Archive for May, 2007

Ronce Fridericiana (8) - habis

Thursday, May 31st, 2007

You have so many new mails in your inbox! Begitulah yang aku baca ketika aku membuka e-mail di suatu pagi di bulan April ketika aku sedang menikmati liburanku bersama keluarga. Aku telusuri satu per satu e-mail yang masuk. Beberapa datang dari mailing-list yang tidak terlalu penting, ada juga salam sapa dari kawan-kawanku yang lucu-lucu, dan tidak ketinggalan pula spam yang menawarkan produk yang aneh-aneh.

Tapi satu yang menarik perhatianku saat itu datang dari sekretariat program studiku, judulnya : "Your exam results". Segera hilang minatku untuk membuka e-mail lain. Antara rasa penasaran dan jantung yang berdebar aku buka e-mail yang satu itu.

"Dear Mr. Manik, we would like to congratulate you as you have passed all the exams… bla.. bla.. bla.."

Sesaat setelah membaca kalimat itu, aku serasa meledak. Keraguan yang ada selama ini terjawab sudah. "Ternyata aku bisa..!!" sorakku dalam hati. Sekali lagi aku membuktikan, banyak yang sepertinya mustahil toh bisa aku selesaikan.

Di e-mail itu memang tidak disebutkan berapa nilai yang aku peroleh. Tapi bagiku itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting buatku saat itu adalah aku bisa menikmati liburan bersama keluarga dengan hati gembira dan membagi kegembiraan ini sebagai kado terindah bagi mereka semua.

Belakangan setelah aku kembali ke sini aku menjadi tau, bahwa memang nilaiku bukan tertinggi. Biasa-biasa saja. Tapi, juga bukan yang terendah. Karena masih ada teman-temanku yang tidak seberuntung aku, bahkan harus mengulang ujian karena tidak lulus.

Jadi, itulah sepenggal cerita yang aku rangkai sepanjang perjalananku di Fridericiana ini. Seperti bunga-bunga yang dipadu dalam suatu ronce. Indah-mempesona atau gersang-tanpa makna, tergantung bagaimana merangkainya dan apresiasi kita dalam menikmatinya.

Jika Anda tertarik mengalami petualangan yang aku alami saat ini, aku punya informasi. Tahun 2008 - tepatnya bulan Oktober, nanti program studi ini akan memulai batch baru lagi. Dan dari informasi yang aku terima, DAAD memberi kesempatan 5 beasiswa. Deadline pendaftarannya bulan Agustus di DAAD Jakarta.

Jadi jika Anda orang yang masih suka belajar, kenapa tidak dicoba? Tidak susah kok, asalkan Anda pernah belajar tentang integral dan differensial dijamin Anda bisa. Apalagi kalau masih ingat tentang tabel periodik unsur-unsur, wah itu nilai tambah yang sangat bagus!

So, jika tertarik hubungilah aku. Aku akan kasih tau tips & trik-nya.

(Tamat)

Ronce Fridericiana (7)

Tuesday, May 29th, 2007

Februari 2007, musim dingin mencapai puncaknya. Salju putih menyelimuti seluruh kota Karlsruhe membuat orang-orang enggan meninggalkan rumah dan menghabiskan sebagian besar waktu di dekat perapian yang hangat.

Namun bagiku itu tidak berlaku, karena bagaimanapun aku harus berjuang melawan titik beku untuk menghadapi momen terpenting di akhir semester itu : ujian semester. Inilah untuk pertama kali aku harus menghadapi ujian tertulis setelah hampir 10 tahun berlalu.

Dengan jantung berdebar aku memasuki ruang ujian. Aku sama sekali tidak punya bayangan seperti apa soal ujian yang akan aku hadapi. Dengan berbekal kalkulator fx-3600 dan 2 lembar rumus-rumus dalam kertas ukuran A4 aku duduk di kursi yang telah disediakan untukku, dan pertarungan pun dimulai dengan babak yang dinamakan : Utility Facility Exam!

Satu kata yang bisa menggambarkan perasaanku ketika soal ujian itu dibagikan : shock! Begitu banyak soal, dan begitu sulit. Menit-menit serasa berlalu begitu cepat, hingga tak terasa empat jam lamanya aku duduk tak bergeming dari tempat itu dengan peluh mengalir dari rambutku. Empat jam yang sungguh menyiksa.

Akhirnya pengawas memberi tahu bahwa waktu telah habis. Aku kemasi lembar jawabanku dan mengurutkannya satu-per satu sesuai dengan urutan soal. Aku  hitung, semuanya berjumlah 19 lembar A4. Lalu dengan tubuh gontai aku keluar dari ruang ujian. Pandanganku nanar, dan pikiranku hampa.

Dan sekali lagi, ini hanya babak permulaan. Karena hari-hari berikutnya aku harus mengalami ujian-ujian yang sama untuk mata kuliah yang lain. Pertarungan yang sama, dan penderitaan yang sama.

Semester pun berakhir dengan tanda tanya besar di dalam benakku :  bagaimana nilai yang akan aku peroleh sebagai hasil ujian ini? Libur semester aku nikmati sambil pikiranku tak lepas dari tanda tanya itu.

( … bersambung )

Ronce Fridericiana (6)

Monday, May 28th, 2007

Laboratory Work adalah kegiatan yang paling menyita waktu, pikiran dan tenaga. Meski bobotnya sama sekali tidak ada (= 0 ECTS), ini adalah pelajaran yang tidak bisa dianggap enteng. Bagaimana tidak, karena tidak lulus praktikum artinya tidak boleh ujian untuk semua mata kuliah lain. Selama semester pertama, ada 16 eksperimen yang harus dilakukan di 3 laboratorium: Fuel Lab, Water Chemistry Lab dan Combustion Lab.

Di fuel lab antara lain kami meneliti titik nyala (flash point) dan viskositas bahan bakar cair. Lalu ada pula percobaan miniatur pemurnian minyak mentah dalam bentuk distilasi. Untuk bahan bakar gas, dilakukan pengujian titik ledak serta analisa komposisi melalui gas chromatography.

Di water chemistry lab diteliti berbagai macam sifat-sifat kimiawi air, mencakup pH-metri, electrical conductivity, dan analisa komposisi dengan cara liquid chromatography. Ada pula titrasi asam-basa dan aplikasinya titrasi kompleks dalam menentukan kesadahan air.

Di combustion lab materinya misalnya mengenai teknik pengukuran flow-rate suatu fluida dengan berbagai instrument. Kemudian mempelajari karakteristik turbulent-free-jet, serta ada pula ekperimen tentang kesetimbangan energi pada ruang bakar.

Sebenarnya eksperimen-eksperimen yang dilakukan itu cukup menarik dan menyenangkan; yang memberatkan adalah pembuatan laporan pasca-ekperimen. Karena untuk itu dibutuhkan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk bisa menyelesaikannya dengan tuntas. Belum lagi jika laporan itu dianggap belum layak oleh tutor di laboratorium, sehingga perlu dilakukan perbaikan.

Hal lain yang cukup merepotkan adalah colloqium, yakni semacam pre-test sebelum melaksanakan praktikum, mengenai teori yang menjadi dasar praktikum tersebut. Colloqium itu diadakan secara lisan. Penguji menanyakan soal-soal kepada praktikan, dan harus dijawab saat itu juga. Kadang pertanyaannya bersifat verbal, yang dijawab dengan penjelasan. Tapi kadang berupa soal hitungan, yang jawabannya harus didemonstrasikan di papan tulis. Gagal dalam colloqium ini berarti kita tidak diijinkan mengikuti praktikum hari itu, dan disamping itu tentunya kita akan merasa malu dengan praktikan lainnya.

Pada akhir semester ujian praktikum dilakukan dengan cara lisan. Praktikan akan dipilihkan secara acak salah satu eksperimen untuk didemonstrasikan, dipresentasikan, dan diuji dalam bentuk tanya jawab. Menurutku sangat mendebarkan. Tapi menyenangkan juga, karena pada saat ujian tersebut para dosen tidak sekedar menanyakan, tapi juga menjelaskan hal-hal baru yang mungkin luput dari pengamatan selama eksperimen.

( … bersambung )

Magnet

Sunday, May 20th, 2007

Hari ini aku genap berusia 32 tahun.
Tidak ada balon, tidak ada kue tart, tidak ada lilin, dan tidak ada badut.

Kalau saja dering telepon tidak membangunkanku pagi tadi,
bisa jadi aku lupa jika hari ini adalah ulang tahunku.
Ya, keluargaku tadi menelepon dari Jakarta..
demi untuk menyanyikan lagu "Happy Birthday"

Si Thomas, jagoan kecilku sempat bilang,
kalau dia sebenarnya ingin memberi kado untukku.

"Apa kadonya?" tanyaku

"Magnet Pa." jawabnya

Magnet? Aku cuma tertawa kecil. Ada-ada saja..
Saat itu aku cuma menganggap kalau itu cuma celoteh anak.
Mungkin dia baru saja mengenal mainan baru berupa magnet,
dan sedang terkagum-kagum dengan sifat-sifat kemagnetan itu.

Tapi dalam perjalananku ke gereja pagi tadi,
aku berpikir lagi.. dan mulai melihat dari sisi lain.
Mungin itu tidak sekedar celoteh anak.
Jangan-jangan dia mau mengajakku bermain kata-kata.

Thomas,
kau memang anak yang cerdas.
Kau merindukan aku, dan ingin supaya aku dekat dengamu bukan?
Untuk itulah kau ingin memberi aku magnet itu..
Baiklah..

Tapi perlu kau ketahui,
bahwa kau adalah magnet terbesar bagi hidupku.

Ronce Fridericiana (5)

Saturday, May 19th, 2007

Mata kuliah lain yang bobotnya cukup besar adalah Phenomena of Transport, Storage and Convertion, yakni dengan kredit 6 ECTS. Ini adalah bagian paling teoritis, yang merupakan gabungan dari beberapa materi fundamental di bidang kimia-fisika : Mekanika Fluida (Fluid Mechanics), Termodinamika (Thermodynamics) dan Perpindahan Panas (Heat Transfer). Di sini dibahas tuntas mengenai gejala-gejala fisik dan kimia dalam transfer massa, momentum dan energi.

Jujur, bagiku ini adalah pelajaran yang paling menjadi momok. Selain
karena aku tidak memiliki fundamental yang kuat untuk mengikuti teori
ini, aku juga punya masalah dalam menalar bagaimana fenomena-fenomena
fisik itu diturunkan dalam rumus-rumus yang matematis.

Berbagai hukum dan dalil ciptaan ilmuwan-ilmuwan kuno dibahas tuntas. Tentu perjalanan panjang itu dimulai dari konsep mekanika klasik Newton. Dilanjutkan dengan hipotesis mengenai pergerakan fluida yang dirumuskan secara eksplisit dalam persamaan Navier-Stoke (Navier-Stoke equation). Lalu berangkat ke teori Bernoulli: rumus sapu-jagad yang bisa menjelaskan mulai bagaimana air mengalir di dalam pipa, sampai bagaimana pesawat bisa terangkat dan terbang melayang di angkasa. Dan lain-lain, dan lain-lain.

Pada saat kuliah, biasanya profesor yang mengajar ini menjelaskan sambil menurunkan rumus-rumus tersebut dari A sampai Z. Dan itu semua dilakukan di papan tulis dengan kapur berwarna-warni. Memang profesor-profesor di sini punya gaya yang sangat konservatif.

Ada kalanya aku ikuti semua urutannya dari awal dan menyalinnya dengan rapi ke buku catatan. Tapi tidak jarang - pada saat aku benar-benar hilang - aku cuma duduk dan memandang kosong ke papan tulis yang semakin lama semakin mirip pelajaran bahasa Yunani itu, dikarenakan banyaknya alfabet Yunani yang dijadikan simbol. Dan sangat kebetulan sekali, profesor yang mengajar itu juga orang Yunani. Klop!

Memang sih, ilmu ini sangat besar terapannya dalam dunia teknik. Tapi tentu dalam aplikasi nyata, tidak akan seteoritis itu. Justru rumus-rumus empiris lah yang akan lebih banyak berperan. Tapi dengan menguasai dasar teoritis seperti ini, seseorang dijamin akan menjadi insinyur yang ideal.

Tapi, apakah insinyur (baca: engineer) ideal itu benar ada?

Satu hal yang aku tau pasti adalah bahwa tidak ada engine yang ideal. Nicolas Carnot, insinyur Perancis abad 19 pernah membuat hipotesis tentang engine yang beroperasi secara reversibel : Carnot Engine. Konon, ini adalah engine teoritis yang paling efisien. Sayangnya itu hanya eksis dalam ranah teori. Sampai-sampai seorang penyair (aku lupa namanya) membuat puisi ini :

There once a young man named Carnot

Whose logic was able to show
For a work source proficient
There is none so efficient

As an engine that simply won’t go

Jadi,
Apakah engine ideal itu ada ? Jelas tidak ada

Apakah engineer ideal itu ada ? Sepertinya juga tidak ada..
dan kalau pun memang ada, sudah pasti bukan aku  :)

(… bersambung)

Ronce Fridericiana (4)

Friday, May 18th, 2007

Utility Facilities adalah nama mata kuliah dengan porsi terbesar, yakni dengan kredit sebesar 8 ECTS. Di sini kami belajar tentang disain dan operasi yang berkaitan dengan produksi dan distribusi fasilitas-utilitas publik seperti bahan bakar gas, pencairan LNG, pemurnian minyak mentah, gasifikasi batubara, dll. Di samping itu dibahas juga mengenai situasi pasar minyak dunia, faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga minyak, serta kapita selekta dari beberapa kasus tambang minyak bumi di dunia.

Bicara tentang disain fasilitas tentu adalah berkaitan dengan piping dan tank-storage: bagaimana merancang grid distribusi dari satu titik ke area tertentu, bagaimana memaintain aliran streamline dari masalah pressure drop, dan tidak ketinggalan mengenai odorisasi gas alam demi mempermudah deteksi kebocoran untuk alasan keselamatan.

Dari mata kuliah ini aku jadi paham bagaimana Jerman yang miskin minyak bumi (apalagi gas alam) bisa memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya. Jerman telah lama mengembangkan teknologi gasifikasi dari bahan bakar solid baik dari batu bara maupun biomassa untuk mengurangi ketergantungan impor gas alamnya dari negara lain. Sangat mengagumkan bagaimana mereka bisa menciptakan banyak unit insenirasi (incenirator) limbah organik padat - yang pada umumnya adalah sampah rumah tangga - menjadi sumber gas methana, yang selanjutnya digunakan sebagai pembangkit listrik. Sungguh ironis jika dibandingkan dengan Indonesia yang limpah ruah gas alamnya justru sedang menghadapi krisis LPG.

Di sini juga aku mempelajari lebih dalam tentang sifat-sifat kimia dan fisika (chemical and physical properties) dari bermacam-macam bahan bakar: senyawa apa saja yang mengakibatkan suatu benda dapat bahan bakar (combustible), bagaimana kerapatan energi (energy density) suatu bahan bakar ditentukan, dan bagaimana mendisain komposisi bahan bakar agar semakin tinggi nilai kalorifiknya.

Aplikasi sederhananya adalah begini. Hidrokarbon adalah senyawa yang mempunyai nilai kalorifik sangat tinggi. Artinya setiap material yang mengandung hidrokarbon, tentunya berpotensi menjadi bahan bakar. Gas alam (natural gas) punya kandungan methana yang tinggi, sehingga mudah terbakar. LPG bahkan punya kandungan hidrokarbon yang lebih tinggi lagi, yakni propana dan butana, maka nilai kalorifiknya lebih tinggi lagi.

Kesimpulannya bahan apapun yang mengandung hidrokarbon semacam itu, tentu bahan itu berpotensi menjadi bahan bakar. Apa contohnya?

Kentut.
– hah !!
Iya, kenapa tidak?

Dari beberapa penelitian ditemukan bahwa kentut mengandung 59% nitrogen, 21% hidrogen, 9% karbon dioksida, 7% methana dan 4 % oksigen, lalu sisanya adalah hidrogen sulfida - yang membuat kentut tercium bau. Dari komposisi tersebut, senyawa yang berpotensi untuk dibakar (combustible) adalah hidrogen dan methana yang porsinya mencapai hampir 30% dari volume kentut itu sendiri.

Mari kita berandai-andai. Debit aliran (volume flow rate) kentut manusia normal - sekali lagi, ini manusia normal lho - adalah 0,5 liter per hari. Anggap saja populasi manusia di Jakarta 10 juta jiwa (bisa bertambah kalau Sutiyoso sukses dengan konsep megapolitannya), maka volume kentut yang  bisa dihasilkan adalah 5 juta liter per hari dengan combustible part sebanyak 30%-nya, yakni 1,5 juta liter per hari. Bayangkan berapa banyak kompor gas yang bisa dinyalakan dengan bahan bakar ini.

Potensial sekali bukan?
Tinggal bagaimana merancang sistem aliran kentut ini ke suatu sentral pemurnian untuk membuang gas-gas yang tidak terbakar. Jika proyek ini bisa berhasil, sungguh suatu loncatan besar dalam kehidupan manusia. Anda tertarik?

(bersambung… )


————————-

Senarai

ECTS = European Credit Transfer and Accumulation System, semacam SKS

Ronce Fridericiana (3)

Thursday, May 17th, 2007

Hari-hari berjalan terus dan aku pun larut dalam rutinitas : mendengarkan ceramah, mengorganisir catatan, menyelesaikan soal-soal
latihan, bekerja di laboratorium dan tentu saja membuat laporan
praktikum. Agak kikuk juga pada saat pertama kali memulai hari-hari perkuliahan, maklum sudah lama sekali aku terlepas dari dinamika kehidupan kampus semacam itu. Namun bagiamanapun, aku coba untuk beradaptasi kembali sambil mengingat-ingat masa lalu yang pernah aku jalani di sebuah kota di Jawa, 8 - 12 tahun yang lalu.

Cukup berat memang. Dan aku tau pasti bahwa hanya ada satu cara untuk meringankan beban berat ini: motivasi!  Lalu apa yang bisa aku buat sebagai motivasi?

Begini. Secara garis besar, ada 4 bidang keahlian yang aku pelajari di tempat ini : energi bahan bakar (fuel energy), teknologi pembakaran (combustion technology), kimia air (water chemistry), dan manajemen limbah (waste management). Cukup campur aduk memang, bahkan dari sudut pandang tertentu terlihat kontras, bayangkan bagaimana mungkin menghubungkan air dan bahan bakar, sementara air dan minyak saja tidak bisa bercampur. Namun demikian, bidang-bidang itu adalah hal yang sangat vital dan mendasar dalam kehidupan manusia.

Astrologi kuno dalam beberapa kebudayaan menyebutkan ada 4 (beberapa budaya lain menyebut 5) elemen utama dalam dunia ini : air, api, tanah, udara (budaya lain menyebut juga logam dan kayu). Jika dihubung-hubungkan, kelihatannya bidang yang aku pelajari saat ini sangat berkaitan erat dengan elemen-elemen utama tersebut. Water chemistry berkaitan dengan unsur air, fuel energy dan combustion technology dengan api, sementara waste management berkaitan dengan tanah dan udara.

Komplit dan mendasar sekali bukan? - itulah kurang lebih yang menjadi salah satu motivasi.