Archive for July, 2006

Dijou Ahu Mulak (3)

Thursday, July 13th, 2006

Etape 2 : Jambi - Sisoma

Matahari bersinar terik di Minggu pagi 18 Juni 2006. Pagi itu ambulans sudah didatangkan, dan mobil-mobil sudah disiapkan untuk keluarga yang menyatakan bersedia berangkat ke Sisoma. Semua terdiri dari 3 mini bus dan 1 ambulans. Upacara pelepasan menghantarkan kami memberangkatkan jenazah ompung boru ke bona pasogit.

Aku memutuskan untuk naik di dalam ambulans bersama peti jenazah ompung. Meskipun berdesak-desakan dan aroma plitur dari peti itu cukup menusuk, tidak mengurungkan niatku untuk naik di situ. Paling tidak inilah kali terakhir aku bisa bersama-sama dengan ompung, pikirku.

Ternyata aku bukan satu-satunya orang yang berpikir demikian. Uda-Lomok (adik ayahku yang paling bungsu) pun ternyata memikirkan hal yang sama, sehingga akhirnya kami berdua pun bergabung. Karena hanya ada 1 tempat duduk yang tersedia di kabin ambulans itu, uda pun mengalah untuk duduk di lantai.

Sekitar pukul 10 iring-iringan mulai bergerak. Ini adalah pengalaman pertamaku berada dalam mobil jenazah. Ternyata biasa saja, tidak seseram bayanganku selama ini apabila melihat mobil jenazah melintas.

Perlahan namun pasti iring-iringan kami meninggalkan batas kota Jambi. Jalan mulus tanpa hambatan. Jalanan yang memang biasanya sepi itu semakin bebas tanpa rintangan karena bunyi sirene dari ambulans sudah cukup untuk membuat para pelintas menepikan kendaraannya dan memberi akses seluas-luasnya bagi kami.

Semakin siang semakin jauh pula kami dari kota. Kota-kota kecil (yang dalam ukuran Pulau Jawa lebih tepat disebut desa terpencil) mulai kami lintasi. Sampai pada akhirnya kami menembus perkebunan dan bahkan hutan perawan.

Seingatku sudah lebih 10 tahun sejak terakhir kalinya aku melalui Jl. Lintas Sumatera ini. Jalan yang semasa aku sekolah SD-SMA dulu merupakan jalan yang wajib aku lintasi tiap kali liburan sekolah tiba. Memang inilah satu-satunya akses dari Jambi ke Sumatera Utara pada saat itu, karena Jl. Lintas Timur (Jalintim) belum terlalu populer. Sepuluh tahun tentu bukan waktu yang singkat. Maka perjalanan kali ini sungguh merupakan suatu nostalgia dan napak tilas yang penuh romantika buatku.

Opung3 Namun tiap kali aku lepaskan pandangan dari balik jendela ambulans itu, sepertinya 10 tahun itu tidak berarti apa-apa bagi daerah sekitar Jl. Lintas Sumatera ini. Pemandangan tidak banyak berubah. Perkebunan karet terhampar luas di tepi jalan. Tanaman kelapa sawit tersusun rapi di kaki bukit. Penambang pasir tradisional giat bekerja di anak-anak sungai Batang Hari. Pemukiman transmigrasi menyembul dari balik pepohonan. Aroma karet yang menusuk dihempas oleh truk-truk pengangkut latex. Tidak ada yang berubah. Irama yang sangat familiar bagiku di masa kanak-kanak. Apakah memang sang waktu tidak berkuasa di daerah ini?

Untuk mengisi waktu dan menghilangkan kebosanan, sepanjang perjalanan itu pun kami isi dengan diskusi-diskusi kecil mengenai kehidupan dan perkembangan daerah Jambi. Dalam hal ini sang Uda memang menjadi narasumber yang kompeten. 37 tahun hidupnya berkutat di Propinsi Jambi. Bahkan beliau sempat mengabdikan dirinya 8 tahun di beberapa lokasi transmigrasi sebagai pendidik. Ya, beliau berprofesi sebagai Guru Bahasa Inggris (mata pelajaran yang sebenarnya jauh panggang dari api bagi sekolah-sekolah di daerah terpencil).  Bicara soal dedikasi, Uda-ku ini memang sering membuatku salut. Entah apa yang membuat dia bertahan dalam profesi seperti itu, aku tak habis pikir.

Mengutip definisi Presiden Yudhoyono tentang hero yang dimuat di majalah TIME 3 Oktober 2005 :

"Heroes are selfless people who perform extraordinary acts. The mark of
heroes is not necessarily the result of their action, but what they are
willing to do for others and for their chosen cause
"

Uda-ku ini juga berhak untuk menyandang gelar "hero", meski tak setenar Butet Manurung - sukarelawan yang mengajar anak-anak Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas.

Sambil bercakap dan merenung-renung, tak terasa matahari sudah semakin condong ke arah Barat, dan kami pun tiba di perbatasan Sumatera Barat. Menjelang jam 6 sore aku semakin mengantuk, dan setelah itu aku tertidur pulas.

(.. bersambung)

___________________________________

Glossary

bona pasogit = kampung halaman

uda = adik laki-laki bapak