Archive for October, 2007

Big Mac Index

Tuesday, October 23rd, 2007

Bicara tentang indikator ekonomi, tentu istilah-istilah seperti gross domestic product (GDP), consumer price index (CPI), purchasing power parity (PPP) atau foreign exchange rate (FX rate) bukan hal yang asing lagi. Idikator-indikator tersebut adalah angka-angka statistik yang biasa dipakai untuk menilai, menganalisa dan memprediksi performa ekonomi suatu negara. Namun mungkin tidak seberapa di antara kita yang pernah mendengar tentang satu indikator lain yang disebut dengan istilah "Big Mac Index".

Bigmac_1 Big Mac? Anda penyuka makanan cepat saji, tentu familiar dengan produk keluaran McDonald’s ini. Big Mac Index ini prinsipnya adalah pengukuran daya beli masyarakat di suatu negara melalu perbandingan harga Big Mac yang dijual di outlet waralaba McDonald’s.

Mengapa Big Mac? Big Mac dipilih karena dianggap tersedia dengan spesifikasi yang hampir sama di banyak negara di seluruh dunia. Sehingga dengan itu tingkat perekonomian banyak negara dapat dengan mudah diperbandingkan. Big Mac index ini diperkenalkan oleh majalah mingguan Inggris The Economist tahun 1986, dan sejak itu metode ini menjadi populer.

Nilai tukar Big Mac (Big Mac exchange rate) antara negara  A dan B dihitung dengan cara membagi harga sebuah Big Mac di negara A (dalam mata uangnya) dibagi dengan harga Big Mac di negara B (dalam mata uangnya). Nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai tukar mata uang A dan B (currency exchange rate); jika dia lebih rendah berarti mata uang A adalah "under-valued" dibanding B, dan sebaliknya, jika lebih tinggi berarti mata uang A "over-valued" dibanding B.

Contohnya, jika di USA harga Big Mac $3 sementara di Indonesia harganya Rp 15.000,- ; sedangkan nilai tukar mata uangnya adalah 1 USD = 9300 IDR

Maka Big Mac exchange rate Indonesia/USA = 15000/3 = 5000. Dan jika selisih antara Big Mac exchange rate ini dibandingkan dengan currency exchange rate, maka (5000-9300)/9300 = -46%. Artinya dibanding USD, IDR adalah "under-valued" sebesar 46%.

Meski banyak kelemahannya cara ini dinilai cukup akurat juga dipakai untuk mengestimasi secara kasaran. Beberapa kritik atas metode ini diantaranya bahwa dalam Big Mac komoditas perdagangan seperti roti dan sayuran, juga terkandung komoditas non-dagang seperti sewa dan upah, sehingga index ini hanya tepat untuk memperbandingkan negara-negara yang sebanding tingkat kemajuannya.

Namun begitu, hingga saat ini The Economist secara reguler terus mempublikasikan Big Mac Index ini. Dalam edisi Juli 2007 terlihat bahwa negara-negara Skandinavia, secara umum memegang posisi teratas sebagai "over-valued currencies", dan Islandia menempati posisi teratas dengan +158%. Sementara China tercatat sebagai negara dengan mata uang paling "under-valued" dengan -54%. Negara-negara zona euro rata-rata "over-valued" sekitar +29-30%.

Mau lihat lebih detail, silakan ke economist.com 

"Ngomong-ngomong, lapar euy!"

"Big Mac? "

"Hehe.. 3,5€. Gak deh, di Mensa aja"

Cerpen: Titip Salam Buat Rini

Sunday, October 14th, 2007

Apabila engkau bepergian ke Pantai Timur, aku ingin menitipkan salamku buat Rini.

Sejak aku melambaikan tangan dan memutuskan untuk tidak lagi bertemu dengannya, aku telah melangkahkan kakiku dalam perjalanan panjang dan tak berujung ini. Perjalanan yang aku lakukan mengikuti ke mana arah angin berhembus, yang membawaku ke Pulau Sentosa yang kini menjadi persinggahanku.

Sudah cukup lama kurasa waktu berlalu, semenjak suatu sore aku bertolak dari dermaga tua di Pantai Timur. Saat itu dengan hati remuk redam, aku memutuskan untuk pergi dari kota itu. Aku berlari, melewati kerumunan orang-orang yang memandangku seolah-olah aku adalah orang gila. Mereka mencibir aku. Tapi aku tak perduli dan terus berlari. Begitu lama aku berlari, hingga akhirnya aku tiba di dermaga tua itu dan mendapati sebuah perahu layar yang tak bertuan. Tiba-tiba perahu ini menciptakan angan. Alangkah indah sekiranya aku bisa pergi jauh bersama ombak; berlayar menuju negeri harapan.

Tiba-tiba malam berubah kelam, awan gelap menyelimuti dan petir sambar menyambar. Suara gemuruh sekonyong-konyong datang. Angin menerpa sangat keras, disertai ombak menggunung, menghantam dinding perahu tanpa kenal ampun. Perahu itu pun terguncang-goncang keras dan tak berdaya melawan hantaman angin. Layarnya robek; aku dan perahu itu terombang-ambing di tengah luasnya samudera.

Aku dan perahuku terkatung-katung. Tapi aku tak berhenti berjuang. Berjam-jam lamanya aku jalin kembali potongan layar itu bahkan dengan sobekan kain baju. Dengan perasaan hampir putus asa aku coba untuk mendayung sejauh mungkin menggapai daratan. Namun semakin lama aku mendayung rasanya aku semakin jauh ke tengah samudera tak bertepian.

Aku semakin kehilangan harapan ketika melihat perahuku menuju ke suatu pusaran air. Aku merasa bahwa disinilah hidupku akan berkesudahan. Aku akan digulung di dalam pusaran ini, tenagaku tidak akan sanggup melawan keganasannya, aku akan mati. Ikan-ikan buas akan melahap jasadku, dan dasar laut akan menelan tulang-belulangku.

Namun diluar dugaanku, sekonyong-konyong aku melihat cahaya gemerlapan datang dari tengah pusaran air itu. Kilauan sinarnya menembus kabut malam, yang membuatnya terlihat seperti pendaran intan berlian. Beberapa saat kemudian sinar itu telah menyapu ruang sekelilingku, hingga membuat suasana menjadi terang benderang.

Entah dengan kekuatan dari mana, perahuku seperti tersedot masuk ke dalam pusaran air itu, dan berputar-putar dengan sangat cepat tengah-tengah cahaya gemerlapan. Disertai suara yang menderu, pusaran air itu kini bergerak sangat cepat, membawa perahuku bertolak dituntun oleh kilau cahaya yang tak terperikan itu. Mulutku terkatup dan tubuhku tak kuasa bergerak menyaksikan pemandangan luar biasa pada malam itu.

Ketika perlahan-lahan cahaya itu menghilang, aku menyadari bahwa perahuku telah bersandar di sebuah dermaga kecil di suatu pulau yang tak kukenal. Bersamaan dengan itu kurasakan pula terpaan sepoi angin pagi dan riak ombak pecah di badan perahu. Tiba-tiba hatiku telah diliputi rasa damai dan sentosa.

Dari balik perahuku aku melihat banyak orang telah berdiri di tepi dermaga. Ada ratusan jumlahnya, terdiri dari orang tua-muda, bahkan ada pula anak kecil di gendongan ibunya. Mereka sepertinya telah sedari tadi menunggu kedatanganku.

“Selamat datang, wahai pemuda perkasa. Kedatangan Anda adalah suatu kebahagiaan yang tiada taranya bagi kami. Terimalah tanda penghormatan kami ini. Mari bergabung bersama kami, di Pulau Sentosa ini.”

Demikianlah sejak saat itu aku menjadi bagian dari penduduk Pulau Sentosa. Aku tidak pernah kekurangan suatu apa pun, karena semua kebutuhanku telah mereka penuhi. Meski dengan segala keheranan yang tersimpan dalam hatiku, tak pernah sedikit pun aku bertanya bagaimana aku bisa mendapatkan semua ini.

Aku lupa sudah berapa lama aku berada di pulau ini, yang jelas sampai saat ini entah sudah berapa kali aku mengelilingi pulau ini, aku pun lupa menghitungnya. Orang-orang di pulau ini sampai sekarang masih menghormatiku sebagaimana pertama kali mereka menjemputku di dermaga dulu. Dan di dermaga ini lah aku paling banyak menghabiskan waktuku. Duduk di bawah hangatnya sinar matahari sambil memandangi burung camar yang terbang bermain di atas perahu nelayan.

Kadangkala sepintas lalu gambaran wajah Rini mulai terlukis lagi di balik awan yang mengantung di batas horizon. Seandainya saja aku bisa bersama Rini di Pulau Sentosa ini. Berpelukan di salah satu sudut dermaga ini, seperti yang biasa kami lakukan di dermaga tua di Pantai Timur dulu, waktu aku masih bersama dengannya. Membiarkan bintang-bintang menatap dengan setengah terpejam, bulan tersenyum dan dunia terkesima.

Tapi sudahlah, Rini tidak ada di sini dan tidak akan pernah datang ke sini. Pun apabila aku tidak melambaikan tangan tanda perpisahanku dengannya saat itu, mana mungkin aku ada di sini, di Pulau Sentosa ini. Ah, memang tak terperikan pedihnya saat aku harus berpisah dengan Rini. Pedih menahan sembilu yang menyayat-nyayat urat nadi. Pedih menahan tetesan darah yang mengalir dari sayatan itu. Tentu kau tidak akan menyangka bahwa dari tetesan darah itu aku bahkan sudah menulis sebuah buku puisi yang mungkin kau akan temukan di pasar loak.

Biarlah. Tidak ada yang kusesali. Yang penting aku damai dan tenteram di Pulau Sentosa ini. Aku harap begitu pula dengan Rini. Meski aku tak mungkin menyentuhnya, bayangannya akan abadi di dalam kalbuku. Karena begitulah cinta sejati: kekal dan abadi.

Karlsruhe, 14 Oktober 2007