Iceland (bahasa Indonesia: Eslandia) adalah suatu negara kecil di utara samudra atlantik. Dari namanya - dan didukung oleh posisinya yang berada di belahan kutub utara - orang akan mengira negara ini tertutup salju abadi. Namun siapa sangka, jika ternyata Eslandia adalah pulau hijau yang sebagian besar ditiutupi oleh hutan - meski tentu saja tetap ada daerah yang ditutupi gletsyer. Fakta ini membuat banyak orang terkecoh, yang menduga Greenland - yang adalah tetangga dari Eslandia - sebagai daratan hijau, namun justru sebetulnya Greenland-lah yang lebih putih tertutup salju.
Eslandia adalah negara pulau. Luasnya 103.000 km², sedikit lebih luas dibanding Singapura. Terletak di bagian selatan dari kutub utara, negara ini digolongkan sebagai bagian dari benua Eropa. Ini juga yang membedakannya dari tetangganya Greenland, yang digolongkan sebagai bagian dari benua Amerika. Dengan kemiripan budaya dan bahasa, bersama-sama dengan Norwegia, Swedia dan Finlandia, Eslandia digolongkan sebagai negara-negara Skandinavia.
Nah, berbicara soal Skandinavia biasanya selalu diasosiasikan dengan kemakmuran. Betul bahwa di antara negara-negara Eropa, Skandinavia umumnya memiliki tingkat ekonomi yang di atas rata-rata. Dan mungkin dengan alasan itu pula, maka beberapa negara Skandinavia tidak tertarik untuk bergabung dengan Uni Eropa. Sementara itu, Eslandia adalah negara yang secara ekonomi berada di papan atas untuk negara Skandinavia sendiri. Dengan penduduk yang berjumlah sekitar 300 ribu orang (mungkin hanya sejumlah 1 kecamatan di Jakarta), negara ini menghasilkan GDP lebih dari $ 12 milyar di tahun 2006, atau dengan kata lain pendapatan per kapita berkisar $ 50 ribu. Tentu seperti langit dengan bumi jika dibanding dengan Indonesia yang pendapatan perkapitanya tidak sampai $ 2 ribu.
Lalu apa yang menjadi rahasia kemakmuran di Eslandia ini? Berbekal rasa penasaran dan tanda tanya besar ini, sore ini aku datang ke salah satu Hörsaal di Universität Karlsruhe. Aku berharap bisa menjawabnya, karena di situ telah hadir seorang profesor bernama Hrund Andradottir. Nama yang cukup asing di telingaku. Tentu saja, karena dia adalah orang Eslandia. Hari ini dia akan berbicara di suatu seminar dengan judul "Renewable Energy Development in Iceland".
Jam setengah enam seminar dimulai. Aku masuk ke ruangan dan mengambil tempat duduk di sudut belakang. Seminar dibawakan dalam bahasa Inggris, dan ternyata aksen sang profesor ini sangat British. Ketika dia mulai berbicara, ada satu hal baru yang bisa aku petik: ternyata Hrund itu nama perempuan
Singkat kata, salah satu rahasia kekuatan yang dimiliki Eslandia adalah kemampuannya dalam hal swasembada energi. Ya, Eslandia ini sama sekali tidak mengandalkan pasokan energi dari luar. Apakah karena mereka kaya minyak? Tidak. Banyak sumber gas alam? Tidak. Tambang batu bara? Hehe.. di sana mereka tidak memasak dengan briket
Lalu apa? Nah disinilah kuncinya. Mereka mensuplai kebutuhan energinya melalui sumber-sumber bahan bakar non-fosil.
Kekuatan mereka yang pertama adalah hydro-power (tenaga air). Di Eslandia ada beberapa sungai dan air terjun yang berarus deras. Umumnya ini adalah sungai gletsyer, yang merupakan daerah aliran salju cair di musim panas. Eslandia menanam investasi besar-besaran dalam bentuk dam, yang energi potensialnya dikonversi menjadi energi listrik. Bahkan saat ini sedang dibangun pula suatu dam yang diklaim menjadi dam tertinggi di dunia.
Selain hydro-power, kekuatan kedua mereka adalah geo-thermal (panas bumi). Sejarah utilisasi geo-thermal di Eslandia, syahdan telah dieksplorasi sejak tahun 1930-an untuk kebutuhan sehari-hari, khususnya untuk pemanas air dan penghangat ruangan. Kini geo-thermal menjadi sangat populer dipakai sebagai penghasil uap yang bermuara pada pembangkit listrik. Dewasa ini puluhan lapangan geo-thermal telah didirikan yang rata-rata menghasilkan output 60-100 MW.
Hal lain yang menarik, Eslandia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki stasiun pengisian bahan bakar hidrogen, karena di situ mereka mampu menghasilkan hidrogen dalam jumlah yang cukup dengan biaya yang ekonomis. Maka jangan heran jika mobil-mobil yang lalu lalang di Reykjavik (ibukota Eslandia, yang secara harafiah berarti: Teluk Berasap) umumnya adalah kendaraan dengan sistem fuel-cell. Dengan bahan bakar hidrogen, tentu saja mereka tidak direpotkan lagi dengan emisi karbondioksida, karena berdasarkan stokhiometri: oksidasi hidrogen dengan oksigen hanya menghasilkan uap air.
Hal ini pula yang menyebabkan Protokol Kyoto memberi kelonggaran bagi Eslandia dalam hal emisi karbondioksida. Sementara negara Eropa pada umumnya diminta untuk menurunkan emisi karbondioksida rata-rata 8%, Eslandia justru diperbolehkan meningkatkan sebesar 10%.
Sungguh mendengarkan cerita Prof. Andradottir ini membuat pikiran melayang, membayangkan indahnya jika bisa hidup di negara yang kurang lebih seideal "Negeri di Awan" itu. Terlebih lagi pada akhir makalahnya, dia memberi "angin surga" bahwa University of Iceland pada tahun 2008 nanti mentargetkan 10 posisi baru untuk Ph.D di bidang Thermal Dynamics. Betapa menggiurkan
Tapi kesan ini menjadi sedikit terganggu jika mengingat-ingat kembali salah satu posting di blog ini berjudul Big Mac Index. Sebagai negara yang mata uangnya paling "over valued" (+158%), tentunya untuk 1 potong Big Mac harus merogoh kocek 509 Kronur, atau setara dengan 5,10€, atau setara dengan Rp 66 ribu. So, 66 ribu untuk sepotong Big Mac di Reykjavik? Wah, di Mulyosari itu sudah 4 orang makan soto ayam.. hehehe
Anyway,
bagi yang tetap nekad ingin Ph.D di Iceland silakan kontak ke Prof. Andradottir.
Nih websitenya http://www.hi.is/~hrund/
Cantik lho orangnya