Kredit Mikro vs Zero Sum Games
Thursday, June 7th, 2007Kemarin aku beruntung, berkesempatan mengikuti kuliah umum dari pemenang Nobel Perdamaian 2006 : Muhamad Yunus dari Bangladesh. Mungkin Anda sudah mahfum mengenai sepak terjang Muhamad Yunus dalam program pengentasan kemiskinan di Bangladesh. Namun bagi Anda yang tidak sempat mengikuti beritanya, baiklah aku ceritakan kembali di sini.
Yunus adalah seorang profesor di bidang ekonomi di sebuah universitas di Bangladesh.
Kiprah Yunus memberdayakan kaum papa diawali di tahun 1974. Ketika itu, sebagai profesor ekonomi di Universitas Chittagong, dia memimpin para mahasiswa untuk berkunjung ke desa-desa miskin di Bangladesh. Betapa kagetnya Yunus ketika dia menyaksikan warga miskin di desa-desa berjuang lolos bertahan dari kelaparan yang melanda negara itu dan telah menewaskan ratusan ribu orang. Selanjutnya, sebagai akademisi Yunus pun merasa berdosa. "Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan," kata Yunus
Dari perasaan bersalah itu, laki-laki kelahiran Chittagong tahun 1940 itu mulai mengembangkan konsep pemberdayaan kaum papa. Filosofi yang dia bangun adalah bagaimana membantu kaum miskin agar bisa mengangkat derajat mereka sendiri. Dia tidak ingin memberi ikan, melainkan memberi pancing kepada kaum papa untuk mencari ikan sendiri.
Tekad Yunus semakin bulat setelah mengetahui seorang ibu perajin terjerat utang kepada rentenir demi mendapat modal membuat bangku dari bambu. Sufia yang tinggal di desa dekat universitas tempat Yunus mengajar meminjam uang yang jumlahnya kurang dari Rp 850 untuk setiap bangku. Namun, dia harus mengembalikan utang tersebut berikut bunganya sebesar Rp 180. "Saya berkata pada diri sendiri, oh Tuhan, hanya karena uang segitu dia menjadi budak. Saya tidak mengerti mengapa mereka harus menjadi begitu miskin padahal mereka bisa membuat barang kerajinan yang bagus," kata Yunus.
Untuk membantu orang ini dan beberapa orang lain yang memiliki masalah yang sama, Yunus merogoh koceknya dan mengeluarkan uang setara dengan 27 USD. Yunus begitu terkejut tatkala melihat ekspresi kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka dan memandang Yunus seolah-olah malaikat yang turun dari surga, karena sepanjang hidup mereka, belum pernah ada orang yang memberikan kepercayaan sedemikian rupa bagi mereka.
Yunus lalu berpikir untuk menolong lebih banyak orang dengan cara ini. Lalu ia menghubungi sebuah bank untuk menjual idenya. Namun sayang sekali idenya ini ditolak menta-mentah, dengan alasan mereka tidak punya agunan yang dapat dijadikan sebagai jaminan kredit.
Tentu dapat dimaklumi bahwa bank-bank memiliki pendekatan yang berbeda terhadap penyaluran kredit. Pikiran bankir, pasti hanya orang yang sudah punya penghasilan yang bisa mengembalikan pinjamannya. Kalau pun ada penghasilan, tetapi pinjaman tak dikembalikan, bank bisa menyita aset jaminan kita. Lalu siapalah yang mau meminjamkan orang yang belum punya penghasilan, orang yang miskin, orang yang tak punya aset untuk dijaminkan? Dan sistem semacam ini hanya membuat orang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin.
Yunus geram dengan keadaan ini. Ia lalu bertekad menjungkirbalikkan pola pikir bank konvensional seperti itu. Dia mengawali karyanya ini dengan meminjam uang ke bank atas namanya, lalu menyalurkan uang yang diperolehnya itu kepada masyarakat miskin di sekitarnya. Pada awalnya pihak bankir menertawakan idenya itu dengan berpesan agar Yunus jangan pernah mengharapkan uang itu akan kembali. Namun Yunus begitu yakin. "Sepanjang hidupnya, tidak ada orang yang memberi kepercayaan kepada orang itu. Jika suatu saat dia diberi kepercayaan, dia pasti mau memberikan seluruh hidup untuk membalasnya" demikian keyakinan Yunus.
Dan keyakinan Yunus terjawab. Tepat dalam jangka waktu yang dijanjikan, uang yg dipinjamkan itu kembali 100%. Belajar dari pengalaman ini, pada tahun 1976 dia mulai merintis suatu bank yang dikhususkan untuk memberi kredit tanpa jaminan (!) bagi kalangan ekonomi lemah : Kredit Mikro. Dan selama puluhan tahun, mikro kredit ini terbukti mampu menolong orang-orang dari jeratan para rentenir. Dan yang cukup mengejutkan, pinjaman yang dikucurkan itu 99% dapat terbayar. Artinya, pengemplang bantuan liquiditas sebagaimana yang dikhawatirkan oleh bank konvensional tidak terbukti.
Aku jadi teringat akan suatu teori ekonomi yang dinamakan : Zero Sum Games. Teori ini melukiskan situasi dimana dalam sebuah kompetisi, jumlah perolehan dan kehilangan adalah nol. Artinya jika ada pihak yang menang, pihak lain pasti kalah. Pada zero sum games, keuntungan yang didapatkan oleh seorang peserta berasal dari kerugian peserta-peserta yang lain. Contoh yang paling sederhana adalah perjudian. Pada awal perjudian, seluruh peserta menyetor sejumlah uang taruhan. Pada akhir perjudian uang tersebut dibagikan ke peserta yang menang. Sedangkan peserta yang kalah tidak mendapatkan apapun. Jumlah uang dan manfaat yang dimiliki oleh seluruh peserta pada awal dan akhir permainan adalah nol.
Bank konvensional menolak memberikan kredit kepada kaum miskin-papa karena mereka terkurung dalam pola pikir zero sum games ini. Dalam hal ini mereka memperlakukan kreditor sebagai lawan. Mereka tidak ingin mengalami kekalahan dari lawan, karena dalam konsep mereka lawan tersebut hanya berpikir bagaimana menilep uang mereka.
Pola pikir ini diruntuhkan oleh Kredit Mikro a la Yunus. Di sini tidak ada zero sum games. Kepercayaan yang ditanam di dalam hati mereka tidak akan hilang dengan sia-sia, dan bahkan membuahkan gain yang berlipat ganda. Dan memang demikianlah adanya.
Di sini ada positive sum games.