Hari ini di Jerman ada libur nasional. Biasa, kalau sudah hari libur - termasuk libur akhir pekan (weekend) - di sini kita gak bisa berbuat apa-apa kecuali bangun lebih siang dan bermalas-malasan sepanjang hari; sebab semua orang libur, semua tempat kerja seperti bank, kantor pos tidak beroperasi; tidak hanya itu : pasar, mall sampai toko-toko kecil sekalipun ikut tutup. Yang masih tetap bekerja hanya fasilitas publik seperti polisi, rumah sakit dan transportasi. Kontras sekali keadaannya dengan Indonesia, dimana hari minggu dan hari libur justru waktunya orang-orang berbelanja dan window-shopping di mall dan pusat-pusat perbelanjaan.
Oleh karena itu ada baiknya kita cermat melihat kalender untuk mengantisipasi hari libur, terutama apabila libur itu bertepatan dengan weekend. Jangan sampai stok logistik habis pada saat itu, yang mengakibatkan kita bisa kelaparan. Aku pernah mengalaminya. Suatu hari aku baru sadar bahwa persediaan berasku sudah habis di hari Sabtu malam. Akhirnya aku terpaksa tidak makan nasi di hari Minggunya, dan ini adalah suatu siksaan besar buatku. Ya, itulah cerita tentang hari libur di sini.
Ngomong-ngomong, aku banyak mendapat pertanyaan dari teman-temanku mengenai kebiasaan-kebiasaan di sini. Mungkin ada baiknya aku cerita di sini tentang frequently asked question itu.
Bahasa
Di Jerman semua orang menggunakan Bahasa Jerman. Tapi dengan modal Bahasa Inggris kita masih tetap bisa survive di sini, karena cukup banyak orang Jerman yang familiar dan fasih ber-bahasa Inggris khususnya mereka yang bekerja di bidang yang berurusan dengan kepentingan publik, seperti polisi, pegawai bank, pegawai pos, dll. Jerman jauh berbeda dengan Jepang atau Perancis yang anti Bahasa Inggris.
Alfabet
Di Jerman, selain memakai alfabet biasa (A-Z), ada beberapa huruf tambahan, seperti ä, ü, ö, dan ß. Titik dua di atas huruf a, u dan o disebut umlaut. Ä dibaca seperti "ae", ü seperti "iu", dan ö seperti "oe". Sedangkan ß berbunyi "ss".
Untuk mengakomodasi adanya huruf lain ini, maka keyboard komputer di Jerman ditambah beberapa tuts lain. Selain itu, ada sedikit perbedaan lain untuk keyboard dimana huruf Y dan Z bertukar tempat. Sehingga tuts kiri atas berturut-turut adalah QWERTZ.
Iklim
Sebagaimana negara dengan iklim sub-tropis, maka di sini juga dikenal 4 musim. Musim semi (Frühling), musim panas (Sommer), musim gugur (Herbst) dan musim dingin (Winter). Di tempatku berada sekarang (Karlsruhe), menurut orang Jerman adalah tempat terhangat di Jerman, dimana range temperatur berkisar dari -5 °C (Winter) sampai 34 °C (Sommer). Di beberapa tempat lain temperatur bisa mencapai - 15°C. Saat ini sedang musim gugur, angin bertiup kencang dan daun-daun mulai rontok.
Waktu
Di Jerman hanya ada 1 daerah waktu. Namun ada sedikit perbedaan antara musim dingin dan musim panas. Di musim dingin waktu yang dipakai adalah GMT +1, sedangkan pada musim panas dipakai GMT +2. Pergantian itu dilakukan di minggu terakhir bulan Oktober dan minggu terakhir di bulan April. Jadi pada tanggal 30 Oktober, beberapa hari yang lalu - ada penyesuaian waktu. Secara serentak waktu dimundurkan 1 jam. Ini dilakukan sekitar pukul 3 dinihari, sehingga pada tanggal itu orang bisa tidur 1 jam lebih panjang. Jam-jam di stasiun dan display-display di tengah kota umunya sudah diprogram secara otomatis untuk menyesuaikan pada waktu itu. Jadi, saat ini perbedaan waktu dengan Indonesia Barat (WIB) menjadi 6 jam.
Lalu-lintas
Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa - berbeda dengan di Indonesia - di Jerman orang menggunakan bagian jalan sebelah kanan untuk berjalan. Satu hal lain yang membedakan Indonesia dan Jerman adalah tingkat kedisiplinan pengguna jalan. Di sini rambu lalu lintas dan marka jalan betul-betul diperhatikan, tidak cuma sekedar aksesoris tanpa makna. Mungkin itu juga sebabnya maka sampai hari ini aku belum pernah menemukan seorang pun polisi lalu-lintas di sini. Padahal di Indonesia, di setiap perempatan jalan sudah ada lampu merah (traffic-light), masih ada polisi yang mengatur jalan, masih dibantu lagi oleh "pak ogah", kadang-kadang tidak cukup cuma itu, masih ditambah lagi patung polisi.
Aksesibilitas Orang Cacat
Satu yang membuat aku sangat terkesan di sini adalah aksesibilitas orang cacat. Ya, karena aku pernah merasakan bagaimana sedihnya menjadi orang yang invalid. Di sini setiap gedung publik yang memakai tangga, selalu dilengkapi dengan bidang miring yang memungkinkan pemakai kursi roda atau kruk bisa melintas.
Di samping itu, setiap lampu merah dilengkapi dengan tombol yang bisa ditekan apabila ada orang berkursi roda atau memakai tongkat yang ingin melintas. Ini dimaksudkan untuk mengatur timer, agar lampu hijau bisa lebih lama, sehingga mereka dapat menyeberang dengan aman. Bukan hanya itu, bagi tuna netra juga ada bunyi tertentu di lampu merah yang membuat mereka bisa membedakan kapan lampu hijau - kapan lampu merah. Maka tidak mengherankan jika orang cacat di sini bisa sangat mandiri.
Sopan Santun dan Kebiasaan
Orang Jerman umumnya pendiam. Tidak banyak ngobrol seperti kita di Indonesia. Tapi dibalik itu sebenarnya mereka ramah. Jika kita berpapasan dengan mereka di suatu tempat, dan kita mulai menyapa mereka dengan "Guten Tag" atau "Hallo", mereka pasti tersenyum ramah dan membalas sapaan kita, bahkan selanjutnya mereka mungkin akan memulai percakapan.
Apabila kita membuka pintu untuk masuk atau keluar dari suatu ruangan dan kita lihat di belakang kita ada orang lain, kita sebaiknya menahan pintu itu untuk orang di belakang kita. itu adalah suatu bentuk kesopanan di sini. Jika kita membiarkan pintu itu tertutup, kita dianggap tidak sopan.
Pada saat kita belanja dengan koin, lebih sopan jika koin itu kita serahkan langsung ke tangan penerima, jangan diletakkan di meja - itu tidak sopan. Demikian juga kalau kita menerima kembalian dalam bentuk koin, kita sebaiknya menadahkan tangan untuk menerima koin itu.
Makanan
Wah untuk hal ini aku no comment
Semua kembali ke selera masing-masing. Tapi bagiku, rice is always the best.
Ok, sekian dulu ceritaku saat ini.
Sampai jumpa!
Viele Grüße von Deutschland