewah itu.
Di raut wajah bocah itu tergambar rasa penasaran dan sedikit rasa senang. Mulai timbul sedikit kebahagiaan di hati Nirwan. Setidaknya ini bisa menghiburnya dari perlakuan kasar orang tadi. Tapi seketika itu juga ibu bocah itu melihatnya, dan dibungkus oleh gengsinya ibu itu menghardik anaknya:
"Duh sayang mama kok mainan sampah? Buang ya sayang.. gak usah main yang kayak gituan. Nanti deh ikut mama ke mal. Mama beliin kamu mainan yang bagus. Yang ini kan sampah, nanti kamu cacingan. Buang ya…"
Plak!! Nirwan terlempar kembali ke gundukan sampah tadi. Hati Nirwan tersayat-sayat. Bintang yang cemerlang itu dianggap sampah, dihina, direndahkan bahkan disetarakan dengan nasi basi dan barang-barang busuk lainnya.
Nirwan mencari cara untuk dapat lari dari lingkungan najis itu, tapi sia-sia. Dia tak bisa bergerak. Sungguh dia ingin sekali menangis pada saat itu, tapi lagi-lagi dia tidak bisa.
Beberapa saat kemudian sebuah tangan legam meraih Nirwan. Tangan itu mengangkat Nirwan keluar dari tempat sampah itu, menimang-nimangnya sambil membelai membersihkan kotoran dan debu yang melekat. Telapaknya kasar dengan urat-urat nadi menonjol. Tapi dari denyut nadinya Nirwan dapat merasakan betapa orang itu dipenuhi sukacita yang teramat sangat.
Orang itu memperhatikan Nirwan, seolah-olah baru saja menemukan mutiara yang telah lama hilang. Kemudian menggosok-gosok Nirwan ke bajunya yang kumal, lalu sekali-sekali diarahkannya menantang matahari sambil menikmati kemilau yang terpancar.
Ketika Nirwan beradu pandang dengan wajah orang itu, tahulah ia bahwa orang itu ternyata adalah seorang pemulung. Seorang gelandangan. Bajunya kumal, rambut awut-awutan, matanya sayu, wajah penuh debu dan gigi kotor menyeringai.
"Oh.. akhirnya aku menemukannya!" gumamnya. Ia lalu bergegas menuju satu arah yang tampaknya ia begitu yakin. Seolah-olah ada seseorang di ujung jalan sana yang tengah mengharapkannya.
Nirwan bingung. Ia sama sekali tak mengerti arah pembicaraan orang itu. Antara rasa cemas dan penasaran, ia ingin sekali bertanya mau ke mana gerangan ia akan dibawa. Tapi dia tidak bisa. Maka Nirwan hanya diam dalam genggaman orang itu.
Langkahnya ternyata berhenti di depan sebuah rumah kardus beratap plastik. Ia menyingkap tirai kumal penutup rumah kardus itu. Tiga pasang sorot mata manusia menyongsongnya. Sorotan mata milik seorang lelaki dan perempuan, serta satu lagi milik seorang balita yang sedang terbaring lemah. Mata anak itu sayu, tubuhnya lemah dan membiru. Sepertinya anak itu sedang sakit.
"Ada apa pagi-pagi begini kau datang, Gaspar?" tanya lelaki di rumah kardus itu. Rupanya orang yang memungut Nirwan dari tempat sampah itu bernama Gaspar.
"Ucup, aku datang untuk Mahdi, anakmu. Semalam aku tak bisa tidur karena terbayang dia yang kemarin kejang-kejang dan mengigau ingin bintang. Pagi ini dalam perjalananku aku menemukan sebuah bintang yang berkilau. Langsung aku teringat pada Mahdi dan menghentikan pekerjaanku hari ini."
Perlahan Gaspar mendekati Mahdi. "Ini Nak, ada bintang" kata Gaspar sambil mengulurkan Nirwan dalam genggaman tangannya ke hadapan Mahdi. Si kecil Mahdi berumur 3 tahun yang sedang sakit itu mulai mengangkat tubuh dan tersenyum. Senyuman tersimpul di wajahnya yang merupakan pantulan cermin gambaran hatinya.
"Ini Nak" kata Gaspar sekali lagi. Mahdi semakin girang. Kini bukan cuma senyum yang terlukis di wajahnya. Matanya kini bersinar ketika tangannya meraih Nirwan si bintang kecil itu.
Nirwan terharu melihat adegan itu. Jiwanya tergelitik perasaan cinta yang tiada tara. Dia merasa dirinya sungguh bermakna, meski berada di tengah-tengah para tuna wisma. Berbagai rasa mengembang dalam dirinya seiring mengembangnya keceriaan di wajah Mahdi. Dia kini telah menjadi sumber keriangan manusia kanak-kanak yang lugu. Kesembuhan satu jiwa.
Nirwan merasa makin bergairah manakala Mahdi kegirangan mempermainkan dirinya. Kegairahan yang belum pernah dirasakan sepanjang umur hidup Nirwan. Kini di lubuk hatinya terbersit suatu penantian. Penantian menuju suatu klimaks rahasia yang setara jika diibaratkan sebagai suatu persalinan baru.
Tiba-tiba,
Drriiiiinggg!!!
Suara alarm mengejutkan Nirwan. Oh, dia tersadar dari lamunannya. Diliriknya jam dinding. Dia harus pergi. Beberapa menit lagi dia bertugas memimpin paduan suara di gerejanya untuk misa malam natal.
Sejenak Nirwan menatap lagi ke langit malam dari jendela kamarnya. Bulan masih tetap tersenyum dan bintang-bintang mengedipkan matanya. Namun kini Nirwan melihat ada satu kilau bintang yang melebihi kilau selaksa bintang lain yang bertengger di awang-awang. Bintang cemerlang. Secemerlang dirinya. Secemerlang bintang Betlehem.
****
Karlsruhe, 24 Desember 2007
We don’t see things as they are, we see things as we are.