Archive for November, 2007

Bahan Bakar Tinja

Tuesday, November 20th, 2007

Dalam salah satu posting terdahulu aku telah menuliskan tentang imajinasiku untuk mendayagunakan emisi gas dari tubuh manusia (baca: kentut) sebagai sumber energi thermal. Hal ini didasarkan pada kandungan metana dan hidrogen didalamnya. Namun dari berbagai diskusi, hingga saat ini jalan ke arah itu masih cukup panjang dan banyak hambatan. Beberapa faktor penghambat yang dapat disebutkan antara lain adalah

  • faktor pengumpulan, ini didasarkan pada kenyataan bahwa tidak gampang bagi manusia untuk menahan keluarnya kentut dalam jangka waktu tertentu, akibat tingginya tekanan gas (beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kentut dapat mencapai tekanan sebesar 10 - 15 bar), sehingga andai pun di setiap bangunan dibuat fart-sucker machine, dikhawatirkan kentut telah terlebih dahulu terbuang pada saat perjalanan ke tempat itu.
  • disamping itu, komposisi gas yang terdapat dalam kentut pun sangat heterogen antar individu. Hal ini terkait juga dengan faktor genetik. Bahkan ada beberapa orang yang kentutnya hanya mengandung sedikit sekali gas methana (<5% v/v). Hal ini menjadi kendala juga dalam pemanfaatannya.

Bertitik tolak dari kenyataan ini, maka perhatian mulai aku coba arahkan ke benda lain yang lokasinya tidak berada jauh dari sumber kentut. Dia bernama tinja.

Sama halnya dengan kentut, tinja juga secara alami diproduksi oleh manusia (dan juga hewan lain yang berderajat lebih rendah). Sebagai residu dari metabolisme tubuh, disamping terdiri dari air, garam mineral dan senyawa nitrogenus dalam bentuk enzim dan protein, tinja mengandung banyak selulosa. Selulosa ini lah yang potensial untuk difermentasi, dan menghasilkan gas metana.

Tentu tinja ini mengandung banyak keunggulan. Yang pasti, setiap orang pasti memproduksi tinja. Lalu, metode pengumpulan bisa lebih mudah, karena berbentuk padat atau gel (gak perlu dibayangin deh! :p).

Sebenarnya proses fermentasi semacam ini bukan barang baru lagi, dan sudah diteliti di berbagai tempat. Penelitian menunjukkan bahwa sampai 60% metana bisa dihasilkan dari reaktor ini, dengan tingkat yield sebesar 0.25 - 0.30 m³ gas per kg tinja. Dengan perhitungan kasar, untuk negara berkembang seperti Indonesia dimana konsumsi gas hanya digunakan untuk memasak dapat diprediksi bahwa 60-70% energi bisa tergantikan jika tiap rumah tangga diperlengkapi dengan fermenter tinja. Andai saja hal ini dapat segera direalisasikan.

Should I try? Oh.. sh*t :)

65 m³ Gas untuk Tuna Daksa

Monday, November 19th, 2007

Selasa, 13 November 2007. Aku mendapat undangan, tapi tentu bukan undangan manten atau khitanan. Aku diundang untuk hadir dalam suatu konferensi bertajuk "Gasfachliche Aussprachetagung" disingkat "gat". Ini adalah sebuah konferensi sekaligus eksibisi pelaku bisnis di bidang eksplorasi dan distribusi bahan bakar gas se-Jerman. Undangan ini aku dapat dari kemurahan hati Dr. Bajohr, seorang dosen Uni Karlsruhe yang juga peneliti di asosiasi insinyur dan ilmuwan Jerman di bidang gas dan air DVGW.

Jam 9 pagi dari halte trem Durlacher Torr aku berangkat bersama dua orang teman baikku: Ben dan Susan. Udara pagi yang sebenarnya terlalu dingin untuk ukuran musim gugur itu tidak mengurungkan niat kami untuk pergi menuju arena eksibisi, yaitu Messe Karlsruhe. Dua puluh menit perjalanan kami tempuh. Aku dan Suzan asyik bercanda dan tertawa, sementara Ben seperti biasa tak pernah lepas dari buku-buku teks yang menurutku menyebalkan itu.

Telapak tanganku kaku ketika sampai di pintu gerbang Messe. Jalan kaki 5 menit dari perhentian trem dengan temperatur 0-3 °C  ternyata sangat menyiksa. Maka itu kami tak menyia-nyiakan tawaran teh panas yang disediakan persis di pintu masuk, lebih menyenangkan lagi ditambah dengan satu potong besar Brezel. Aku dan Susan masih ingin lebih lama lagi menikmati Brezel, sementara Ben kelihatannya sudah tidak sabar lagi ingin mengunjungi stand demi stand. Dan Ben pun pergi meninggalkan kami yang masih sibuk menyeruput teh yang sudah tidak lagi panas itu.

Tak lama, aku dan Susan pun mulai menjelajah. Satu demi satu stand itu kami kunjungi. Dimulai dari stand Stadtwerke Karlsruhe yang memamerkan bagaimana mereka memproduksi listrik dari sumber energi terbarui, seperti wind-tunnel dan refuse-derived-fuel. Lalu perjalanan dilanjutkan ke beberapa supplier pipa dan valve gas. Lalu kami juga mengunjungi stand DVGW, untuk melihat trend terkini dalam penelitian di bidang energi.

Dan terakhir kami mengunjungi stand salah satu perusahaan di bidang konstruksi pabrik biogas, yaitu MT-Energie. Mungkin di stand inilah kami menghabiskan waktu paling lama. Disamping memang menarik, salah seorang penjaga stand itu (sayang aku lupa namanya), cukup komprehensif menjelaskan beberapa pabrik bio-metana yang telah didirikannya di beberapa lokasi. Kami sangat tertarik mengikuti penjelasannya yang detail tapi lugas. Di situ ditampilkan contoh reaktor metana dengan feedstock berupa kotoran ternak dan jerami. Betul-betul teknologi tepat guna. Sayang sekali pembicaraan yang mulai mengerucut itu harus diakhiri karena waktunya makan siang..

Selesai makan siang, dibuka beberapa podium diskusi mengetengahkan issue-issue terbaru di bidang energi; seperti hasil-hasil penelitian terbaru, aspek-aspek lingkungan semacam perubahan iklim dan pemanasan global, dan ada pula review 100 tahun Engler-Bunte-Institut (dimana aku tercatat sebagai cantriknya, hehe..).

Cukup melelahkan ternyata mendengar diskusi-diskusi itu, maklum software automatic translator Deutsch-English-Bahasa Indonesia yang dikepalaku masih versi rendah, dan masih butuh banyak upgrading. Akhirnya aku dan Susan memutuskan untuk meninggalkan ruang diskusi dan berkeliling lagi ke arena pameran, sementara Ben sendiri sudah tidak tau lagi ada di mana.

Perhatian kami tertarik ke sebuah benda berbentuk lingkaran di salah satu stand. Lingkaran itu cukup besar, mungkin berdiameter sekitar 1,5 - 2 m. Di dekat lingkaran itu diberdirikan dengan posisi horizontal, dan sebuah display menyala di atasnya. Penasaran, kami bertanya kepada penjaga stand di situ apa maksudnya benda itu. Ternyata itu adalah semacam treadmill . Orang bisa berjalan/berlari di situ, dan display itu adalah counter yang menunjukkan berapa putaran yang sudah dilakukan.

Benda itu mereka namakan "Hamsterrad". Setiap putaran yang terhitung di counter, akan dikonversikan dengan 1 m³ natural gas, dan hasil penjualannya akan disumbangkan ke badan amal untuk penyandang cacat tuna daksa (khususnya yang mengalami cacat kaki). Ketika ditawarkan apakah kami ingin beramal, tanpa banyak berpikir kami langsung setuju.

Aku yang pertama naik ke Hamsterrad itu. Berat juga ternyata, tapi itu tidak mengurungkan niatku. Langkah demi langkah aku ayunkan. Aku Dsc00099membayangkan seorang penyandang tuna daksa duduk di kursi roda di hadapanku dengan wajah penuh harap. Peluh mulai membasahi rambutku, dan menjalar ke sekujur tubuhku. Setelah betul-betul tidak sanggup lagi melangkah, aku akhirnya menyerah. Aku berhenti, diiringi dengan tepuk tangan orang-orang yang ada di situ. Puas rasanya aku bisa memberikan apa yang aku punya, meski tidak seberapa besar harganya. Ketika turun dari Hamsterrad, aku melirik ke counter, ternyata aku telah menghasilkan 65 m³.

Entah kebetulan atau tidak, baru minggu lalu aku melihat suatu banner besar. Banner yg dilatarbelakangin gambar legendaris Neil Armstrong k
etika menjejakkan kaki di bulan dan dipadu kontras dengan seorang anak Afrika yang tidak punya kaki itu diembel-embeli satir: Dieser Mann hat auf dem Mond getroffen, aber millionen Leute noch nicht laufen können *).  Ya, aku bahagia karena kakiku yang tak lagi sempurna ini mampu memberi arti. Setidaknya bagi mereka yang tidak seberuntung aku.

Dan kebahagiaanku ini ditambah lagi, dengan souvenir boneka Hamster yang diberikan kepadaku sebagai ucapan terima kasih :)) (ayoo, siapa mau boneka…??)Gat

————
*) Orang ini sudah melangkah di bulan, sementara jutaan orang lain belum bisa berjalan.

Panasnya Bumi Eslandia

Thursday, November 8th, 2007

Iceland (bahasa Indonesia: Eslandia) adalah suatu negara kecil di utara samudra atlantik. Dari namanya - dan didukung oleh posisinya yang berada di belahan kutub utara - orang akan mengira negara ini tertutup salju abadi. Namun siapa sangka, jika ternyata Eslandia adalah pulau hijau yang sebagian besar ditiutupi oleh hutan - meski tentu saja tetap ada daerah yang ditutupi gletsyer. Fakta ini membuat banyak orang terkecoh, yang menduga Greenland - yang adalah tetangga dari Eslandia - sebagai daratan hijau, namun justru sebetulnya Greenland-lah yang lebih putih tertutup salju.

Eslandia adalah negara pulau. Luasnya 103.000 km², sedikit lebih luas dibanding Singapura. Terletak di bagian selatan dari kutub utara, negara ini digolongkan sebagai bagian dari benua Eropa. Ini juga yang membedakannya dari tetangganya Greenland, yang digolongkan sebagai bagian dari benua Amerika. Dengan kemiripan budaya dan bahasa, bersama-sama dengan Norwegia, Swedia dan Finlandia, Eslandia digolongkan sebagai negara-negara Skandinavia.

Nah, berbicara soal Skandinavia biasanya selalu diasosiasikan dengan kemakmuran. Betul bahwa di antara negara-negara Eropa, Skandinavia umumnya memiliki tingkat ekonomi yang di atas rata-rata. Dan mungkin dengan alasan itu pula, maka beberapa negara Skandinavia tidak tertarik untuk bergabung dengan Uni Eropa. Sementara itu, Eslandia adalah negara yang secara ekonomi berada di papan atas untuk negara Skandinavia sendiri. Dengan penduduk yang berjumlah sekitar 300 ribu orang (mungkin hanya sejumlah 1 kecamatan di Jakarta), negara ini menghasilkan GDP lebih dari $ 12 milyar di tahun 2006, atau dengan kata lain pendapatan per kapita berkisar $ 50 ribu. Tentu seperti langit dengan bumi jika dibanding dengan Indonesia yang pendapatan perkapitanya tidak sampai $ 2 ribu.

Lalu apa yang menjadi rahasia kemakmuran di Eslandia ini? Berbekal rasa penasaran dan tanda tanya besar ini, sore ini aku datang ke salah satu Hörsaal di Universität Karlsruhe. Aku berharap bisa menjawabnya, karena di situ telah hadir seorang profesor bernama Hrund Andradottir. Nama yang cukup asing di telingaku. Tentu saja, karena dia adalah orang Eslandia. Hari ini dia akan berbicara di suatu seminar dengan judul "Renewable Energy Development in Iceland".

Jam setengah enam seminar dimulai. Aku masuk ke ruangan dan mengambil tempat duduk di sudut belakang. Seminar dibawakan dalam bahasa Inggris, dan ternyata aksen sang profesor ini sangat British. Ketika dia mulai berbicara, ada satu hal baru yang bisa aku petik: ternyata Hrund itu nama perempuan :)

Singkat kata, salah satu rahasia kekuatan yang dimiliki Eslandia adalah kemampuannya dalam hal swasembada energi. Ya, Eslandia ini sama sekali tidak mengandalkan pasokan energi dari luar. Apakah karena mereka kaya minyak? Tidak. Banyak sumber gas alam? Tidak. Tambang batu bara? Hehe.. di sana mereka tidak memasak dengan briket ;)
Lalu apa? Nah disinilah kuncinya. Mereka mensuplai kebutuhan energinya melalui sumber-sumber bahan bakar non-fosil.


Kekuatan mereka yang pertama adalah hydro-power (tenaga air). Di Eslandia ada beberapa sungai dan air terjun yang berarus deras. Umumnya ini adalah sungai gletsyer, yang merupakan daerah aliran salju cair di musim panas. Eslandia menanam investasi besar-besaran dalam bentuk dam, yang energi potensialnya dikonversi menjadi energi listrik. Bahkan saat ini sedang dibangun pula suatu dam yang diklaim menjadi dam tertinggi di dunia.

Selain hydro-power, kekuatan kedua mereka adalah geo-thermal (panas bumi). Sejarah utilisasi geo-thermal di Eslandia, syahdan telah dieksplorasi sejak tahun 1930-an untuk kebutuhan sehari-hari, khususnya untuk pemanas air dan penghangat ruangan. Kini geo-thermal menjadi sangat populer dipakai sebagai penghasil uap yang bermuara pada pembangkit listrik. Dewasa ini puluhan lapangan geo-thermal telah didirikan yang rata-rata menghasilkan output 60-100 MW.

Hal lain yang menarik, Eslandia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki stasiun pengisian bahan bakar hidrogen, karena di situ mereka mampu menghasilkan hidrogen dalam jumlah yang cukup dengan biaya yang ekonomis. Maka jangan heran jika mobil-mobil yang lalu lalang di Reykjavik (ibukota Eslandia, yang secara harafiah berarti: Teluk Berasap) umumnya adalah kendaraan dengan sistem fuel-cell. Dengan bahan bakar hidrogen, tentu saja mereka tidak direpotkan lagi dengan emisi karbondioksida, karena berdasarkan stokhiometri: oksidasi hidrogen dengan oksigen hanya menghasilkan uap air.

Hal ini pula yang menyebabkan Protokol Kyoto memberi kelonggaran bagi Eslandia dalam hal emisi karbondioksida. Sementara negara Eropa pada umumnya diminta untuk menurunkan emisi karbondioksida rata-rata 8%, Eslandia justru diperbolehkan meningkatkan sebesar 10%.

Sungguh mendengarkan cerita Prof. Andradottir ini membuat pikiran melayang, membayangkan indahnya jika bisa hidup di negara yang kurang lebih seideal "Negeri di Awan" itu. Terlebih lagi pada akhir makalahnya, dia memberi "angin surga" bahwa University of Iceland pada tahun 2008 nanti mentargetkan 10 posisi baru untuk Ph.D di bidang Thermal Dynamics. Betapa menggiurkan :)

Tapi kesan ini menjadi sedikit terganggu jika mengingat-ingat kembali salah satu posting di blog ini berjudul Big Mac Index. Sebagai negara yang mata uangnya paling "over valued" (+158%), tentunya untuk 1 potong Big Mac harus merogoh kocek 509 Kronur, atau setara dengan 5,10€, atau setara dengan Rp 66 ribu. So, 66 ribu untuk sepotong Big Mac di Reykjavik?  Wah, di Mulyosari itu sudah 4 orang makan soto ayam.. hehehe

Anyway,
bagi yang tetap nekad ingin Ph.D di Iceland silakan kontak ke Prof. Andradottir.
Nih websitenya http://www.hi.is/~hrund/
Cantik lho orangnya ;)