Dijou Ahu Mulak (2)
Monday, June 26th, 2006Etape 1 : Jakarta - Jambi
Hari sudah siang ketika taxi sampai di terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. Dengan berspekulasi aku minta diturunkan di terminal 1B, berharap masih ada tempat duduk tersisa siang itu untuk mengantarkan aku ke kota Jambi. Keberuntungan ternyata memihak padaku, karena ada satu penerbangan yang menyisakan tempat duduk untuk berangkat satu jam lagi. Langsung saja aku beli tiket, check-in, mendaftarkan bagasi, dan bergegas ke ruang tunggu.
Satu jam kemudian aku sudah duduk di dalam pesawat. Duduk dan terdiam. Pikiranku jauh menerawang. Inilah perjalanan jauh pertamaku setelah tahun lalu - ya! bulan ini tepat setahun - aku mengalami kecelakaan buruk yang merenggut mobilitasku itu.
Pesawat pun berjalan perlahan menuju landas pacu. Ketika tiba saat untuk pesawat memacu kecepatan, jantungku berdegup kencang. Speedo-phobia yang masih tersisa di dalam diriku kini seperti dilecehkan. Dari dulu, bahkan sebelum aku mengidap speedo-phobia pun, saat-saat take-off selalu membuatku takut. Kini ketakutan itu lengkaplah sudah. Aku pejamkan mata, mencoba untuk menghalau segala ketakutan sampai akhirnya aku tertidur.
Aku terbangun ketika lewat pengeras suara, seorang pramugari menginformasikan bahwa sesaat lagi pesawat akan mendarat di Bandara Sultan Taha. Syukurlah sudah hampir sampai, pikirku.
Detik demi detik cepat berlalu. Tepat jam empat sore aku menginjakkan kakiku kembali di tanah. Kini aku sudah berada di tanah kelahiranku :
"Tanah pilih pusako betuah, sepucuk Jambi sembilan lurah"
Ornamen-ornamen lokal mengucapkan kata selamat datang kembali ke tanah di mana aku habiskan delapan belas tahun pertama usia hidupku. Jalan-jalan sepi di tepian sungai Batang Hari mempersilahkanku untuk melintas bebas tanpa gangguan. Pohon-pohon beringin tua membelai dengan angin sepoi-sepoi, membasuh penat selama perjalanan. "Kota yang damai", batinku, " pilihan yang tepat untuk beristirahat dengan tenang."
Dengan menumpang di kendaraan umum, akhirnya aku sampai juga ke rumah duka. Dari jauh aku sudah melihat kerumunan orang di depan pagar rumah yang ditandai bendera merah, tanda perkabungan (berbeda dengan di Jakarta, yang biasanya memakai bendera kuning sebagai tanda rumah duka). Itulah rumah yang dipakai ompungku berdiam di masa tua sampai akhir hayatnya.
Perlahan aku berjalan ke pelataran rumah. Dari situ aku sudah mulai mendengar andung-andung dari para pelayat. Tepat di muka pintu, aku melihat jazad ompung telah terbujur kaku berbusanakan kebaya, ditutup dengan ulos ragi idup, ulos dengan derajat tertinggi dalam kebudayaan Batak. Aku dekati jenazah ompung, sejenak aku terdiam dan untuk selanjutnya tak dapat membendung air mata yang berlinang membasahi wajahku.
Sepanjang sore hingga malam itu aku terus duduk di samping jenazah ompung, bersama keluarga besar. Ulos ragi hotang aku selempangkan di bahu kanan sebagai bentuk penghormatan terakhir. Malam itu rumah dipenuhi oleh keluarga besar kami. Ada pula para tetangga yang datang silih berganti dan para kerabat dari beberapa punguan marga datang sekedar memberikan hata togar-togar dan memanjatkan doa-doa. Kebaktian singkat juga diadakan oleh Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, dimana ompungku adalah salah satu jemaatnya.
Malam itu diputuskan bahwa jenazah ompung akan dimakamkan di desa Sisoma - Tapanuli Selatan, tepat di samping makam ompung doli (eyang kakung) yang memang sudah sejak lama dipersiapkan. Rencana berangkat besok paginya. Semua orang yang ingin ikut mengantar terlebih dahulu didata untuk persiapan transportasi dan logistik, mengingat perjalanan yang cukup jauh ( waktu tempuh Jambi-Sisoma rata-rata 22 jam ). Menjelang larut malam aku berusaha untuk istirahat mengumpulkan tenaga untuk besok. Namun karena situasi yang sedemikian, aku tidak dapat memejamkan mata. Alih-alih pergi tidur, aku malah menyalakan TV dan menyempatkan diri menonton pertandingan sepak bola USA vs Italy. Semoga tidak dinilai kurang ajar oleh ompung
(.. bersambung)
_________________________
Glossary
andung-andung = sejenis ratapan yang dilantunkan dalam bentuk nyanyian, biasa dilakukan oleh ibu-ibu dari etnis Batak untuk keluarga yang meninggal.
ulos = kain tenun khas batak yang dipakai dalam upacara adat.
hata togar-togar = ucapan bela sungkawa dalam bentuk wejangan yang disertai pantun.