Enam - Jam Bezuk
Tuesday, October 25th, 2005Tak perlu diceritakan lebih panjang, menjadi pasien di rumah sakit sungguh sepi. Dan betapa gembira jika ada orang yang datang berkunjung untuk sekedar berbagi cerita. Sehingga tidak heran jika jam bezuk adalah waktu yang paling aku tunggu-tunggu.
Rumah sakit tempat aku dirawat ternyata menerapkan kebijakan yang sangat zaklijk (baca : saklek) dalam ketaatan terhadap waktu besuk. Hanya ada dua waktu untuk besuk, siang 12.00 - 14.00, sore 18.00 - 20.00. Di luar itu tidak diijinkan. Lewat satu menit dari batas akhir, satpam akan datang dan mengusir dengan halus para pengunjung yang masih membandel. Bukan apa-apa, ini semua ditujukan demi kepentingan pasien agar mendapat waktu istirahat yang cukup selama perawatan.
Sepanjang pengalamanku, tingkah polah para pembesuk ternyata sangat bervariasi. Ada yang datang dengan muka sangat muram sehingga lebih mirip seperti melayat orang mati, ada yang bawa buah-buahan sebakul, ada yang sepanjang jam besuk dihabiskan untuk melucu dan bikin anekdot-anekdot konyol. Pokoknya macam-macam.
Seperti sudah aku ceritakan sebelumnya, Altamira adalah teman pertama yang membesuk aku. Waktu aku masih di UGD aku sempat kirim sms kepadanya, dengan tujuan minta didoakan. Mengejutkan sekali sore harinya dia sudah berada persis di ambang pintu ruanganku. Dia datang dengan senyumnya yang khas, meski kecemasan tampak jelas di wajahnya waktu pertama kali melihat kakiku yang bengkak berbalut perban. Tak terasa air mataku menetes waktu dia duduk disampingku dan menggenggam tanganku. Dengan lembut dia menghibur aku dengan kata-kata yang menguatkan. Dia begitu paham perasaannku pada saat itu, sehingga tak mungkin aku menolak tawarannya waktu ia menyodorkan sedotan dari gelas yang berisi air putih dan mulai menyuapiku makan sore itu. Dua jam terlalu cepat berlalu, dan lambaian tanganku mengantarkan langkahnya dan dalam sekejap dia telah menghilang lagi dari balik pintu.
Entah kebetulan atau bukan, ternyata Tuhan punya rencana lain bagi Alta. Dua hari setelah ia membesuk aku, aku mendapat kabar bahwa papinya mendapat kecelakaan lalu-lintas dalam perjalanannya di Pantura yang menyebabkan tulang belakangnya bergeser dan mengganggu sistem syarafnya. Akibatnya papinya harus dirawat dan kini Alta harus bergulat melawan ketakutannya ketika papinya dioperasi. Operasi yang berat terutama bagi orang yang berumur di atas 60 tahun. Memang jalan Tuhan tidak terjangkau akal.
Pater Ben, seorang iman biarawan dari Ordo Fransiskan sangat berkesan bagiku. Setiap pagi dia berkeliling mengunjungi aku dan orang-orang sakit yang lain untuk sekedar ngobrol dan bercanda. Tidak pernah formal, yang dia tawarkan adalah kegembiraan dalam melewati masa-masa suram. Sangat mengharukan bahwa dia di usianya yang sudah 77 tahun berjalan terseok-seok, tetap semangat, tidak pernah mengeluh dan dengan sepenuh hati berusaha agar orang yang sakit bisa tertawa. Terapi tawa ini menurut dia sangat membantu untuk penyembuhan.
Tidak kalah mengesankannya ketika tulang ( paman - red. ) dan keluarga dari marga Silitonga bersama-sama membesuk, sehingga ruang perawatanku menjadi mirip tempat arisan keluarga. Mengesankan sekali bahwa dua orang tulangku yang usianya di kisaran 70 tahunan, yang sebenarnya juga sedang sakit, menjenguk aku dan memberikan dorongan moril. Bersama mereka turut pula datang Abang Sijabat yang seharusnya hari itu bisa bersantai dalam acara tour perusahannya. Lalu menyusul kemudian Lae Raymond, Kak Bertha dan pariban-paribanku yang lain.
Keluarga Amang J. Sitorus, tidak kalah besar dukungannya bagiku. Di kediaman merekalah Thomas kami titipkan selama aku di rumah sakit. Ompung boru Sinaga yang mengasuhnya selama Louis istriku harus standby 24 jam menjagaku. Dan apabila mereka sekeluarga besar datang menjengukku, ruanganku menjadi penuh dengan hingar bingar dan suasana pun menjadi cerah.
Yulianti Proborini - teman kuliahku dulu - memang tidak dapat datang, tapi dukungannya lewat pesan singkat yang dikirimkannya lewat telepon seluler tidak bisa dianggap sepele. Tidak ada satu hari pun yang berlalu tanpa spirit yang mengalir lewat rangkaian kata-kata sms yang menguatkan hati. Lewat dialah maka Dian Cahayani - temanku yang juga teman sekelasnya - datang di suatu siang terik di hari Sabtu untuk berbagi cerita denganku. SMS dukungan juga datang dari Aan P. Nirwana, teman akrabku di ITS dulu, yang mendoakan agar aku kuat demi orang-orang yang aku cintai.
Teman-teman sejawatku juga berdatangan ke tempatku, mulai dari Pak Satata dan Pak Hendri yang segera datang sekaligus menyampaikan surat jaminan ke rumah sakit mengenai biaya pengobatan. Setelah itu Pak Felix, Mbak Utiek dan Pak Yuliatmoko yang datang di satu malam yang bergerimis. Lalu Pak Mangatas, Pak Rusman, Pak Anton Hasibuan dan Pak Parsito yang datang di siang bolong dengan sejumlah lawakan segar yang membuat kakiku menjadi kram karena terlalu banyak tertawa. Lalu Bu Nuri dan Mbak Yanthi datang berdua dengan air muka sendu dan bertutur lembut mendayu-dayu. Teman-temanku satu team di Engineering, R&D dan Marketing : Dodiek Dyan, Ahmad Martono, Aldila, Dody Baskoro, Kustanto dan Cak Seno, dan terakhir ada juga Siswanto yang datang sendiri di suatu sore.
Pepatah mengatakan : tetangga adalah keluarga kita yang terdekat. Ini betul sekali. Aku terharu ketika Bu Markus, Bu Wellem dan Bu Agung datang membesuk aku ketika berada di ICU dalam keadaan antara hidup dan mati. Dan merasa diriku berarti ketika Pak Har, Pak Markus, Pak Sostro dan Pak Fredrick datang sore-sore untuk melihat keadaanku. Lalu aku merasa harapanku terangkat tinggi ketika Pak Yanto, tetanggaku yang satpam di Kedubes AS itu menceritakan bahwa dia sudah dua kali mengalami kecelakaan patah tulang, tapi alhamdulillah sekarang sembuh dan tetap bisa bekerja lagi. Dan tetanggaku yang terakhir datang adalah Pak Wayan, yang menceritakan bahwa di RT-ku sekarang sedang mewabah demam berdarah, yang baru saja merenggut nyawa anak mantan pak RT.
Aku lebih terharu ketika Uda( adik bapak - red. ) Marihot pada suatu hari sengaja terbang dari Palembang hanya untuk melihat keadaanku dan mangupa ( semacam upacara kecil adat Batak - red. )aku dengan dekke arsik ( sejenis masakan ikan dalam adat Batak - red. ) agar aku diberi kesembuhan oleh Debata Mulajadi Nabolon ( Tuhan - red. ). Setelah itu dia pulang lagi ke Palembang. Mama yang baru dua minggu sebelum aku kecelakaan pulang ke Tapanuli, terpaksa balik lagi untuk bisa menjenguk aku dan membantu sekiranya ada yang perlu ditolong.
Tapi jauh melebihi itu semua, seseorang yang paling besar dukungannya untuk aku pada saat itu tidak lain adalah Louise istriku. Dialah orang yang menghabiskan 24 jam dalam hidupnya hanya untuk melayani dan melakukan segalanya untukku. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya hidupku tanpa ada dia disampingku pada saat itu. Tuhan benar-benar telah memberikan dia sebagai "penolong yang sepadan" bagiku. Aku sungguh mencintai dia. Cinta yang tidak perlu diungkapkan lagi dalam kata-kata karena sudah menyatu dalam darah-daging sampai ke tulang-sumsumku.
Meminjam lagu Shania Twain, bagi Louise aku bingkiskan :
From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn’t give
From this moment on