Taruna Mandiri Life Camp
Sunday, September 10th, 2006Hari ini badanku pegal-pegal. Apa sebab? Begini, aku baru saja pulang dari Desa Cikretek, Ciawi Jawa barat. Aku berada di sana untuk acara kamp selama 6 dan 7 September kemarin. Sebenarnya acara kamp itu sendiri berdurasi tiga hari, tapi karena ada keperluan lain, aku pulang lebih cepat dari jadwal.
Dan ini bukan acara kamp biasa. Namanya pun sudah menunjukkan suatu perbedaan. Ini suatu acara yang dirancang untuk membekali anak-anak usia belia agar dapat memiliki spirit juang yang tinggi untuk dapat menghadapi realita hidup apabila mereka kelak menjadi dewasa. Maka jangan bayangkan ada acara hura-hura, plesir dan semacamnya.
Sebanyak 120 orang anak usia 15-20 tahun dari keluarga pra-sejahtera dikumpulkan di sana oleh dua yayasan, "Panti Nugeraha" dan "Marga Sejahtera". Kedua Yayasan ini adalah LSM yang bergerak dalam pembinaan generasi muda dengan prinsip "memberi kail bukan ikan". Mereka membantu anak-anak yang kurang mampu - tapi tidak dengan memberi sumbangan materi - melainkan dengan memberi bekal kursus dan pelatihan.
Taruna Mandiri Life Camp ini sendiri dibawakan oleh "Bidadari Word", suatu konsultan "mindset motivation" dibawah komando seorang pakar kepelatihan bernama Khrisnamurti.
Apa yang membuat pelatihan ini berbeda adalah di sini diciptakan suatu kondisi dimana semua orang, baik peserta pelatihan maupun panitia berada dalam suatu kota terisolir yang lepas dari dunia ramai. Inilah simulasi hidup. Di "kota" ini semua orang akan dipaksa untuk bisa survive dengan modal yang sama. Ya, kurang lebih mirip lah dengan cerita Robinson Crusoe, cuma bedanya kalau Robinson Crusoe terdampar sendirian, di sini kita terdampar ber-150-an orang
Jadi, begitu datang setiap peserta dibekali dengan kupon yang diumpamakan sebagai uang dalam dunia nyata. Dengan kupon ini lah peserta dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, karena di kamp ini tidak ada yang gratis. Makan, minum, tidur, mandi sampai kencing semua harus bayar. Hanya kentut lah yang masih gratis. Dan membayar pun hanya bisa dengan kupon yang diberikan itu. Mata uang lain tidak berlaku, jangankan Rupiah, USD dan Euro pun tak ada harganya.
Saat semua peserta dibekali 15 ribu dan panitia mendapat 200 ribu, maka permainan pun dimulai. Kenapa ada perbedaan? Ya, itu penting untuk memberi pengertian bahwa di dunia ini memang ada kesenjangan, ada yang dari lahir mbrojol sudah kaya ada yang tak punya apa-apa.
Tentu dengan bekal 15 ribu itu peserta harus berpikir kreatif bagaimana mereka dapat hidup. Untuk membeli makan saja harus menghabiskan sekitar 5-6 ribu. Logikanya kupon segitu hanya cukup untuk 3 kali makan, padahal mereka harus tinggal di situ selama 3 hari, atau sekitar 9 kali makan. Mau tidak mau mereka harus kreatif.
Apa yang bisa mereka lakukan untuk hidup? Nah, di sinilah inti training itu. Sebagai stimulus, panitia membuka beberapa "lowongan pekerjaan" yang bisa memberi mereka gaji, misalnya tukang bersih-bersih, penjaga malam, satpam, dll. Tapi hidup ini keras bung! lowongan yang tersedia sangat jauh dari jumlah populasi. Mereka harus berjuang keras untuk dapat pekerjaan.
Sementara itu, panitia juga membuka "bank". Para peserta diberi kesempatan untuk menabung di "bank". Ini dibuat untuk melatih budaya menabung dalam diri mereka. Untuk memacu mereka menabung, diberi insentif bagi penabung pertama, penabung terbanyak, dll. Memang kurang rasional memberi insentif jauh lebih besar dari jumlah tabungan, tapi ini memang dikondisikan seperti itu supaya mereka mendapat pengertian bahwa menabung itu penting dan menguntungkan.
Pada sore hari, para peserta dipancing dengan tawaran-tawaran menggiurkan yang bisa melipatgandakan uang tanpa usaha, seperti "togel" (sejenis lotre), investasi yang tidak logis dimana dengan menyetor sejumlah uang mereka dijanjikan akan mendapat sekian kali lipat esok harinya. Sungguh menyedihkan, karena ternyata banyak sekali dari mereka yang tertarik untuk itu. Begitu tawaran itu dibuka, yang mendaftar langsung antri berderet-deret. Ini betul-betul potret dunia nyata, dimana ketika tekanan ekonomi sudah diluar batas ketahanan, orang akan mudah terseret pada mimpi-mimpi hidup enak tanpa usaha. Namun karena ini adalah pelatihan mental, maka dikondisikan bahwa semua peserta lotre itu kalah, angka yang mereka tebak tak satu pun keluar. Janji investor juga janji palsu, uang yang mereka investasikan semua hangus dengan alasan bisnis gagal. Ini adalah shock teraphy untuk menyadarkan tidak ada yang namanya hidup enak tanpa usaha.
Sekitar jam 8 malam di hari pertama, semua peserta ditanyakan berapa "stok uang" mereka yang masih sisa. Ada yang tinggal 5 ribu, 3 ribu, bahkan ada yang nol. Mereka adalah anak-anak yang tidak bekerja, dan ikut-ikutan beli togel. Tapi yang mengejutkan, ada yang sudah punya 50 ribu - 60 ribu. Ketika ditanya dari mana sumbernya, mereka menjawab berasal dari gaji kerja sehari, insentif tabungan, dll.
Malam berganti pagi dan matahari bersinar lagi menandakan hari baru telah datang. Pagi ini suatu perubahan telah terlihat. Ketika stand togel dibuka kembali, tidak satu orang pun datang membeli. Mereka telah sedikit disadarkan. Bahkan beberapa di antara mereka mulai mencoba ide kreatif. Ketika panitia menjual mie instan dan kopi instan, beberapa orang memborongnya dan mendirikan warung. Mereka berjualan mie rebus dan kopi seduh. Dengan modal tungku batu dan bahan bakar ranting kering mereka memasak. Tentu ini didukung penuh oleh panitia. Sebagai tanda simpati dan apresiasi semua pantia memesan mie mereka. Peserta lain pun tak kalah kreatif, mereka menawarkan jasa pijat kepada panitia. Singkatnya dalam tempo 1 hari, mindset mereka telah terlihat berubah, dari yang tadinya konsumtif menjadi produktif. Yang tadinya pemimpi kini menjadi pemimpin.
Ketika matahari hampir tepat di atas kepala, mereka diberi waktu untuk sharing per kelompok 9-10 orang. Di sini mereka diminta untuk menjelaskan latar belakang mereka, keluarga, hoby dan cita-cita. Aku terharu ketika mereka menceritakan latar belakangnya. Ada yang anak tukang ojeg, ada yang bapaknya pengangguran dan ibunya kuli cuci, ada yang putus sekolah dan menjadi pengamen tapi berhasil membiayai dirinya sampai mendapati ijazah Paket C (setara SMA untuk anak putus sekolah) dll. Ada juga seorang anak ex-atlit pelatda yang terpaksa mengakhiri kariernya sebagai atlit lari karena mengalami patah tulang kering.Tapi satu hal yang pasti, semua mereka mempunyai cita-cita, mempunyai mimpi dan harapan. Itulah hal yang paling menguatkan. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Kalau kita berpikir kita bisa, kita pasti bisa bukan?
Tapi sayang sekali aku tak bisa mengikuti pelatihan itu sampai selesai. Jam 3 sore aku turun gunung, kembali ke Jakarta. Sebelum pulang aku pamit pada Mas Kris (panggilan akrab Khrisnamurti). Saat itu dia memberikan kartu namanya kepadaku. Di kartu itu ada foto, alamat e-mail dan nomor telepon selulernya. Tapi yang paling penting di situ ada satu kalimat yang indah. Kredo kecil yang menjadi semboyannya "Anything is POSSIBLE if You Really Want To".
Anda benar, Mas Kris. Aku percaya itu. Temanku Barney si Dinosaurus juga bilang begitu :
Anything can happen, anything can be. Anything can happen in the land of make believe.
_________________________
Terima kasih kepada :
-
Pak Khrisnamurti, karena sudah mengijinkan aku ikut gabung di acara Anda yang luar biasa.
-
Ko Dian, yang sudah mengijinkan aku nebeng di Volvo-mu untuk berangkat ke Ciawi.
-
Bung Ambro, yang sudah banyak cerita tentang pengalamanmu. Salam buat teman-teman ex-GI.
-
Ci Agnes, yang sudah menjadi pintu gerbang buatku untuk masuk dalam link ini.