Archive for August, 2006

Dua Pucuk Surat

Sunday, August 27th, 2006

Beberapa hari sebelum pengumuman diterimanya aku di STF Driyarkara, aku menerima dua pucuk surat. Menerima surat adalah hal biasa buatku. Namun surat ini lain dari yang lain.

Aku buka surat yang pertama :

======================================================
Universität Karlsruhe (TH) | Forschunguniversität • gegründet 1825
======================================================

Sehr geehrte Herr Manik,

Nach sorgfälttiger Prüfung Ihrer Unterlagen durch die zuständigen Stellen möchten wir Ihnen heute einen Stidenplatz im Universität Karlsruhe anbiten. Wir würden uns seher freuen, wenn Sie unser Angebot annehmen würden und sich für die Universität Karlsruhe als Studienort entscheiden.

Mit freundlichen Grüßen
A. Niessen
————-

Lalu aku buka lagi surat kedua :

====================================
Deutscher Akademischer Austausch Dienst
====================================

Stipendienurkunde

Im Rahmen seiner Programme veleicht der DAAD Yosef Manik ein Stipendium zur wissenschaftlichen Aus- und Fortbildung in Deutschland. Ich beglückwünsche Sie zu diesem Stipendium and wünsche Ihnen einen erfolgreichen Aufenthalt in Deutschland.

Prof. Dr. T. Berchem
————————

Ya, surat ini dua-duanya memakai bahasa Jerman. Trus, apa masalahnya? Atau dalam bahasa ABeGe, “so what gitu loh !?”

Spreche ich Deutsch? Nein !  Nah, itu dia masalahnya.

Tapi aku tidak habis akal. Aku pergi ke toko buku terdekat dan membeli „worterbuch“ – kamus Jerman-Indonesia – lalu menerjemahkan kata demi kata. So, simple! Dan hasilnya : Ich verstehe ein Bißchen :)

Dalam dialek Betawi, kedua surat itu berbunyi kurang lebih : "Sef! Ente boleh sekolah ke Jerman di Universitas Karlsruhe. Umpame duit ente kagak cukup nih ye, DAAD bakal ngebantuin dah."

Selesai membaca, kedua surat itu aku lipat kembali dan aku masukkan ke dalam amplopnya. Aku menghela nafas panjang. Hidup ini kadang-kadang mirip suatu acara yang dipandu oleh Nico Siahaan di salah satu TV Swasta di Jakarta*). Kita dihadapkan dalam banyak pilihan. Pilihan-pilihan yang isinya tidak akan pernah kita ketahui sebelum kita menyingkap tabir penutupnya. Tirai 1 atau Tirai 2 atau Tirai 3 ? Hadiah kejutan atau hadiah hiburan ? Atau malah Zonk !!???

Deal ?? Deal………………
_____________________
Glossary

Spreche ich Deutsch? Nein !  = Apakah saya bisa berbahasa Jerman? Tidak !
worterbuch = kamus
Ich verstehe ein Bißchen = Saya mengerti sedikit

*) Super Deal 2 Milyar, ditayangkan di ANTV

Menjadi Filsuf? (6) - habis

Wednesday, August 23rd, 2006

Akan Saya Pikir Dulu

Beberapa hari setelah pengumuman kelulusan itu, aku kembali lagi ke Driyarkara untuk memenuhi jadwal wawancara. Jam 6 sore aku sampai, dan menemui bagian sekretariat. Oleh ibu pengurus sekretariat itu aku diminta masuk ke ruang kerja Dr. Karlina. Di situ Dr. Karlina telah menunggu, dan beliau sendiri yang akan mewawancarai.

Segera saja aku menuju ruang yang dimaksud. Ruang itu ternyata tidak terlalu jauh dari sekretariat. Aku mengetuk pintu, lalu setelah ada jawaban aku pun masuk. Begitu aku masuk aku langsung tercengang melihat ruang berukuran kira-kira 3×3 itu. Sejauh mata memandang, di semua rak buku, di atas meja, di lantai bahkan di setiap sudut hanyalah onggokan buku-buku. Aku jadi teringat ketika masih kuliah dulu, pernah menemui ruangan serupa itu, yakni di rumah salah seorang dosen statistika di ITS, Pak Kresnayana. Persis sama.

Belum lagi aku terlepas dari rasa kaget, tiba-tiba Dr. Karlina sudah mulai menyapaku untuk selanjutnya dia mulai mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Singkatnya pertanyaan-pertanyaan pertama itu berkisar menanyakan motivasi apa yang mendasari aku mengambil program studi itu, kenapa berpindah jalur dari engineering ke filsafat, dan apa yang membuat aku yakin dapat melewati masa studi nanti agar tidak putus di tengah jalan. Bagiku sendiri pertanyaan-pertanyaan itu tidaklah sulit. Semua dapat aku jawab dengan meyakinkan. Memang selama ini aku punya talenta yang menurutku cukup bagus dalam hal berbicara secara persuasif. Aku cukup terbiasa dalam meyakinkan orang lain bahkan untuk hal-hal yang aku sendiri kurang meyakini. :)

Pada bagian akhir beliau mulai menceritakan gambaran umum perkuliahan di bidang filsafat, kesulitan-kesulitan apa saja yang mungkin akan dihadapi, pengalaman orang-orang yang frustrasi di tengah jalan karena mendapatkan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan mereka, sampai dengan topik-topik thesis apa saja yang selama ini pernah diteliti.

Akhirnya, secara tak terduga dia menanyakan suatu pertanyaan yang sebelumnya tidak aku bayangkan sama sekali. "Apa kira-kira topik thesis yang akan Anda ambil nanti, sudah ada gambaran?"

Aku langsung terdiam. Pertanyaan ini berat dan jawabannya tidak aku siapkan sama sekali.

Beberapa detik bibirku terkatup dan aku menerawang memandang langit-langit. Aku berfikir keras, dan seperti biasa otakku (agak) encer dalam situasi terdesak. Tiba-tiba suatu ide muncul. Ide gila sih sebenarnya.

"Kajian atas Fenomena Karma : antara Fakta dan Hipotesa" jawabku sambil tertawa dalam hati

Aku mencuri lihat ekspresi Bu Karlina, apakah dia akan marah atau tertawa. Ternyata diluar dugaanku, beliau malah menanggapi serius dan langsung menyambung dengan pertanyaan baru, apakah aku sudah mempunyai literatur yang mendukung, metode apa kira-kira yang akan aku lakukan dan lain-lain.

Wah aku makin terdesak. Terlanjur basah ya sudah mandi sekali *), pikirku. Langsung saja aku jawab sekenanya, "Ya dengan scientific method biasa, Bu. Buat hipotesa, kumpulkan data, lakukan pengujian dan ambil kesimpulan."

Beliau bertanya lagi, "Lalu bagaimana cara pengambilan datanya?"

"Begini Bu, mula-mula saya akan cari dulu responden yang sahih dan valid; misalnya orang-orang yang ditimpa kemalangan, korban kekerasan, orang-orang yang mengalami kecelakaan, pengusaha yang jatuh bangkrut, dll. Lalu mereka kita sodori kuisioner yang antara lain menanyakan masa lalu mereka, apakah pernah menzholimi orang lain, berbuat jahat, sampai kenakalan-kenakalan kecil seperti meng-iseng-i orang, membunuh tikus, dsb. Setelah datanya lengkap, baru kemudian kita analisa. Kita lihat polanya, dari situ ‘kan kita bisa membuat kesimpulan. Misalnya : yang dulunya suka omong jorok, misuh-misuh dll sekian tahun kemudian akan mengalami kesialan ditinggal lari pacarnya; yang masa kecilnya suka membunuh tikus setelah besar akan mendapat petaka berupa disfungsi ereksi, gitu deh Bu.." jawabku tanpa ekspresi.

Anehnya Dr. Karlina ini tetap saja menganggap serius dan melanjutkan, "Kalau begitu Anda perlu mendalami Epistemologi.. Filsafat Ilmu Pengetahuan."

".. dan Metafisika juga kali, Bu" potongku segera, menutup pembicaraan.

Akhirnya Dr. Karlina mengakhiri wawancara itu dengan mengucapkan, "Selamat bergabung di Program Magister Filsafat Driyarkara. Anda diterima."

"Terima kasih, Bu." jawabku. Lalu aku lanjutkan, "Akan saya pikir-pikir dulu" (dalam hati sih..).

Ya, akan aku pikir-pikir dulu.. karena ada satu kejutan lain yang membuatku perlu pikir-pikir. Kejutan apa itu? Tunggu ya..

________________________
Glossarry

misuh-misuh = mengumpat, memaki (dialek Suroboyoan)

*) many thanks to Meggi Z.

Menjadi Filsuf? (5)

Tuesday, August 22nd, 2006

Lulus !

Beberapa hari setelah test masuk Program Pascasarjana Filsafat di STF Driyarkara aku kembali ke kampus itu untuk sekedar memuaskan rasa penasaran akan hasil test itu. Seperti sebelumnya - pun sepulang kantor - aku mengarahkan rute kendaraanku menuju kawasan Rawasari,

Meski boleh dikata motivasiku ikut test ini hanya "main-main", namun menunggu hasil ujian itu cukup mendebarkan juga ternyata. Selepas SMA dulu aku pernah dua kali menunggu pengumuman hasil UMPTN (dan dua kali pula lulus di tempat yang berbeda). Tapi setiap kali menunggu pengumuman kelulusan, rasanya sungguh mendebarkan. Maka dengan jantung yang berdegup kencang aku melangkah ke ruang sekretariat. Di situ ada satu papan pengumuman besar, dan langsung saja mataku mencari pengumuman hasil test masuk Program Pascasarjana Filsafat. Ternyata tidak sulit untuk mencari, di bagian tengah papan itu ada selembar kertas ukuran A4 dan di-higliht dengan stabilo oranye yang adalah pengumuman hasil test yang aku cari.

Cepat saja aku baca nama-nama yang ditulis dalam bentuk tabel itu, Ternyata diatur berurut abjad. Tanpa menunggu lagi aku langsung arahkan sorotan mataku ke bagian bawah. Ah.. itu dia, tertulis Y. Barita Sar Manik, S.T. Aku sempat tersenyum melihat cara mereka menulis namaku. Kurang lazim aku melihat namaku ditulis seperti itu. Aku jarang menyingkat nama depan, biasanya yang aku singkat adalah kedua nama tengah, atau malah aku hilangkan sama sekali. Satu hal lagi, gelar akademisku ditulis juga. Sudah sekitar 8 tahun aku tidak pernah merasa menyandang gelar S.T. Dalam profesiku sehari-hari sebagai engineer di perusahaan manufaktur, biasanya namaku diembel-embeli titel "Ir." - seperti yang disandang Bung Karno. Tapi kini, bersama para peserta test lain, namaku diimbuhi gelar akademis yang asli - sesuai dengan yang tertulis di ijazah.

Beberapa detik aku tertegun dengan tulisan namaku, baru aku kembali sadar akan tujuanku melihat papan pengumuman ini, yakni mencari tau apakah aku lulus atau tidak. Langsung aku geser pandanganku ke kolom sebelah. Disitulah tertulis satu kata : LULUS.

Saat itu waktu serasa diam dan jantungku berhenti berdetak. Aku seolah tak percaya bahwa hari ini aku telah diterima untuk belajar filsafat di STF Driyarkara. Aku ulangi sekali lagi, apakah aku tidak keliru membaca garis, mengingat mataku sebelah kanan agaknya silindris. Tetapi tetap terbaca dengan jelas Y. Barita Sar Manik S.T.  LULUS. Ah kiranya aku tidak salah baca.

Kini muncul rasa ingin tahuku apakah aku bisa lulus karena memang semua yang ikut test juga lulus. Aku baca lagi tabel itu, ternyata dari 30-an peserta, ada 8 orang tidak lulus. Itu sekitar 25%. Wah berarti tidak gampang juga ya. Kemudian aku mulai meneliti nama-nama peserta test, wah ternyata macam-macam, mulai nama yang puitis sampai nama yang kelihatannya dibuat secara asal-asalan, mulai yang ke-arab-araban sampai yang ke-barat-baratan. Terus aku melihat gelar-gelar akademik apa saja yang disandang orang-orang itu, ternyata juga macam-macam. Ada yang S.S (sastrawan kalee..). ada juga yang S.Si (saintis..*begitukah menulisnya sesuai EYD?*), tapi pada umumnya S.Ag (sepertinya lulusan IAIN) atau S.Th (lulusan seminari??). Tapi ada juga beberapa yang sudah punya gelar Magister/Master seperti M.M, M.L dan M.Div (nah ini adalah gelarnya dosen agama kristen yang pertama kali aku temui waktu pendaftaran dulu). Bervariasi sekali memang, Lalu bagaimana dengan S.T? Hmm.. ternyata hanya 1. Benar juga komentar si "orang 2" (baca Menjadi Filsuf? (2))

Puas melihat-lihat daftar nama itu, aku lalu membaca catatan pendek di akhir lembar pengumuman itu. Tertulis bahwa para peserta test tulis yang lulus diwajibkan untuk melakukan test wawancara sesuai jadwal yang ditentukan. Hmm.. baiklah aku akan datang. Siapa takuuut..? Tunggu ya..

(.. bersambung)

Menjadi Filsuf? (4)

Tuesday, August 15th, 2006

Test Logika

Usai orasi "Introduction to Philosophy" Romo Herry undur diri dari Ruang Sophia, dan acara dilanjutkan dengan ujian tertulis. Dr. Karina sendiri yang membagikan soal berikut lembar jawabannya. Ujian tertulis ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah test yang disebut "Kecerdasan Logika", setelah itu rehat beberapa menit untuk kemudian dilanjutkan dengan test Bahasa Inggris.

Aku penasaran juga dengan test Kecerdasan Logika ini, maka tanpa menunggu lama langsung saja aku buka lembar soal yang terdiri dari kurang lebih sepuluh halaman A4 itu. Begitu aku baca, ternyata test itu kurang lebih menguji tentang seberapa kuat analisa kita dalam mengambil kesimpulan terhadap premis-premis yang dituangkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan.

Contohnya begini (ini hanya contoh, bukan bocoran soal :) ), ada suatu pernyataan :
"Seorang perokok berat yang tidak mampu menghentikan kebiasaan merokoknya umumnya mempunyai karakter lemah. Orang-orang pemberani memiliki karakter kuat."

Lalu kita disodori beberapa kesimpulan yang mungkin, untuk dilakukan pengujian apakah kesimpulan itu tergolong yang (a) niscaya benar, (b) niscaya salah, (c) tidak memiliki keniscayaan benar atau salah, misalnya :
1. Orang pemberani biasanya tidak merokok
2. Seorang mantan perokok karakternya lemah
3. Orang yang karakternya kuat mampu berhenti merokok
dll.

Kelihatannya soal-soal demiikian sangatlah sepele, tapi cukup menguras pikiran juga untuk menalar pernyataan demi pernyataan, sehingga tak terasa waktu 60 menit sudah habis. Masing-masing peserta test mengumpulkan soal dan lembar jawabannya kepada Dr. Karlina, kembali ke ruang tunggu menantikan jadwal ujian selanjutnya.

Di ruang tunggu aku duduk bersama seorang bapak yang sudah beruban, memelihara kumis dan jenggot yang juga ubanan. Aku mulai menyapa orang itu dan menanyakan asal usul serta motivasinya ikut test ini. Ternyata dia adalah seorang pengacara yang sudah lebih dari 10 tahun malang melintang di dunia peradilan. Bahkan dia telah pula mengantongi ijazah Magister Hukum.

"Lalu untuk apa Bapak ikut Magister Filsafat ini?" tanyaku, "Apakah ada kontribusinya dengan profesi Bapak sebagai pengacara?"

Bapak itu tersenyum lalu menjawab, "Saya paling mumet kalo ditanya soal ini. Tapi menurut saya gini lho Mas, kalo saya dikasih pilihan antara belajar dan nggak belajar, ya saya milih belajar tho.."

"Hmm, iya juga sih.. " pikirku dalam hati, "pola pikirku masih belum sampai ke sana." Aku jadi teringat teori kebutuhan Maslow, kalau kita masih berada di level kebutuhan primer dan sekunder, jangan sekali-sekali mempertanyakan ulah mereka yang sudah bertengger di piramida paling atas : orang-orang yang sudah tinggal mencari jati diri. Kalau pola pikirnya masih sebatas bagaimana cepat naik gaji, gaji ketiga-belas, naik golongan, promosi, bonus tahunan, dll., ya jangan datang ke padepokan filsafat, apalagi mempertanyakan motivasi orang belajar filsafat. Hehehe… aku jadi malu.

Tak berapa lama kemudian, datang lagi pengumuman yang menginformasikan bahwa test Bahasa Inggris segera dimulai. Semua peserta berkumpul lagi di Ruang Sophia. Soal dan lembar jawaban kembali dibagikan.

Ternyata test Bahasa Inggris itu tidak jauh berbeda dengan test TOEFL (paper based). Hanya saja, minus listening dan materi reading comprehension-nya diambil dari teks-teks literatur Filsafat. Karena sudah pernah ikut test TOEFL, ujian tersebut tidak terlalu asing - meski pun tidak berarti mudah - bagiku. Tapi setidaknya beberapa menit kurang dari menit ke-60, aku telah menyelesaikan semua materi soal itu. Aku kumpulkan soal berikut lembar jawabannya ke meja Dr. Karlina, untuk selanjutnya bergegas menuju pelataran parkir karena malam sudah cukup larut. Aku lihat jam di dinding menunjukkan lewat jam 21 BBWI.

Lumayanlah, pengalaman baru. Akhirnya aku sudah melewati test Kecerdasan Logika. Seberapa cerdas ya, logikaku? Apakah aku termasuk orang yang logikanya cerdas atau tidak? Tunggu saja hasilnya beberapa hari kemudian.

(.. bersambung)

Menjadi Filsuf? (3)

Sunday, August 13th, 2006

Sekapur Sirih

"Para peserta test masuk Magister Filsafat dipersilahkan berkumpul di Ruang Sofia," demikian terdengar suara khas dari ibu petugas sekretariat. Serempak orang-orang di ruang tunggu bersama-sama bergerak, ada yang langsung berdiri, ada juga yang membenahi barang bawaan mereka yang tercecer di sana-sini.

Ternyata yang disebut Ruang Sofia itu terletak di lantai dua. Sofia, nama yang cantik. Kalau aku tidak salah dalam Bahasa Yunani berarti kebijaksanaan. Untuk menuju ke situ harus melewati satu lorong kecil selebar kira-kira satu setengah meter yang dikiri-kanannya adalah ruangan para dosen. Sepintas aku membaca nama-nama yang cukup populer tertera di atas pintu masuk ruangan masing-masing : Prof. Franz Magnis, Prof. Alex Lanur, Dr. Karina Supelli, dll. Di dinding sepanjang lorong itu juga terdapat petikan-petikan teks literatur filsafat - dari para filsuf sejak masa Yunani Kuno sampai abad mutakhir - yang digantung sebagai ornamen dinding.

Sesampainya di situ aku setiap orang memenuhi tempat duduk yang ada, dan aku mengambil tempat paling depan. Ada sekitar 30 orang memenuhi tempat itu. Sebagai orang asing di tempat asing, aku tidak ingin kehilangan "tontonan baru" ini sekejap mata sekali pun. Aku pertama-tama mengamati seluruh ruangan. Perkiraanku luasnya sekitar 50-60 m2. Dinding putih bersih, kursi-meja tersusun rapi. Di sisi dinding sebelah kanan terdapat AC split sedang beroperasi dalam temperatur 26 °C.

Sementara aku sedang melihat-lihat, datang dari pintu masuk seorang pria dan seorang wanita. Keduanya terlihat berumuran sekitar setengah abad. Keduanya lalu mengambil tempat duduk di depan, menghadap ke seluruh peserta. Mereka berbisik-bisik sejenak lalu diam. Ruangan pun menjadi hening.

Tiba-tiba keheningan pecah ketika sang pria membuka bicara, "Selamat datang di STF Driyarkara. Sejak permulaan peradaban, manusia selalu mengisi hari-harinya dengan pertanyaan. Pertanyaan yang bilamana dijawab, akan melahirkan pertanyaan berikutnya.. bla.. bla.. bla..". Bibirku terkatup, telinga dan pikiranku kuarahkan untuk mencerna kata-kata yang keluar dari mulut orang itu. Pidato yang aneh dan banyak menghasilkan kosa-kata baru yang selama ini belum pernah aku dengar. Jika aku ringkas, pidatonya itu menjelaskan latar belakang ilmu filsafat sejak awal peradaban hingga jaman modern ini.

Selanjutnya dia memperkenalkan dirinya sebagai Dr. Bernard Herry-Priyono, Ketua Pogram Studi Magister Filsafat. "Oalaahh… ini tho yang namanya Romo Herry itu", batinku. Selama ini aku pikir dia itu seorang yang beruban, kening berkerut dan atribut-atribut lain yang berasosiasi orang-orang bijak di kartun-kartun, kenyataannya penampilannya seperti orang kebanyakan; malah mungkin kita akan sulit mengenalinya jika dia berada ditengah-tengah eksekutif muda yang sering berseliweran di Jalan Sudirman-Thamrin Jakarta Pusat sana.

Lalu ia memperkenalkan wanita yang duduk disebelahnya itu sebagai Dr. Karina Supelli, salah seorang staff akademik di STF Driyarkara. Aku juga telah sering mendengar namanya sebagai aktifis Yayasan Ibu Peduli, yang pasca reformasi dulu sering berdemonstrasi di sekitar bunderan HI. Kini aku duduk persis di depannya. Perawakannya tinggi-langsing. Parasnya cantik, bahkan sangat cantik untuk orang seusia dia.

Pada akhir pidatonya Dr. Herry meyakinkan bahwa memilih untuk belajar filsafat di Driyarkara adalah keputusan yang tepat. Dan seandainya latar belakang yang dimiliki bukan filsafat, itu tidak perlu dijadikan faktor keraguan. Banyak tokof filsafat yang selain sebagai seorang filsuf, juga dikenal sebagai tokoh ilmu lainnya. Descartes, selain filsuf adalah matematikawan. Archimedes, selain filsuf adalah fisikawan. Hegel, selain filsuf adalah ahli politik. Dia pun memberi contoh bahwa Dr. Karina Supelli sendiri pada awalnya adalah seorang scientist di bidang  Astronomi dan berkecimpung di berbagai riset tentang Space Science. Kini Dr. Karina adalah seorang narasumber yang disegani dalam berbagai tulisan-tulisannya di bidang filsafat, khususnya masalah feminisme dan implikasi filosofis dalam hal astrofisika dan kosmologi.

Tak terasa sudah 20 menit dia berpidato. Aku yang tadinya merasa terdampar di pulau asing kini seakan-akan sudah tidak lagi terasing setelah upacara penyambutan dari "penduduk asli". Aku teringat, di Jambi - tanah kelahiranku, ada suatu tradisi untuk menyambut tamu asing yang datang ke daerah itu dalam suatu tarian. Dalam tarian itu pada bagian akhir, sang penari akan mendekat ke hadapan sang tamu dan menyuguhkan sirih. Tamu itu diharapkan untuk memakan sirih yang disuguhkan itu sebagai perlambang bahwa dia bukan lagi orang asing. Tari itu bernama "Sekapur Sirih".

(.. bersambung)

Menjadi Filsuf? (2)

Friday, August 11th, 2006

Terdampar

Setelah beberapa kali berulang-fikir, akhirnya hari itu - 28 Juli 2006 - aku memutuskan untuk mencoba "petualangan baru". Ya, hari itu jam 6 sore adalah jadwal test masuk Program Pascasarjana STF Driyarkara tahun akademik 2006-2007. Jam 4 sore aku arahkan langkahku ke bilangan Jembatan Serong Rawasari, tempat dimana kampus Driyarkara berdiri. Berbekal alamat yang ada di brosur, aku berusaha mencari lokasinya, karena memang aku belum pernah ke sana.

Sekitar pukul 5 sore aku berhasil tiba di situ. Ternyata kampus itu tidak terlalu besar, dan berada di tengah-tengah komplek pemukiman. Sunyi sekali keadaannya. Di pintu gerbang aku melihat seorang satpam sedang duduk ditemani secangkir kopi. Aku mengangguk memberi isyarat kepadanya, dan dengan ramah ia mempersilahkan aku masuk dan mengarahkanku ke area parkiran. Aku parkir kendaraanku, lalu aku langsung menuju sekretariat Program Pascasarjana. Di situ aku disambut dengan suatu tulisan yang cukup menyolok : "Selamat datang di STF Driyarkara. Di tengah kedangkalan, kami tawarkan kedalaman."

Di sekretariat itu aku ditemui seorang ibu berumur kurang lebih setengah abad. Dengan suara soprano yang melengking dia menanyakan maksud kedatanganku. Aku jawab dengan menanyakan apakah masih terbuka kesempatan untuk pendaftaran test hari ini. Ternyata boleh saja asalkan semua syarat sudah dilengkapi. Ini tidak masalah buatku, karena semua sudah aku siapkan dari keterangan yang aku baca di brosur. Akhirnya ibu itu memberi aku form aplikasi untuk aku isi saat itu juga.

Setelah menerima form aplikasi aku berpindah ke ruang tunggu. Di ruang itu ada seorang pria sedang duduk. Perawakannya kecil, berkulit kuning dan berkaca mata tebal, membaca buku yang juga sangat tebal. Aku menyapanya sejenak dan duduk di dekatnya untuk memulai mengisi form. Sambil aku mengisi form, orang itu memecah keheningan dengan memulai percakapan.

Orang 1: Mau ikut test juga, Pak?
Aku : Iya, Pak. Bapak juga?
Orang 1 : Iya. sama.
Aku : Bapak profesinya apa?
Orang 1 : Oh.. saya dosen Agama Kristen di … (dia menyebut nama universitas terkemuka di Jakarta)
Aku : Wah, berarti Bapak dari latar belakang teologi ya?
Orang 1 : Ya.. begitulah. Kalau Bapak kegiatannya apa?
Aku : Kalau saya buruh pabrik, Pak.
Orang 1 : Hahaha..
Aku : Hehehe..

Setelah itu suasana kembali sunyi dan aku meneruskan kegiatanku mengisi form. Tak lama kemudian datang lagi seorang yang lain juga mengambil tempat duduk di dekat kami. Orang ini berkumis tebal dan berkulit cokelat. Umurnya sekitar 40-an (dugaanku)

Orang 2 : Permisi Pak.. :)
Orang 1 : Mari Pak..
Orang 2 : Mau ikut test juga?
Orang 1 : Iya..
Aku : Iya..
Orang 2 : Sudah pernah ikut extention course Filsafat?
Orang 1 : Saya pernah beberapa kali
Aku : (mbatin) …Binatang apa itu??…
Orang 2 : Oh sama, saya juga

Selanjutnya terjadi percakapan antara aku dan orang 2, sementara orang 1 meneruskan membaca buku.
Orang 2 : (mengajukan pertanyaan kepadaku) Bapak latar belakangnya apa?
Aku : Saya dari engineering pak
Orang 2 : Wah.. langka ini, dari engineering loncat ke filsafat
Aku : (mbatin) … Hmmm…berarti mirip badak bercula satu donk ya
Orang 2 : Kerja di mana, Pak?
Aku : Saya di pabrik, Pak. Kalau Bapak?
Orang 2 : Saya wiraswasta..
Aku : Wah, .. maksudnya pengusaha ya Pak
Orang 2 : Bukan pengusaha, tapi penipu.. Hahahaha..
Aku : Hehehe..

Dari percakapan selanjutnya dia mengaku bergerak di pertambangan batu bara di Kalimantan. Karena aku tidak terlalu memahami seluk beluk dunia pertambangan, maka percakapan menjadi mati dan suasana hening kembali.

Sementara itu form aplikasi yang aku isi kini sudah selesai. Aku kembali ke sekretariat untuk membereskan administrasi, dan meninggalkan mereka berdua di ruang tunggu. Beberapa saat kemudian aku kembali lagi ke ruang tunggu, dan di sana sudah bertambah beberapa orang lagi. Sepintas aku melihat ada seorang wanita berjilbab dan ada juga seorang lelaki botak. Aku kembali duduk di kursiku semula, dan di sampingku duduk seorang lain yang menarik perhatianku.

Orang itu berkulit coklat tua, berkaca mata tebal dan memelihara janggut. Dia memegang-megang suatu lembaran text beraksara arab. Kelihatannya itu semacam ijazah, namun aku belum yakin. Sejenak aku menguping percakapanku antara orang itu dengan orang lain, dan sepertinya mereka membicarakan tentang aktifitas studi di Timur Tengah. Lalu aku mendengar bahwa ia mengaku lulusan Mesir. Aku tergelitik untuk bertanya, kali ini aku memulai percakapan.

Aku : Bapak dari Mesir?
Orang 3 : (Tanpa ekspresi) Iya..
Aku : Kuliah apa di sana
Orang 3 : Belajar tasyauf di Al-Azhar
Aku : Wah.. kalau gitu Bapak ini sudah khatam filsafat ya
Orang 3 : (Mulai bersemangat) Oh iya.. sejak dari pesantren dulu saya sudah tau tentang filsafat.
Aku : (Mbatin) Hmm.. dimakan juga umpanku
Orang lain : Tapi beda donk Pak antara filsafat pesantren sama yang diajari di sini nanti.
Orang 3 : Ah.. apa bedanya, di pesantren juga saya belajar Filsafat Manusia, Filsafat Barat, dll..

Setelah itu suasana menjadi agak seru dan sedikit panas, aku berpura-pura permisi meninggalkan tempat duduk. Sebenarnya tidak ingin kemana-mana, hanya mau menghindar dari "zona perang" dan mencari objek lain. Orang semakin banyak yang datang dan melakukan aktifitas berbeda-beda. Ada yang membaca, ada yang berdebat, ada yang berkenalan dan ada juga yang duduk diam dengan pandangan menerawang jauh. Melihat itu semua aku seperti berada di pulau asing. Pulau yang belum pernah aku kenal. Hari itu aku terdampar.

(.. bersambung)

Menjadi Filsuf ? (1)

Wednesday, August 9th, 2006

Ambisius atau Psikopat?

Aku punya hobi membaca literatur-literatur filsafat. Sebenarnya hobi ini dimulai secara tidak sengaja. Waktu aku berumur 19 tahun, aku pernah singgah di salah satu toko buku. Saat itu ada satu buku yang menarik perhatianku berjudul "Pengadilan Socrates". Socrates - sebagaimana aku ketahui dari buku-buku sejarah - adalah filsuf Yunani kuno yang dieksekusi mati dengan cara minum racun karena dianggap meracuni masyarakat dengan pengajaran dan pemikirannya dianggap ekstrim.

Demikianlah, aku mulai membaca buku itu. Menurutku menarik, dan membuat ketagihan. Berawal dari situlah maka aku mengoleksi serial-serial filsafat lainnya, seperti "Phaidon" dan "Simposium" karya Plato. Gaya bahasa yang elegan disertai pola pikir yang dahsyat membuat aku yang di usia sebegitu muda menjadi kecanduan dengan filsafat.

Berangkat dari literatur filsafat Yunani kuno, aku berpindah ke filsafat timur yang diwarnai nuansa teologi. Aku mulai membaca karangan Anthony de Mello, seperti "Burung Berkicau", "Sejenak Bijak", "Berbasa-basi Sejenak", "Doa sang Katak", dll.

Lepas dari situ, aku mencoba mengoleksi tulisan-tulisan Kahlil Gibran dalam "Sang Pralambang", "Sang Nabi" dan "Anak Manusia". Sampai akhirnya aku berhenti setelah membaca tulisan sang menurutku provokatif dan indeferentis a la Anand Khrisna - "Maranatha".

Sampai memasuki usia kepala tiga, filsafat tetap menjadi hobi yang aku maksudkan untuk keseimbangan penggunaan otak kiri dan kanan. Di satu sisi aku mengambil studi di bidang teknik industri, dan dilanjutkan dengan bekerja di dunia manufaktur pula. Di sisi lain aku isi hidupku dengan aktifitas-aktifitas seni, khususnya musik. Filsafat lah yang aku pakai sebagai jembatan antara keduanya.

Setelah aku masuk dalam kehidupan "yang sebenar-benarnya", aku banyak terlibat dalam adat-istiadat dan akar budayaku - yakni Batak Toba. Di sini pun aku dihadapkan dengan bermacam khazanah falsafah-budaya. Aku banyak menimba ilmu dari buku berbahasa batak "Jambar Hata" dan "Pustaha". Semua itu aku telan dan nikmati sebagai pelengkap jalan hidup.

Tapi di awal bulan Juli tahun 2006, aku terusik oleh kehadiran suatu brosur. Brosur itu datang dari salah satu perguruan filsafat dan teologi terkemuka di negri ini : STF Driyarkara. Sudah lama aku mengenal Driyarkara dan orang-orangnya, semisal Prof. Franz Magnis-Suseno, Dr. BS Maridatmadja, dll. Pernah beberapa kali aku terobsesi juga untuk menjadi cantrik di padepokan filsafat mereka itu.

Kini harapan untuk mewujudkan obsesi itu terbuka luas di hadapanku. Suatu kesempatan telah dibuka untuk menjadi mahasiswa Pascasarjana Filsafat di STF Driyarkara. Orang-orang dari berbagai disiplin ilmu diundang untuk bergabung lewat jalur matrikulasi.

Beberapa hari aku merenung. Apakah ini memang jalan hidupku? Atau hanya ambisi seorang psikopat?

(.. bersambung)

Dijou Ahu Mulak (5) - habis

Tuesday, August 8th, 2006

Pesta Adat

Pagi-pagi sekali kami saling membangunkan. Aku melihat jam dinding sekitar pukul 5 pagi. Mata masih perih sekali dan badan pun masih letih sisa perjalanan kemarin, ditambah lagi sudah dua malam sebelumnya kami kurang tidur. Bagaimanapun kami memaksakan diri untuk bangun, karena pada hari ini pesta adat itu akan diselenggarakan. Dalam benakku terbayang bagaimana hari ini pun masih akan dilalui dengan letih-lelah, karena dalam pesta seperti ini tidak ada waktu untuk bersantai. Semua acara akan dijalankan dalam posisi berdiri, bahkan lebih dari itu kami diharuskan juga untuk menarikan tarian Adat Batak "tor-tor".

Setelah membersihkan diri, kami bergegas menuju prosesi adat pembukaan yang dinamakan "pamola-pamultak". Yakni serah-serahan pisau secara simbolik, sebagai tanda pemotongan kerbau untuk pesta adat segera dimulai. Dalam adat batak, setiap pesta -sekecil apa pun itu- selalu ditandai dengan pemotongan hewan. Untuk adat kecil, yang hanya melibatkan keluarga sendiri biasanya minimal ayam. Pesta yang lebih besar biasanya babi - kadangkala diganti dengan kambing, jika babi bertentangan secara agama yang bersangkutan. Lebih besar dari itu sapi. Dan yang tertinggi adalah kerbau.

Uniknya, hewan sembelihan itu nantinya akan dihidangkan dalam bentuk sajian dalam suatu nampan, yang penyajiannya diatur sedemikian rupa sehingga berbentuk rupa hewan yang hidup (bukan berupa cincangan daging). Ini disebut dengan "tudu-tudu sipanganon".

Tudu-tudu sipanganon ini, nantinya secara simbolis akan diserahkan ke hadapan pihak yang mempunyai posisi tinggi dalam pesta itu,  yang disebut "hula-hula". Penataannya tidak boleh salah sedikit pun - misalnya telinganya, atau ekornya lepas. Kejadian seperti itu dapat mengundang protes dari tua-tua adat yang mengakibatkan batalnya pesta adat; sehingga harus mengulangi dari awal yang tentunya selain buang waktu dan biaya, juga merupakan aib tersendiri bagi pihak penyelenggara pesta.

Sekitar jam 9 pagi pesta dimulai dengan penyambutan hula-hula yang pertama. Di pesta itSisoma2006_04u aku hitung, ada sekitar 20-an marga yang menjadi hula-hula, diantaranya Simanjuntak, Silitonga, Togatorop, Sinaga, Sihombing, dll. Setiap marga datang dengan rombongannya sendiri-sendiri, dan mereka wajib disambut dengan tarian tor-tor. Demikianlah aku bergabung dalam barisan keluargaku larut dalam tor-tor menyongsong hula-hula. Satu per satu kami sambut, sampai semua hula-hula itu masuk.

Dengan 20-an rombongan marga yang masing-masing berjumlah 30-40 orang ditambah lagi undangan lain dan keluarga kami sendiri, aku perkirakan pesta ini dihadiri paling kurang 1000 orang. Aku benar-benar angkat topi kepada semua pihak yang membantu acara itu. Even organizer profesional sekali pun belum tentu sukses dalam menyelenggarakan acara seperti ini.

Sebagaimana lazimnya dalam acara adat tentu ada sesi penyerahan ulos. Demikian pula dengan acara ini, silih berganti pihak hula-hula menyelempangkan ulos sebagSisoma2006_02ai simbol bahwa mereka turut merasakan apa yang kami alami, dan menyertakan doa-doanya bagi kami.  Dalam pesta itu aku mendapat beberapa lembar ulos sadum, yang antara lain aku dapat dari marga Simanjuntak, Silitonga dan Lumban Batu.

BegitulaSisoma2006_01_1h prosesi-prosesi adat itu berlangsung, hingga pada saat acara berakhir sinar matahari yang temaram menyadarkan kami bahwa waktu sudah menunjukkan sekitar jam 6 sore. Akhirnya tiba saatnya untuk acara pemakaman.  Acara dimulai dengan pembacaan riwayat hidup ompung yang di situ aku sendiri yang membacakan. Lalu dilanjutkan upacara keagamaan yang dipimpin oleh pemuka dari Gereja Advent, dimana ompung tercatat sebagai jemaatnya.

Di tengah kegelapan - sekitar pukul 7 malam - ompung memasuki tempat peristirahatan terakhir. Suatu komplek pemakaman keluarga yang telah dipakai turun-temurun sejak leluhur kami berdiam di situ. Ompung adalah generasi ke-3 yang mendiami makam tersebut. Tepat di samping makam ompung doli, suami beliau. Suatu tempat yang tidak asing lagi baginya, karena selama hidupnya secara berkala ia ziarahi. Kini jazadnya telah berdiam di situ, namun tidak demikian dengan spiritnya, karena tetap akan berdiam di hati dan pikiran kami para penerusnya.

Jakarta, 8 Agustus 2006

Dijou Ahu Mulak (4)

Monday, August 7th, 2006

Sisoma Bona Pasogit

Pagi 19 Juni 2006, ambulans sampai ke persimpangan Sayur Matinggi, 30 km sebelah selatan Padang Sidempuan - Tapanuli Selatan. Itu adalah pintu masuk dari Jl. Lintas Sumatra menuju desa Sisoma. Dari simpang itu kami harus melanjutkan perjalanan 17 km lagi ke ara barat. Suara ambulans yang meraung-raung mengusik ketenangan penduduk desa yang tengah bersiap menuju sawah-ladang mereka. Sejenak kegiatan mereka terhenti sambil memandang lekat ke arah nisan berbentuk salib yang terikat di depan ambulans itu, mencari tau jenazah siapa kiranya yang datang.

Sepanjang jalan berbatu itu aku banyak beradu pandang dengan wajah-wajah penduduk yang diam menatap tajam. Rumah-rumah beratap seng karatan silih berganti mengisi pandangan. Tempat-tempat ibadah silih berganti, mula-mula bangunan mesjid, lalu makin ke dalam semakin banyak dijumpai gereja-gereja dari berbagai denominasi.

Akhirnya selang beberapa menit, sampailah kami ke kampung halaman, desa Sisoma. Di situ telah banyak orang menyongsong kedatangan mendiang ompung. Isak tangis dan jeritan histeris pecah ketika peti jenazah itu kami keluarkan dari ambulans. Kini sampailah kami pada tujuan akhir perjalanan.

Segera peti itu dimasukkan ke tengah-tengah rumah. Penduduk kampung berjubel ingin meratapi dan menyentuh jenazah ompung untuk terakhir kalinya. Aku segera keluar dari rumah dan mencari tempat untuk menyendiri. Memberi kesempatan orang-orang untuk lebih dekat sembari aku menarik nafas sebentar beristirahat.

Kesempatan itu aku pakai untuk bercakap-cakap dengan uda-ku yang lain, yakni Uda Parulian, adik bapak yang ke-3. Aku menanyakan hikayat yang sebenarnya tentang sejarah leluhur kami bisa menempati daerah ini. Dengan menghirup nafas dalam, uda memulai ceritanya.

"Akhir abad ke-18, ompung dari ompungmu pergi mencari daerah baru," demikian ia mengawali. "Maka berangkatlah beliau dari daerah Pahae di Tapanuli Utara sana bersama beberapa orang lain menuju tempat ini. Pada saat itu tempat ini masih hutan belantara; sehingga siapa yang lebih kuat membuka lahan dia mendapat banyak."

Singkatnya leluhur kami itu cukup tangguh, sehingga mampu memiliki lahan yang cukup. Semakin hari semakin ramailah tempat ini. Mayoritas mereka yang membuka lahan itu berasal dari Tapanuli Utara, maka meskipun itu secara administratif berada di wilayah Tapanuli Selatan, banyak dijumpai marga-marga Toba, seperti Napitupulu, Sinaga, Tobing, Manik, dll yang pada umumnya menganut agama Kristen. Sementara penduduk Tapanuli Selatan sendiri tinggal di daerah yang lebih luar (dekat ke Jl. Lintas Sumatera). Hal itu menjawab kenapa di sebelah luar lebih banyak masjid, sementara di sebelah dalam lebih banyak gereja.

Cukup lama uda bercerita hingga tak terasa hari sudah sore. Pelayat sudah mulai banyak yang pulang, dan sebentar lagi waktu untuk mengadakan rapat adat yang disebut "martonggo raja". Itu adalah waktunya untuk membicarakan teknis yang perlu dipersiapkan untuk upacara adat keesokan harinya dalam rangka prosesi pemakaman ompung. Sebagaimana layaknya orang Batak yang telah mencapai predikat "saur matua", maka dalam pemakamannya akan diadakan upacara adat besar-besaran. Akhirnya cerita uda itu pun disudahi, dan kami bersiap untuk acara selanjutnya.

(.. bersambung)

___________________________________

Glossary

saur matua = suatu keadaan dimana seseorang telah memiliki cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan, dan semua anaknya telah menikah. seseorang yang meninggal dalam kondisi seperti ini akan dirayakan dalam pesta adat meriah.