Lebaran
Thursday, October 26th, 2006Ups..! Aku terlambat menyadari datangnya hari lebaran. Astafirullah! Biasanya beberapa hari menjelang lebaran aku sudah sibuk menulis kartu ucapan selamat untuk teman-teman terdekatku yang merayakannya. Kini, aku baru mengirim satu kartupos - yang aku yakin pasti terlambat diterima. Ya, memang aku lebih suka mengucapkan selamat lewat kartu daripada pesan singkat telepon seluler. Agak ketinggalan jaman sedikit, tapi biarlah..
Maka, dengan sedih aku harus mengakui telah khilaf.
Bicara soal lebaran, aku memang tidak merayakan lebaran dalam arti perayaan religius. Namun demikian lebaran tetap punya arti yang tidak kalah penting bagiku. Aku ingat semenjak aku kecil aku selalu turut merayakan suasana lebaran itu dengan teman-teman sepermainan. Ikut berpesta dan bergembira dan tidak lupa menikmati berbagai sajian khasnya.
Nuansa lebaran sebagai suatu hari besar semakin terasa semenjak aku berdiam di salah satu perkampungan Betawi di pinggiran Jakarta. Di perkampungan itu sesudah selesai Sholat Ied, penduduk se-RT akan tumpah ke jalan kampung untuk bersalam-salaman. Ini dilakukan bukan hanya oleh penganut muslim saja, tapi juga pemeluk agama lain. Unik sekali!
Ketika aku baru bermukim di sana, sekitar tahun 2001 aku sempat sedikit kaget ketika pagi setelah Sholat Ied, pintu rumahku diketuk - dan beberapa orang datang dan mengucapkan "Minal ‘aidin.." Aku agak kikuk, tapi ketika aku melihat Pak Wayan -tetanggaku, seorang penganut Hindu- juga sedang bersalam-salaman di depan jalan, aku menjadi larut.
Setelah itu, untuk tahun-tahun berikutnya adegan itu bukan menjadi hal yang asing lagi buatku. Jadi jangan heran jika pada suatu hari setelah Sholat Ied, aku kedapatan berbaju koko dan berpeci sambil bersalam-salaman. Itu bukan berarti ada seorang mu’allaf baru :p tapi memang demikianlah tradisi di situ.. di Ujung Aspal Pondok Gede - kata Iwan Fals
Tapi lain di Batavia, lain di Bavaria. Di sini tidak terlihat sama sekali suasana lebaran. Tidak ada suasana pesta. Semua dilalui dengan biasa-biasa saja. Ini membuatku merindukan ketupat-nya Mpok Ida, nasi uduk-nya Ngkong Dirman dan opor ayam-nya Bu Dhe Jum. Lebaran yang sepi untukku. Seorang temanku di sini masih lebih beruntung karena kebetulan berada di kota yang dengan Konjen RI. Dia bisa merayakan lebaran bersama teman-teman Indonesia di situ. Sementara aku, hiks…
Tapi biar bagaimana-pun, dalam kesempatan ini ijinkan aku untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1427 H. Ja’alana Llaahu wa-iyyakum mina l’aidiin wa l-faiziin al-maqbuuliin. Semoga 4jji berkenan atas ibadah kita dan menjadikan kita kembali mencapai keunggulan ‘kemenangan’ hidup.
Laisa l‘iidu liman tajammala bil libasi wal markub, innama l‘iidu liman ghufirat lahu dzunub. (Idul Fitri) bukannya hari raya bagi orang-orang yang berpakaian dan berkendaraan mewah, tetapi bagi orang yang dosanya diampuni.
Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar.Laa ilaaha illa Laah, wa-Llaahu akbar! Allaahu akbar, wa li-Llaahi l-hamd.



