Archive for January, 2006

Inspirasi dalam Semangkok Mie-Rebus

Tuesday, January 24th, 2006

Sudah hampir satu bulan aku tidak lagi nebeng di Avanza-nya Bang Anton. Sekarang tiap hari aku meumpang di angkutan umum. Sebagai akibatnya aku harus berangkat lebih pagi karena waktu perjalanan kini menjadi lebih panjang.

Sehubungan dengan itu pula akhir-akhir ini aku jarang sekali sarapan pagi sebelum berangkat. Paling-paling cuma berbekal seteguk kopi, lalu aku bergegas meninggalkan rumah untuk sejenak kemudian menunggu datangnya Metro Mini yang akan membawaku ke Terminal Pulo Gadung. Dari terminal itu lantas aku harus menyambung dua kali angkot lagi untuk dapat sampai di pabrik tempat aku bekerja.

Turun dari angkut di pintu gerbang pabrik, biasanya peluhku sudah mengalir, nafas ngos-ngosan dan perut keroncongan. Lalu sejenak terdiam untuk melepas kepenatan sambil mengembalikan kesadaran setelah sekian lama pikiran kosong di sepanjang perjalanan. Ritual ini biasanya disusul dengan melepaskan pandangan ke beberapa warung makan yang berderet di sepanjang jalan.

Pandangan diawali dari gorobak pangsit mie ayam yang asapnya masih mengepul-ngepul. Lalu ada warung nasi bebek a la Madura. Kemudan ada warteg. Dan yang terakhir ada warung mie-rebus. Dari ke-4 opsi itu, biasanya warung mie-rebus inilah yang paling menggoda hasrat.

Pagi ini adalah yang kesekian kalinya dalam bulan ini aku melangkahkan kakiku ke warung itu. Seperti typikal warung mie-rebus di metropolitan ini, warung yang lebarnya hanya 2 - 3 meter ini mempunyai 2 pintu masuk di kiri dan kanan. Kedua pintu itu mengapit jendela yang hanya berupa jeruji kawat dan ditempeli spanduk dari produk sponsor bertuliskan "Sedia Indomie rebus (meskipun yang dijual bukan hanya produk Indomie saja), telur 1/2 matang, kopi, teh, dll"

Begitu masuk ke dalam, terlihat design interior standar : kursi panjang yang menghadap ke meja, dan di balik meja itu ada pelayan warung yang siap melayani customernya untuk menyediakan berbagai jenis mie instan sesuai dengan pesanan. Kompor minyak tanah selalu menyala dengan ketel besar - yang secara teknis sudah tergolong pressure vessel - yang airnya telah mendidih entah sejak kapan.

Ramah sekali pelayan itu menyapa, "Pesan apa, Pak?" "Indomie rasa soto mie, pake telor, cabenya empat, sawinya banyakin." jawabku to the point. Dengan sigap pelayan itu mengeluarkan mie dari bungkusnya dan menyeduhnya ke dalam ketel. Mie itu direbusnya sembari bercakap-cakap dengan temannya dalam Bahasa Sunda. Dari dialeknya aku menduga dia berasal dari Pantura : Cikampek, Subang, Indramayu dan sekitarnya.

Beberapa menit berlalu, kini semangkuk mie-rebus telah terhidang di depanku. Saos tomat dan bubuk merica aku taburkan. Hmm… sedap sekali aromanya. Dari speaker yang digantung di atas pintu aku mendengar celotehan Bung Fadhil, broadcaster Radio One 101FM Jakarta yang sudah tak asing lagi. Disusul kemudian tembang inspiratif yang penuh dengan retorika dari Chrisye, "…bila surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepada-Nya…"

Suara tronton dan kontainer yang lalu lalang di jalan depan warung itu tak mampu mengusikku yang perlahan-lahan menyantap mie-rebus itu sedikit demi sedikit. Beberapa saat kemudian datang orang lain bertubuh tinggi besar, berbaju kumal penuh oli dan tanpa alas kaki - dugaanku dia adalah sopir dari pangkalan truk seberang jalan itu - duduk disebelaku dan memesan mie yang tidak jauh berbeda dari yang aku pesan. Aku tak juga terganggu dengan kehadirannya, dan terus menikmati suap demi suap mie-rebus pesananku. Saat pesanan orang itu datang, aku baru saja menghabiskan suapan terakhir dari mangkokku dan selanjutnya meneguk segelas air putih hangat sebagai bagian penutup.

Meski mengkok itu sekarang telah kosong, aku masih enggan untuk beranjak. Iseng aku mulai membuka percakapan dengan pelayan warung itu. Berbekal pelajaran otodidak, aku mencoba menyapa pemuda yang berumuran 20 -23 tahun itu dalam Bahasa Sunda.

"Aslina ti mana, Kang?" (Aslinya dari mana, Bung?) tanyaku

"Cirebon, Pak." jawabnya

Lalu aku lanjutkan, "Geus sabaraha lila digawe di dieu?" (Sudah berapa lama kerja di sini?)

"Ah, nembe wae dua taon." (Baru 2 tahun)

Demikianlah dialog itu berlangsung lancar sembari dia mengiris tempe yang akan digoreng. Aku mulai mencoba mengorek informasi tentang seluk beluk profesinya.

Ternyata menurut penuturannya, warung itu dimiliki oleh seorang juragan. Juragan ini mempunyai beberapa warung sejenis di beberapa tempat di Jakarta. Rata-rata buka 24 jam. Biasanya terletak di kawasan industri atau jalan lintas yang ramai. Tiap warung dijaga dengan sistem shift. Shift satu jam 5 pagi sampai jam 5 sore, shift dua jam 5 sore sampai jam 5 pagi. Shift 1 dijaga oleh 1 orang, sementara shift 2 dijaga 2 orang, mengingat keamanan malam hari lebih rawan.

Selain memasak mie untuk pembeli, job desc mereka juga mengurusi pengadaan stock (mie, rokok, tempe, pisang, minyak, dll), menggoreng tempe, menyimpan, melaporkan dan menyetor uang, sampai menjaga keamanan dari rongrongan para preman. Pikirku, wah.. kompleks juga pekerjaan mereka ini : Produksi merangkap Marketing merangkap Purchasing merangkap PPIC merangkap Security juga. Aku lebih kaget ketika dia menyebutkan bahwa bayarannya ternyata hanya 2/3 Upah Minimum Propinsi (DKI) Jakarta.

"Kunaon maneh daek digawe di dieu, Kang?" (Kenapa anda mau bekerja di sini?) tanyaku polos. Beberapa detik kemudian aku baru sadar kalau pertanyaan itu kasar dan terdengar bodoh. Namun mau apa lagi, sudah terlanjur terucap dan tak dapat ditarik kembali.

"Kunaon nya’…?" agak lama dia berfikir, lalu meneruskan "Saha sih nu teu deak jadi juragan, Pak? Ya, nu ngarana hirup kudu ikhlas dijalankeun. Rejeki tiap jelema mah geus diatur ku Gusti Alloh" (Siapa sih yang tidak mau jadi juragan. Yah, namanya hidup harus ikhlas dijalani. Rejeki tiap orang sudah diatur oleh Gusti Allah)

Skak mat! Tak kusangka jawaban filosofis itu akan aku terima melalui ucapan seorang tukan mie-rebus. Jawaban yang menjungkirbalikkan paradigma umum di dunia yang hedonis-materialistis ini. Aku kini tahu bahwa tukang mie-rebus itu adalah orang yang telah menembus batas. Menurutku dia setara dengan Viktor Frankl. Dunia boleh saja memperlakukan apapun terhadap dia, namun ada satu yang tak dapat direnggut dari padanya, yaitu kehendak bebas.

Juragan itu mungkin merasa telah berhasil mengeksploitasi dirinya, tapi dari sisi dia tidak demikian. Dia bekerja tulus sebagai manifestasi kepasrahan akan kehendak Gusti Alloh dan melaksanakannya dengan niatan sebagai ibadah, bukan sebagai bentuk penghambaan atas ketidakberdayaan terhadap sang juragan.

___________________

Tulisan ini aku buat sebagai bentuk penghargaan terhadap orang-orang kecil yang setia terhadap profesi yang terpinggirkan : tukang becak, sopir angkot, ojeg payung, tukang bakso keliling, tukang sayur.  Andalah yang selalau mengingatkan bahwa kita semua berharga di mata Tuhan.

Back to the Road

Sunday, January 15th, 2006

Ternyata memang berat untuk membersihkan sisa-sisa trauma yang ada dalam pikiran. Meski secara fisik aku telah jauh lebih baik, tapi bayang-bayang ketakutan setelah kecelakaan itu tidak bisa sirna begitu saja.

Kini sepertinya aku mengidap suatu phobia, yakni ketakutan pada saat berada dalam kecepatan tinggi. Mungkin istilahnya speedo-phobia (?) (hehe, ngarang banged… *ketularan Vio-isme*). Demikianlah adanya, setiap kali aku berada dalam kendaraan yang berkecepatan "tinggi" (40 km/jam ke atas), apalagi diselingi dengan acara rem mendadak, rasanya aku begitu takut dan dihantui oleh kejadian kecelakaan itu.

Sangat beruntung aku, bahwa Anton Harianja - salah seorang teman sekantor - bertempat tinggal tidak jauh dari rumahku (hanya beda RT). Dia menawarkan aku untuk nebeng di Avanza-nya pulang-pergi. Tawaran ini tentu sangat aku hargai dan tidak aku sia-siakan. Aku senang karena dia cukup memahami phobia yang aku derita, sehingga selalu menahan diri untuk tidak memacu mobilnya lebih dari 40 km/jam. Disamping itu aku juga merasa nyaman menumpang di mobilnya karena selalu diiringi dengan musik-musik dari penyanyi favorit "kami". Siapakah itu ? Ya.. tidak lain adalah Victor Hutabarat, Nainggolan Sisters dan Trio Amsisi *… kembali ke selera asal …*

Memang enak kalau bisa nebeng seperti ini. Tapi sampai kapan? Apakah selamanya? Tidak mungkin.. dan tidak ingin juga aku selamanya seperti ini. Bagaimanapun aku harus bisa mandiri seperti sebelumnya. Jangan dikalahkan oleh rasa takut. Maka dengan sedikit nekad, Minggu siang 8 Januari sepulang gereja aku memberanikan diri menghidupkan motor lalu mencoba menjalankannya pelan sekali.

Sudah enam bulan lebih aku tidak pernah menyentuh motor itu lagi. Ternyata tidak ada yang berubah dengan ANF 125 cc ini. Tabrakan itu tidak meninggalkan bekas padanya. Perlahan aku tarik gas, lalu masuk persneling. Mula-mula memang sedikit gemetar, aku jadi teringat lagi tahun 1988 waktu pertama kali aku belajar naik motor. Sedikit oleng kanan dan kiri, gasnya aku tambah.. dan akhirnya bisa stabil di kecepatan 15-20 km/jam. Ah.. syukurlah. Kini aku sudah bisa  lebih "normal" lagi.

Buku “Suatu Hidup Baru”

Thursday, January 5th, 2006

14 Nopember 2005. Akhirnya rangkaian catatan pengalaman spiritualku selama temporary invalid itu aku rangkum dalam sebuah buku. Buku itu aku beri judul "Suatu Hidup Baru". Tebalnya kira-kira 60 halaman kertas A5. Tidak tahu ukuran A5? oh.. jangan kecil hati, anda tidak sendiri, bahkan karyawan percetakan pun ada yang tidak tahu bahwa A5 itu adalah setengah ukuran A4. Tentu saja aku hafal.., dulu aku pernah bekerja di pabrik kertas :)

Awalnya, buku ini hanya ingin aku simpan untuk koleksi pribadi. Tapi kemudian aku berpikir bahwa akan lebih baik lagi jika cerita-cerita ini aku sampaikan pada orang-orang terdekatku - keluarga dan teman-teman. Setidak-tidaknya ini bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi mereka jika mengalami saat-saat sulit dalam hidup ini. Maka aku pun menghubungi beberapa percetakan untuk menanyakan berapa biaya untuk mencetak buku itu. Negosiasi pun berlangsung, kesepakatan pun terjadi dan akhirnya aku mencetak buku itu dengan kuantitas minimum, yaitu 400 eksemplar. Aku sendiri tidak punya bayangan akan aku distribusikan ke mana saja buku itu, yang penting sekarang cetak dulu. Seminggu kemudian cetakan pun selesai dan bukuku yang pertama pun terbit sudah.

Pertama-tama buku ini aku edarkan di lingkungan kantorku. Di luar dugaan ternyata respon dari teman-teman antusias sekali. Banyak dari mereka memberi komentar positif, dan sebagian diantaranya malah meminta aku untuk menandatangani halaman terdepan buku itu - layaknya seorang penulis terkenal saja. Demikianlah buku ini telah beredar di kantorku dan dibaca mulai dari direksi, manager, supervisor, operator, bahkan driver dan security.

30 Nopember 2005, di rumah, kami sekeluarga mengadakan doa syukuran atas pulihnya kesehatanku dalam suatu misa kudus yang dihadiri teman-teman se-lingkungan. Misa itu dipersembahkan oleh Rm. Paul Kelen, CSsR. Sekitar 30 orang hadir dalam syukuran itu, dan sebagai sovenir bagi tiap keluarga yang hadir, aku menghadiahkan buku itu.

Di perkumpulan marga Silitonga yang terdekat, dalam suatu arisan keluarga aku juga telah membagi-bagi buku itu kepada keluarga-keluarga yang hadir sebagai tanda suka cita dan terima kasih atas dukungan yang mereka berikan. Juga kepada keluarga besar J. Sitorus, aku serahkan buku itu sebagai ucapan terima kasih atas bantuan selama aku sakit. Kepada keluarga-keluarga dekat yang lain pun sama halnya: di Jambi, di Sidempuan, di Parinsoran buku itu aku kirim via pos.

Pada prinsipnya, aku ingin sekali membagi cerita, pengalaman dan kebahagiaan ini kepada sebanyak mungkin keluarga dan teman-temanku. Oleh karena itu teman-teman lamaku yang lokasinya jauh pun aku hubungi kembali untuk aku kirimi buku ini - sebut saja : Aan, Eko, Parlin, Martha, Indy, Tommy, dan ada juga teman yang baru aku kenal dan langsung aku kirimi, yaitu Vio.

Aku senang sekali bisa memberi buku itu. Dan yang paling aku sukai adalah apabila aku bisa menyerahkan buku itu face to face sambil sedikit banyak bercerita tentang apa yang sudah aku alami dan rasakan, sebagaimana aku lakukan kepada Alta, Boby dan Dian. Dalam momen-momen seperti itu rasanya jiwaku berkobar-kobar.

Pada suatu kesempatan di bulan Desember aku kembali ke RS Carolus untuk kontrol. Di situ aku kembali bertemu dengan Bu Agnes - perawat kepala di Unit Lukas - dan pertemuan itu cukup mengharukanku, dimana aku bisa mengucapkan terima kasihku kepada para perawat yang telah merawat aku dulu. Sebentuk kebahagiaan pun terpancar dalam sorot mata Bu Agnes ketika aku menceritakan pengalamanku sambil menyerahkan buku itu kepadanya. Dia berjanji akan menyimpan buku itu di perpustakaan untuk diceritakan kembali bagi para pasien yang bernasib sama.

Di RS Carolus itu pula aku sempat berkenalan dengan seorang imam tua berkebangsaan Belanda yang berkarya di derah misi Timika - Papua. Namanya Lambertus, OFM. Sudah 30-an tahun beliau di sana, dan kini beliau memimpin suatu LSM yang bergerak di bidang pendampingan korban HIV-AIDS dan pencegahan penularannya di daerah itu. Kepadanya juga aku serahkan buku itu untuk di bawa ke Papua.

Demikianlah buku itu beredar ke banyak orang, berbagai kalangan di banyak tempat. Terus terang aku tidak pernah memiliki interest finansial dari buku ini. Aku tidak mencari profit apa pun. Memang ada beberapa orang yang dengan sukarela mengganti ongkos cetak. Ada juga yang tidak mengganti, tidak masalah. Yang terpenting bagiku adalah kabar sukacita ini harus disebarkan. Aku telah menerima dengan cuma-cuma, maka aku pun harus mewartakannya dengan cuma-cuma.

Tak pernah aku bayangkan sebelumnya bahwa aku akan pernah menjadi seorang penulis. Dan bukuku yang pertama ini telah beredar luar ke berbagai tempat, sebut saja Jakarta, Medan, Batam, Padang Sidempuan, Jambi, Semarang, Surabaya dan Timika.

Heran? Ah, ojo gumunan... Aku tidak heran koq, karena memang bukan aku yang bekerja. Tapi DIA. dan bagi DIA tidak ada yang mustahil. :)