Archive for October, 2005

Enam - Jam Bezuk

Tuesday, October 25th, 2005

Tak perlu diceritakan lebih panjang, menjadi pasien di rumah sakit sungguh sepi. Dan betapa gembira jika ada orang yang datang berkunjung untuk sekedar berbagi cerita. Sehingga tidak heran jika jam bezuk adalah waktu yang paling aku tunggu-tunggu.

Rumah sakit tempat aku dirawat ternyata menerapkan kebijakan yang sangat zaklijk (baca : saklek) dalam ketaatan terhadap waktu besuk. Hanya ada dua waktu untuk besuk, siang 12.00 - 14.00, sore 18.00 - 20.00. Di luar itu tidak diijinkan. Lewat satu menit dari batas akhir, satpam akan datang dan mengusir dengan halus para pengunjung yang masih membandel. Bukan apa-apa, ini semua ditujukan demi kepentingan pasien agar mendapat waktu istirahat yang cukup selama perawatan.

Sepanjang pengalamanku, tingkah polah para pembesuk ternyata sangat bervariasi. Ada yang datang dengan muka sangat muram sehingga lebih mirip seperti melayat orang mati, ada yang bawa buah-buahan sebakul, ada yang sepanjang jam besuk dihabiskan untuk melucu dan bikin anekdot-anekdot konyol. Pokoknya macam-macam.

Seperti sudah aku ceritakan sebelumnya, Altamira adalah teman pertama yang membesuk aku. Waktu aku masih di UGD aku sempat kirim sms kepadanya, dengan tujuan minta didoakan. Mengejutkan sekali sore harinya dia sudah berada persis di ambang pintu ruanganku. Dia datang dengan senyumnya yang khas, meski kecemasan tampak jelas di wajahnya waktu pertama kali melihat kakiku yang bengkak berbalut perban. Tak terasa air mataku menetes waktu dia duduk disampingku dan menggenggam tanganku. Dengan lembut dia menghibur aku dengan kata-kata yang menguatkan. Dia begitu paham perasaannku pada saat itu, sehingga tak mungkin aku menolak tawarannya waktu ia menyodorkan sedotan dari gelas yang berisi air putih dan mulai menyuapiku makan sore itu. Dua jam terlalu cepat berlalu, dan lambaian tanganku mengantarkan langkahnya dan dalam sekejap dia telah menghilang lagi dari balik pintu.

Entah kebetulan atau bukan, ternyata Tuhan punya rencana lain bagi Alta. Dua hari setelah ia membesuk aku, aku mendapat kabar bahwa papinya mendapat kecelakaan lalu-lintas dalam perjalanannya di Pantura yang menyebabkan tulang belakangnya bergeser dan mengganggu sistem syarafnya. Akibatnya papinya harus dirawat dan kini Alta harus bergulat melawan ketakutannya ketika papinya dioperasi. Operasi yang berat terutama bagi orang yang berumur di atas 60 tahun. Memang jalan Tuhan tidak terjangkau akal.

Pater Ben, seorang iman biarawan dari Ordo Fransiskan sangat berkesan bagiku. Setiap pagi dia berkeliling mengunjungi aku dan orang-orang sakit yang lain untuk sekedar ngobrol dan bercanda. Tidak pernah formal, yang dia tawarkan adalah kegembiraan dalam melewati masa-masa suram. Sangat mengharukan bahwa dia di usianya yang sudah 77 tahun berjalan terseok-seok, tetap semangat, tidak pernah mengeluh dan dengan sepenuh hati berusaha agar orang yang sakit bisa tertawa. Terapi tawa ini menurut dia sangat membantu untuk penyembuhan.

Tidak kalah mengesankannya ketika tulang ( paman - red. ) dan keluarga dari marga Silitonga bersama-sama membesuk, sehingga ruang perawatanku menjadi mirip tempat arisan keluarga. Mengesankan sekali bahwa dua orang tulangku yang usianya di kisaran 70 tahunan, yang sebenarnya juga sedang sakit, menjenguk aku dan memberikan dorongan moril. Bersama mereka turut pula datang Abang Sijabat yang seharusnya hari itu bisa bersantai dalam acara tour perusahannya. Lalu menyusul kemudian Lae Raymond, Kak Bertha dan pariban-paribanku yang lain.

Keluarga Amang J. Sitorus, tidak kalah besar dukungannya bagiku. Di kediaman merekalah Thomas kami titipkan selama aku di rumah sakit. Ompung boru Sinaga yang mengasuhnya selama Louis istriku harus standby 24 jam menjagaku. Dan apabila mereka sekeluarga besar datang menjengukku, ruanganku menjadi penuh dengan hingar bingar dan suasana pun menjadi cerah.

Yulianti Proborini - teman kuliahku dulu - memang tidak dapat datang, tapi dukungannya lewat pesan singkat yang dikirimkannya lewat telepon seluler tidak bisa dianggap sepele. Tidak ada satu hari pun yang berlalu tanpa spirit yang mengalir lewat rangkaian kata-kata sms yang menguatkan hati. Lewat dialah maka Dian Cahayani - temanku yang juga teman sekelasnya - datang di suatu siang terik di hari Sabtu untuk berbagi cerita denganku. SMS dukungan juga datang dari Aan P. Nirwana, teman akrabku di ITS dulu, yang mendoakan agar aku kuat demi orang-orang yang aku cintai.

Teman-teman sejawatku juga berdatangan ke tempatku, mulai dari Pak Satata dan Pak Hendri yang segera datang sekaligus menyampaikan surat jaminan ke rumah sakit mengenai biaya pengobatan. Setelah itu Pak Felix, Mbak Utiek dan Pak Yuliatmoko yang datang di satu malam yang bergerimis. Lalu Pak Mangatas, Pak Rusman, Pak Anton Hasibuan dan Pak Parsito yang datang di siang bolong dengan sejumlah lawakan segar yang membuat kakiku menjadi kram karena terlalu banyak tertawa. Lalu Bu Nuri dan Mbak Yanthi datang berdua dengan air muka sendu dan bertutur lembut mendayu-dayu. Teman-temanku satu team di Engineering, R&D dan Marketing : Dodiek Dyan, Ahmad Martono, Aldila, Dody Baskoro, Kustanto dan Cak Seno, dan terakhir ada juga Siswanto yang datang sendiri di suatu sore.

Pepatah mengatakan : tetangga adalah keluarga kita yang terdekat. Ini betul sekali. Aku terharu ketika Bu Markus, Bu Wellem dan Bu Agung datang membesuk aku ketika berada di ICU dalam keadaan antara hidup dan mati. Dan merasa diriku berarti ketika Pak Har, Pak Markus, Pak Sostro dan Pak Fredrick datang sore-sore untuk melihat keadaanku. Lalu aku merasa harapanku terangkat tinggi ketika Pak Yanto, tetanggaku yang satpam di Kedubes AS itu menceritakan bahwa dia sudah dua kali mengalami kecelakaan patah tulang, tapi alhamdulillah sekarang sembuh dan tetap bisa bekerja lagi. Dan tetanggaku yang terakhir datang adalah Pak Wayan, yang menceritakan bahwa di RT-ku sekarang sedang mewabah demam berdarah, yang baru saja merenggut nyawa anak mantan pak RT.

Aku lebih terharu ketika Uda( adik bapak - red. ) Marihot pada suatu hari sengaja terbang dari Palembang hanya untuk melihat keadaanku dan mangupa ( semacam upacara kecil adat Batak - red. )aku dengan dekke arsik ( sejenis masakan ikan dalam adat Batak - red. ) agar aku diberi kesembuhan oleh Debata Mulajadi Nabolon ( Tuhan - red. ). Setelah itu dia pulang lagi ke Palembang. Mama yang baru dua minggu sebelum aku kecelakaan pulang ke Tapanuli, terpaksa balik lagi untuk bisa menjenguk aku dan membantu sekiranya ada yang perlu ditolong.

Tapi jauh melebihi itu semua, seseorang yang paling besar dukungannya untuk aku pada saat itu tidak lain adalah Louise istriku. Dialah orang yang menghabiskan 24 jam dalam hidupnya hanya untuk melayani dan melakukan segalanya untukku. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya hidupku tanpa ada dia disampingku pada saat itu. Tuhan benar-benar telah memberikan dia sebagai "penolong yang sepadan" bagiku. Aku sungguh mencintai dia. Cinta yang tidak perlu diungkapkan lagi dalam kata-kata karena sudah menyatu dalam darah-daging sampai ke tulang-sumsumku.

Meminjam lagu Shania Twain, bagi Louise aku bingkiskan :

From this moment as long as I live

I will love you, I promise you this

There is nothing I wouldn’t give

From this moment on

Lima - Pasien : Patient, Be Patient

Monday, October 24th, 2005

Sejak aku masuk ke UGD, ruang bedah, ICU, dan sampai di unit perawatan ini aku menyandang status pasien. Aku sendiri tidak tahu kata "pasien" ini diserap dari bahasa mana. Tapi setahuku dalam bahasa Inggris padanan kata ini adalah patient.

Sementara itu kata "patient" sendiri mengandung dua pengertian. Iseng aku buka kamus Oxford, untuk mencari definisi kata ini. Tertulis demikian :

noun : a person who is recieving medical treatment, especially in a hospital

adj : able to wait for a long time or accept anoying behaviour or difficulties without becoming angry

Dua pengertian yang sebenarnya memiliki konotasi yang berbeda jauh, tapi kalau direnung-renungkan dalam konteks keadaanku sekarang sepertinya keduanya berlaku. Ya, aku adalah pasien yang harus sabar. A patient patient. Hahaha.. lucu sekali.

Bagaimana mungkin mau tidak sabar ? Satu minggu pertama aku hanya bisa berbaring, tanpa duduk, tanpa tekuk kaki, tanpa miring kiri, tanpa miring kanan. Baring, hadap ke atas, itu thok ! Tapi biarlah, hadap ke atas ini aku ambil hikmahnya bahwa sekarang ini aku hanya bisa mengandalkan pertolongan Yang Diatas.

Pegal ? Boleh jadi, tapi sepertinya aku sudah lupa apa itu rasanya pegal. Lalu bagaimana dengan mandi ? Tidak ada mandi, yang ada hanyalah diseka dengan lap basah oleh perawat. Dan jangan harap ada acara keramas segala.

Sebenarnya ruang perawatanku itu cukup nyaman. Ruangan full AC. Pasien hanya aku sendiri dan disediakan ruang tidur untuk yang menjaga. Untuk hiburan ada TV kabel. Tempat tidur cukup ergonomis - adjustable - bisa naik turun, bisa dimiringkan sehingga menjadi seperti kursi, dan di labelnya kubaca "Manufactured by ATMI Surakarta". Tapi memang benar kata Prida sang perawat, senyaman-nyamannya rumah sakit, lebih baik jangan nginap di situ.

Hal yang paling menyiksa selama di situ tak lain adalah kehilangan mobilitas - kehilangan kebebasan. Aku yang biasanya bisa pergi ke mana pun aku suka, kini hanya berbaring diam tanpa punya kepastian kapan aku bisa sembuh, apakah aku bisa berjalan lagi, dan yang lebih penting apakah aku bisa bercita-cita lagi.

Ajaib bahwa di tengah keraguan itu, tiba-tiba aku teringat akan kisah hidup dari Ignatius Loyola. Seorang perwira Spanyol abad ke-16 yang ketika berusia 30 tahun ( sama persis dengan umurku ! ) - di tengah puncak kariernya - harus kehilangan kemampuan berjalan karena patah kaki di suatu pertempuran. Itu terjadi di tahun 1521, dan pada tanggal 29 Juni 1521 dia telah bersiap untuk mati. 29 Juni !!? Kenapa sama persis dengan aku ?

Lalu bagaimana kisah Ignatius Loyola selanjutnya ? Ternyata kehilangan kemampuan berjalan tidak menjadi halangan untuk maju. Dia justru mampu mengolah pengalaman pahitnya itu sebagai suatu perjalanan rohani dan mencipta suatu buku hebat : "Spiritual Exercises". Selanjutnya dia bahkan mampu mendirikan suatu organisasi besar - Serikat Jesuit - yang bertahan hingga sekarang dan telah melahirkan orang-orang besar : filsuf, teolog, pendidik, dan lain-lain. Ini benar-benar membesarkan hatiku. Fisik bukan masalah, spirit jauh lebih penting.

Di tengah-tengah perenunganku, lalu muncul lagi nama-nama lain yang memberi inspirasi. Franklin D. Rosevelt, seorang Presiden Amerika Serikat di masa Perang Dunia II. Tidak banyak orang tahu bahwa ia menghabiskan sebagian masa hidupnya di atas kursi roda karena terinfeksi poliomelitis di usianya yang ke-39. Tapi toh dia sukses memimpin negara itu melewati masa perang dan krisis ekonomi.

Louis Braille, seorang guru dari Perancis yang buta sejak kecil, justru menemukan metode baca-tulis bagi orang-orang tuna netra : huruf braille. Frances Jane (Fany) Crosby - penulis hymne favoritku - belakangan baru aku tahu bahwa dia ternyata buta sejak kecil (karena salah obat!). Mengejutkan sekali bahwa dia bisa menulis lebih dari 100 lagu dan puisi, dan aku sangat menikmati lagunya : Safe In The Arm of Jesus. Ya mereka itu, Ignatius Loyola, FD Rosevelt, Louis Braille, Fany Crosby telah menjadi sumber inspirasi dan kekuatanku. Dan satu figur lagi yang paling menguatkan aku adalah Jesus Kristus sendiri, yang telah mengalami "jatuh" yang paling tragis ketika dalam perjalanannya di Via Dolorosa. Tapi dengan taat jalan salib itu tetap dilaluinya sampai ke puncak Kalvari.

Lama aku merenung, sampai tak terasa sudah lebih satu minggu aku berbaring. Dan hari ini seorang perawat mengantarkan sepasang kruk ke dalam kamarku. Sungguh berat waktu pertama kali aku melihat kruk itu dan membayangkan apakah aku bisa memakainya. Pertama kali petugas fisioterapy membimbing aku turun dari tempat tidur, aku merasa sakit sekali di kaki kiriku. Apalagi aku harus mengangkat kaki kiri dan bertumpu hanya dengan mengandalkan kaki kanan. Berat dan sakit ! Tapi jalan harus tetap dilalui dan salib harus tetap dipanggul. Hanya dengan kekuatan Ilahi aku mampu mencoba terus maju sekalipun sakit. Dan, Tuhan tidak pernah mengabaikan doa dan usaha umatnya, lewat usaha yang keras dalam waktu hampir satu minggu berlatih kruk, kini aku mampu untuk berjalan dalam radius lima meter. Lima meter ? Hahaha… memang lucu, tapi dengan modal itu setidaknya aku telah mampu pergi ke kamar mandi. Aku bisa mandi lagi. Mau keramas… ? Mau luluran… ? Terserah :)

Latihan kesabaran, itulah hikmat yang kini sedang aku pelajari. Seperti cuaca, kadang cerah kadang hujan. Mungkin saat ini langit mendung dan hujan turun. Tapi bukankan tak ada hujan yang tak berakhir, dan tak ada badai yang tak berlalu. Santai saja, coba dengar apa kata Barney si Dinosaurus itu..

What can we do in a rainy day

‘Till the sun comes up and the clouds go away

We can still have fun if the sky is gray

When we play on a rainy day

Empat - Transfusi

Sunday, October 23rd, 2005

30 Juni 2005. Hari sudah siang ketika mereka memutuskan bahwa aku sudah boleh meninggalkan ICU. Apakah aku diperbolehkan keluar karena kondisiku sudah membaik atau karena aku bernyanyi terlalu keras dan tidak enak didengar sehingga mengganggu pasien lain di ICU itu, aku kurang tau pasti. Tapi yang jelas aku merasa badanku masih lemah dan aku juga masih demam sehingga masih perlu dikompres dengan es batu, maka aku berkesimpulan kemungkinan besar suarakulah yang menyebabkan aku harus di-"deportasi" dari situ. Ibarat peserta kontes idol, aku telah di-eliminasi. Tapi tidak apa-apa lah, tidak senang juga aku lama-lama di ICU. Seram!

Tidak lama kemudian datang seorang perawat menjemput aku menuju ruang perawatan biasa. Dari name tag di krah bajunya kubaca namanya : Aisyah. Perawakannya sedang, tampang klasik, agak-agak retro, dan irit senyum. Pelan-pelan dia mendorong tempat tidurku. Masih sempat aku mengucapkan terima kasih kepada Mbok Made (begitulah orang-orang aku dengar meyebut namanya), perawatku di ICU itu, lalu berangsur-angsur tempat tidurku beranjak menjauh. Di pintu keluar ICU, Louise istriku sudah menunggu. Lalu dia mengiringiku keluar.

Mampir sejenak ke ruang X-ray untuk di-rontgen lagi, lalu perjalanan diteruskan. Kini aku sudah berada di ruang perawatan biasa. Sebuah kamar telah disiapkan buatku, dan di kamar itu hanya ada satu tempat tidur. Seorang perawat tersenyum ramah dan menyapaku, "Selamat siang, Pak Y—f (dia menyebut namaku)". "Selamat siang juga, Bu Agnes." jawabku tak mau kalah. Jika dia bisa tahu namaku dari papan informasi pasien, aku juga bisa tahu namanya dari name tag yang dia kenakan. 1 - 1, pikirku. Selanjutnya aku tahu bahwa ternyata dia itu adalah perawat kepala di unit perawatan pasca-bedah.

Aku mencoba untuk tidur lagi, namun susah juga. Lebih dari 24 jam aku terbius sejak operasi itu menyebabkan aku tidak lagi berminat untuk istirahat. Lama-lama aku merasa mulai pusing, tangan berkeringat dan badanku lesu. Kata Louise mukaku juga pucat sekali. Aida - seorang perawat - juga kelihatan tidak tersenyum waktu dia selesai mengukur tensiku dan mencatat di check-sheet nya. Something wrong, batinku.

Kecemasanku terbukti ketika Wayan - satu-satunya perawat pria di unit itu - datang dan menjelaskan bahwa kondisiku drop lagi. Tensiku 90 dan Hb-ku 8. "Itu dibawah normal." jelasnya. Apa itu dibawah normal ? Yang aku tahu Peterpan baru saja me-release video klip "Diatas Normal" yang minggu ini sedang jadi bubling-under di MTV Ampuh.

"Bapak harus ditransfusi." lanjut Wayan. "Sekarang bank darah di PMI sedang dihubungi, tapi Bapak tidak usah khawatir karena stok darah golongan A Rh. positif ada, dan bla.. bla.. bla.. " Entah apa lagi selanjutnya yang dia katakan aku tidak ingat dan tidak ambil pusing. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, ujarku dalam hati. Itu expresi ketidakberdayaanku. Suatu hal yang jarang sekali aku alami. Dalam hidupku biasanya aku selalu cenderung melibatkan diri dalam setiap pengambilan keputusan, terutama yang menyangkut kepentinganku. Tapi kali ini tidak. Biarlah mereka memutuskannya buatku. Pada titik ini aku harus belajar untuk menjadi hamba yang benar-benar taat pada kehendak tuannya.

Dari balik jendela aku melihat cahaya matahari sudah meredup ketika Ina, seorang perawat lain datang membawa kantong berwarna merah hati. Itulah kantong darah. Darah yang akan ditransfusikan kepadaku. Terampil sekali dia menggantungkan kantong darah itu ke kait infus dan memparalelkannya dengan infus yang sedang mengalir. Tidak terasa sakit sama sekali, biasa saja. Pelan-pelan darah itu menetes dalam bentuk gumpalan-gumpalan kecil.

Inilah pertama kali aku merasakan darah orang lain mengaliri urat nadiku. Orang yang tidak aku kenal sama sekali. Hari itu seorang dermawan yang anonim telah menjadi pahlawan kemanusiaan bagiku. Menit demi menit berlalu, kini darah dermawan itu mengalir ke seluruh tubuhku. Dalam falsafah Batak, darah itu melambangkan jiwa seseorang. Jika tubuhku telah dialiri darah seorang dermawan, maka jiwa kedermawanan itu pula seharusnya telah ikut merasuki jiwaku. Aku berhutang budi kepadanya - dan hutang budi ini harus dibayar - tidak harus kepadanya, tapi bisa bagi siapa saja.

Semalam-malaman aku ditransfusi. Sulit untuk tidur karena kadang-kadang darah itu membeku dan terjadi penyumbatan, sehingga harus memanggil perawat untuk memperbaikinya. Lagipula masuknya benda asing ke dalam tubuhku telah menyebabkan terjadinya penolakan. Aku semakin demam. "Sel-sel darah putihnya mengadakan perlawanan karena ada benda asing, itu biasa kok Pak," kata Prida seorang perawat yang gemar memberikan penjelasan awam tentang tindakan medis yang dilakukannya, "Nah sekarang saya suntik Oradexon, biar Bapak jadi ora-meriang." Punya sense-of-humor juga orang ini, pikirku. Tapi ternyata suntikannya sakti juga, 1-2 jam kemudian aku merasa lebih ringan.

Kini sudah 4 kantong darah yang masuk. Jumlah segitu agaknya sudah dirasakan cukup, maka pagi-pagi buta seorang perawat mencabut kantong darah itu dan kini aku sudah selesai ditransfusi. Ada kekuatan baru yang aku rasakan. Wajahku yang tadinya pucat pun kini mulai berseri-seri kembali. Tidak ada rasa pusing lagi dan badan lebih segar.

Sekali lagi aku berterima kasih yang tak terhingga bagi sang dermawan-anonim yang telah menyumbangkan darahnya bagiku. Aku menjadi malu juga, karena sampai saat ini belum pernah sekalipun aku mendonorkan darahku, dengan alasan yang naif, takut jarum suntik. Meski berkali-kali aku menerima e-mail berantai tentang orang yang sedang membutuhkan darah, aku belum tersentuh juga. Kini setelah aku mengalami sendiri, aku menyadari bahwa slogan yang sering diulang-ulangi oleh PMI itu bukan sekedar kata-kata kosong : Setetes darah anda, nyawa bagi orang lain.

Tiga - ICU : I see you

Thursday, October 20th, 2005

Toloooong susteeeer… !!! Sakiiiiit !!! Mama… mama… !!! Allahu Akbar !!! Teriakan-teriakan itu dan masih banyak lagi erangan lain seperti dentuman meriam melewati telinga dan masuk ke syaraf otakku. Ada suara bapak-bapak, ada suara orang tua, ada juga suara anak kecil. Memilukan sekali. Sementara mataku masih terpejam, berat sekali untuk dibuka. Aku fly.

Pelan-pelan aku buka mataku sedikit. Di mana aku ? Oh mengapa infusku menjadi tiga botol ? Satu berwarna bening, satu merah muda, dan satu lagi kekuningan. Selang apa pula ini yang menyumbat hidungku ? Di dadaku ada lagi instrumen-instrumen aneh yang belum pernah aku kenal. Lalu siapa orang-orang yang berteriak-teriak itu ? Oh.. sungguh mencekam.

Sejenak aku merasakan ada kehangatan tangan seseorang menggenggam tanganku. Reflex aku membalas genggaman tangan itu. Kemudian aku melirik ke sisi tempat tidur mencari orang pemilik tangan itu. Seorang ibu yang menurut perkiraanku berusia sekitar lima puluhan berpakaian putih-putih yang ternyata adalah perawat tersenyum ke arahku.

"Bapak sudah sadar, syukurlah." sapa orang itu

"Dimana saya?" tanyaku kepadanya

"Ini di ICU pak - Intensive Care Unit, kemarin Bapak kan habis operasi.. lupa ya?"

Oh Tuhan, rupanya aku baru pulih setelah 24 jam lamanya hilang kesadaran. Dan kini aku harus berbaring di Unit Perawatan Intensif.

"Mengapa saya ada di sini, Suz ?"

"Kemarin kondisi Bapak drop setelah operasi itu karena banyaknya pendarahan, tenanglah."

Demikian perawat itu menjelaskan. Lalu dia menjelaskan lagi bahwa saya perlu tenang dan tidak usah khawatir, karena di ICU itu satu pasien dijaga oleh seorang perawat. Aku hanya mengiyakan saja karena memang aku tidak mampu berpikir banyak. Tubuhku terkulai dan otakku belum sepenuhnya sadar untuk mengerti kejadian itu. Tapi paling tidak sekarang aku mulai tau bahwa teriakan dan erangan tadi berasal dari pasien-pasien lain yang bersamaan denganku dirawat di ICU itu.

Aku mulai mengingat-ingat lagi hari sebelumnya saat aku masuk ke ruang operasi. Saat tempat tidurku diorong ke pintu ruang bedah. Saat Louise istriku menciumku. Lalu aku tersentak. Louise! di mana dia sekarang ?

"Suz, istri saya dimana ?" tanyaku

"Oh istri Bapak ada di luar, di sini keluarga tidak boleh ikut masuk."

Kasihan dia, berarti semalaman dia berjaga menunggui aku. Aku sangat yakin bahwa dia tidak mungkin dapat tidur dalam keadaanku yang seperti ini.

"Bapak mau bicara dengan istri ?" tanya perawat itu seolah membaca pikiranku.

"Ya Suz, bagaimana caranya ?"

"Sebentar saya hubungi." katanya

Sejenak kemudian dia mengulurkan interkom ke telingaku. Ternyata dengan cara itulah kami bisa berkomunikasi. Terdengar nada sambung, lalu aku mendengar suara dari sana.

"Bang.. macam mano kondisi kau ?" suara Louise dalam logat Jambi; meskipun kami sama-sama orang Batak, tapi percakapan sehari-hari kami biasanya dalam bahasa Jambi.

"Eh.. iyo, aku baru sadar." jawabku lemah

"Syukurlah," katanya lagi, "istirahat baelah, biak cepat pulih yo!"

Aku mengiyakan, lalu aku tak mampu meneruskan percakapan karena terlalu lemah. Aku memejamkan mataku dan beberapa saat kemudian sudah tertidur lagi.

Beberapa saat aku nyenyak tiba-tiba tidurku terpecah karena aku mendengar suara kasak-kusuk. Aku ingin tau apa itu. Aku bertanya kepada perawat, tapi perawat itu hanya tersenyum. "Nggak ada apa-apa kok, istirahat saja." katanya. Aku diam, tapi kecurigaanku masih ada.

Sebentar kemudian aku melihat beberapa orang mendorong satu peti besar seukuran tubuh manusia. Oh Tuhan, ternyata kecurigaanku benar. Salah seorang pasien telah meninggal dan itu adalah peti mati yang akan menghatarkannya ke peristirahatan terakhir. Aku melihat ke perawat itu dan dia hanya menatap penuh arti.

Dari debu aku tercipta, dan kepada debu pula aku akan kembali. Kalimat itu terngiang di telingaku. Yah, jarak antara kehidupan dan kematian memang tipis sekali. Orang itu mungkin saja yang barusan mengerang dalam kesakitannya. Kini dia telah tiada. Sekarang giliran dia, nanti mungkin orang lain, dan orang lain itu bisa saja adalah aku.

Dan itu sungguh benar, dalam satu malam itu saja tiga orang dari pasien ICU pergi menghadap Sang Khalik. Dua orang tua dan satu anak kecil. Pikirku, tepat juga ruangan ini dinamakan ICU, yang jika dieja dalam Bahasa Inggris sama dengan "I see you". Aku membayangkan Yang Kuasa di singgasana surgawi sana sedang tersenyum dan memandang kearahku, " I see you, my son. Nothing on you is undiscovered."

Lelah memikirkan itu, aku pun tertidur lagi. Namun sudah tidak bisa senyenyak sebelumnya. Kini pikiranku telah dipenuhi oleh kejadian yang baru saja aku alami itu. Entah mimpi atau bukan, aku melihat sekumpulan orang berjubah putih yang tersenyum dan terlihat begitu bahagia. Ingin sekali rasanya aku mendekat ke arah mereka, namun rasanya jauh sekali dan meski aku telah berusaha mendekat namun posisiku tidak bergerak. Letih sekali kurasa sehingga aku berhenti. Aku gagal mencapai mereka.

"Pak, itu lihat dari kaca, ada yang bezuk." suara perawat itu kembali memecah keheningan

Benar, dari balik kaca aku melihat ada Ibu Markus, Ibu Wellem dan Ibu Agung ditemani oleh Louise tersenyum sambil melambai kepadaku. Mereka adalah ibu-ibu se-lingkungan ku. Interkom kembali diulurkan kepadaku dan bergantian mereka menyapaku sambil memberi kata-kata penghiburan. Terus terang saja aku tidak mampu mencerna kata-kata apa saja yang sudah diucapkan. Tapi setidaknya hatiku sedikit terhibur karena mereka begitu peduli terhadapku.

Tidak lama mereka di situ dan aku melihat mereka melambai lagi, lalu tirai kaca ditutup karena jam bezuk sudah habis. Aku kembali sepi. Apa yang bisa aku buat untuk mengisi kekosongan ini.

Entah kenapa aku teringat akan suatu adegan di film "Titanic". Adegan yang bagiku sangat menyentuh, yakni ketika para pemusik di kapal itu terus bernyanyi meski kapal mulai karam. Dan yang membuatku terharu adalah lagu terakhir yang dimainkan ketika kapal benar-benar hendak tenggelam. "Nearer my God, to Thee" - lagu yang versi Buku Kidung Jemaat diterjemahkan sebagai "Makin dekat Tuhan, kepada-Mu". Ini memang adalah hyme favoritku, yang meskipun di lingkunganku Gereja Katolik lagu ini diterjemahkan sebagai "Tuhan berikanlah istirahat" dan dipakai sebagai lagu untuk pemakaman.

Begitu kuatnya keinginanku untuk bernyanyi pada saat itu, maka aku lagi itu aku senandungkan. Aku tidak peduli bagaimana nanti bentuknya suara yang keluar dari mulutku. Mungkin saja sangat amat fals sekali, dan boleh jadi terdengar seperti suara orang mabuk. Biar saja. Toh tidak ada yang menilai, karena ini bukan festival. Yang terpenting bagiku adalah aku ingin mengekspresikan kepasrahanku, terserah orang mau bilang apa, toh disini tidak ada larangan untuk bernyanyi. Maka aku pun mulai bernyanyi, " …makin dekat Tuhan, kepada-Mu… "

Suaraku boleh saja fals, apalagi jika Pak Theis Watopa - pelatih vokal di ITS - mendengar tentu rambutnya akan semakin keriting. Tapi biar begitu aku yakin bahwa my guardian angel - malaikat pelindungku akan menghantarkan lagu itu dengan suara yang paling merdu ke haribaan Ilahi

Nearer my God, to Thee, nearer to Thee!

E’en though it be a cross that riseth me,

Still all my song shall be,

Nearer my God, to Thee;

Nearer my God, to Thee, nearer to Thee!

Dua - Ruang Bedah

Wednesday, October 19th, 2005

29 Juni 2005, jam 5 pagi aku terbangun. Tubuhku terasa begitu lemah, jangankan untuk menggeser badan, untuk mengangkat kepala pun aku tidak sanggup. Pelan-pelan aku mulai mengarahkan pandang ke sekitarku. Sangat sepi. Hanya aku sendirian di kamar itu, di sisi kiri tempat tidur aku lihat cairan menetes perlahan dari botol infus yang dialirkan ke lengan kiriku. Aku baru sadar bahwa aku sudah tertidur cukup lama sejak Alta pamit pulang jam 8 malam tadi.

Aku merasa haus sekali, maklum sejak malam tadi aku diminta untuk puasa karena pagi ini aku harus menjalani bedah tulang. Bedah, kata yang sungguh asing bagiku. Istilah medis yang untuk membayangkannya saja sudah membuat takut. Tidak pernah terbayang bahwa aku sendiri akan pernah mengalaminya.

Aku terus mengarahkan pandanganku ke seluruh ruangan, karena hanya itu saja aktifitas yang bisa aku lakukan. Tiba-tiba pandanganku berhenti ketika aku melihat kakiku yang dibungkus perban dan spalk. Aku tersentak, ternyata kakiku telah semakin membengkak dan kini ukurannya menjadi dua kali lipat ukuran normal. Memang tidak senyeri kemarin, karena lewat infus telah dimasukkan juga obat bius untuk mengurangi rasa sakit.

Sekilas pikiran buruk muncul mengisi kekosonganku. Bagaimana jika aku harus kehilangan sebelah kakiku karena diamputasi? Oh, apakah mungkin aku sanggup menjalani kehidupan di atas kursi roda. Jika begini, jika begitu.. dan banyak jika-jika yang lain memenuhi lamunanku pagi itu.

Tiba-tiba dari pintu datang Louise istriku, yang tadi malam telah pulang untuk mengurus segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan sehubungan dengan kecelakaanku itu. Kedatangannya itu membuat aku sedikit terhibur, paling tidak sekarang aku sudah punya teman berbagi. Tak lama sesudah itu seorang perawat datang untuk memandikan aku dengan waslap dan mengganti pakaianku dengan pakaian operasi. Setelah mandi, aku siap dibawa ke ruang bedah. Beberapa perawat lain datang membantu memindahkan aku yang menjerit-jerit kesakitan saat diangkat.

Setelah siap, tempat tidurku pun didorong untuk pindah ke ruang bedah yang berada di lantai 4 rumah sakit itu. Seuntai rosario digenggamkan ke tanganku oleh Louise. Sepanjang jalan itu aku rangkaikan butir-butir rosario kepada Sang Bunda agar sudi kiranya dia menemaniku di saat-saat yang kritis ini, meskipun aku tahu bahwa untuk mengucap doa Salam Maria pun waktu itu aku berulang kali keliru. Mater amata, intemerata, ora pro me.. demikian kidungku bagi Sang Bunda di sela-sela rosario itu.

Belum lagi genap lima persepuluhan, aku sudah tiba di pintu ruang bedah. Hanya sampai disini Louise diperbolehkan untuk menemani aku, untuk selanjutnya dia harus duduk di ruang tunggu sambil harap-harap cemas menantikan hasil operasi. Rosario itu aku kembalikan kepadanya, dan sebuah ciuman dia tinggalkan untukku. Aku sudah pasrah akan apa pun yang terjadi, karena boleh jadi itu akan menjadi ciuman terakhir buatku.

Kini aku telah berada di ruang bedah, dingin sekali. Beberapa orang berpakaian khusus dengan wajah tertutup masker terlihat mondar-mandir. Aku mengenali salah seorang perawat yang bertugas pagi itu. Dia adalah Ibu Suratih - biasa aku panggil ‘Bu Pur - yang adalah teman se-lingkungan-ku. Kemudian datang seorang perawat mendekati aku mengukur tensi, mencatat detak nadi dan mengajukan beberapa pertanyaan ringan kepadaku. Tampaknya ia mencoba untuk mengurangi ketegangan yang jelas terpancar di wajahku saat itu.

Setelah berbincang beberapa saat datanglah seorang pria dengan pakaian bedah lengkap dengan masker dan tutup kepala, sehingga hanya matanya saja yang terlihat. Dia lalu memperkenalkan diri sebagai dokter anaestesi, dan dengan sopan bertanya apakah aku mau dibius lokal atau bius total. Aku memilih untuk dibius total karena tak sanggup aku bayangkan jika aku harus melihat orang-orang memotongi kakiku seolah-olah tukang jagal yang biasa terlihat di pasar daging. Jarum pun disuntikkan lewat infus di tanganku, dan itulah adegan terakhir yang masih bisa aku saksikan. Setelah itu aku tak sadarkan diri lagi.

Satu - Point of No Return

Tuesday, October 18th, 2005

Tak terasa sudah hampir empat bulan lamanya aku menjalani hidup dengan mengandalkan bantuan kruk. Namun sebenarnya baru dua bulan saja aku bisa merasakan "berjalan" dalam arti menjejakkan kedua kakiku ke atas tanah, karena selama hampir dua bulan sebelumnya aku harus bed rest, menghabiskan sebagian besar hari-hari di atas tempat tidur. Sungguh membosakan sekali.

Pagi itu, 28 Juni 2005 udara pagi Jakarta cerah sekali. Kehangatan cahaya matahari terpantul jelas dari kaca-kaca kendaraan yang melintasi Jl. Raya Radin Intan. Di sisi jalan beberapa anak usia sekolah tampak ceria karena hari itu adalah minggu pertama mereka libur kenaikan kelas. Jalanan lengang, karena hari ini tak ada anak-anak yang berebut naik mikrolet ataupun metro-mini, tidak juga ada mobil-mobil orang tua murid yang berebut parkir untuk mengantarkan anak-anaknya sampai ke gerbang sekolah. Namun bagiku tidak ada suatu hal pun yang mengesankan di pagi itu karena itu, semua aku  anggap pemandangan rutin. Memang sudah beberapa tahun ini aku dan sepeda motorku selalu setia lewat di situ, karena lewat pengalaman empiris aku menyimpulkan bahwa itulah rute terpendek antara rumah dan tempat kerjaku. Tidak heran jika aku sudah sungguh amat sangat hafal sekali dengan jalan itu, mulai dari berapa tikungan dan perempatan yang ada, lalu rambu-rambu apa saja yang ada di kiri-kanannya, berapa menit rata-rata lama lampu merah menyala, di mana ada "pak ogah" yang suka mengintimidasi, sampai berapa lingkar perut pak polisi yang biasanya berdiri di salah satu pertigaan.

Mekanis, mungkin itulah kata yang bisa menggambarkan aktifitasku berkendara pada hari itu. Tidak ada suatu apa pun yang bisa menarik perhatianku. Pandanganku menatap kosong dan aku tidak sedang berpikir. Ya! Boleh-boleh saja Rene Descartes berkata cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Nyatanya pagi itu aku memang tidak sedang berpikir tapi toh aku ada. Bagiku jalanan yang lengang adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan untuk memacu sepeda motorku ke kecepatan yang lebih tinggi. Apa yang harus dipikir? Bukankah tidak ada satu lubang pun yang tak kukenal di jalan ini?

Tiba-tiba aku sudah berada di deretan terdepan di traffic light Buaran. Puluhan sepeda motor meraung-raung tak sabar menanti lampu hijau. Pemandangan layaknya kompetisi balap motor saja, dan aku salah satu diantaranya. Begitu lampu menyala hijau semua berebut menempati posisi terdepan. Tak mau kalah, motorku makin kupacu - salip kiri salip kanan - sampai mendekati fly-over Buaran.

Aku segera naik ke fly-over. Di sinilah bencana itu dimulai. Persis di depanku terjadi tabrakan antara sepeda motor dan sepeda kayuh. Pengendara motor itu berjalan terlalu ke pinggir sehingga tersangkut dengan seseorang yang sedang mengayuh sepeda. Pengendara motor itu terjatuh dari motornya dan menimpa sepeda dan pengendaranya sekaligus. Sementara motornya melaju sendiri tanpa ada yang mengendalikan - strange but true - motor itu masih bisa melanjutkan perjalanannya beberapa meter ke tengah jalan tanpa terguling. Belum sempat aku sadar akan apa yang terjadi, tiba-tiba motor itu melaju dan jatuh hanya 4-5 meter di depanku. Dari kaca spion aku dapat melihat di sisi kananku ada mobil sedang melaju kencang. Apa yang harus aku buat, aku harus ambil keputusan segera, dan ini bukanlah kesempatan yang tepat untuk menerapkan ilmu pembuatan keputusan semacam Analytical Hierarchy Process, Minaut, atau semacamnya.

Menghindar ke kanan, aku bisa dihantam oleh mobil di belakangku. Karena hari itu aku sedang tidak ada niatan untuk bunuh diri, maka itu tidak aku lakukan. Di kiri sama saja karena banyak orang berjalan kaki. Satu-satunya yang aku bisa adalah mencoba menghentikan laju motorku dengan rem depan-belakang. Namun manusia berusaha, Tuhan jualah yang menentukan. Sekeras-kerasnya aku mencoba mengerem, akhirnya tabrakan tetap tidak terhindarkan. Keras sekali bunyi benturan itu, orang-orang menjerit, namun aku telah terlebih dahulu memejamkan mataku sehingga aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku baru membuka mataku ketika aku sadar telah terkulai lemah di atas aspal. Leo - adik iparku yang saat itu aku bonceng ternyata berhasil melompat terlebih dahulu sehingga ia luput dari kecelakaan. Dialah yang pertama menyeret aku ke pinggir jalan. Aku merasa sekujur tubuhku sakit sekali dan yang jelas aku tak mampu menggerakkan kaki kiriku. Seumur hidupku sampai saat ini belum pernah aku merasakan kesakitan lebih dari yang aku rasakan kala itu.

Ada sekitar beberapa menit aku mengerang kesakitan di pinggir jalan itu. Aku melihat beberapa orang memarkir sepeda motorku agar tak menghalangi jalan. Ada pula yang berinisiatif mengatur lalu lintas karena begitu tabrakan itu terjadi jalan tiba-tiba menjadi macet karena orang-orang ingin tahu apa yang terjadi. Beberapa menit aku merasa menjadi objek tontonan dalam kesakitanku yang amat sangat, tanpa ada seorang pun yang mencoba membantu. Banyak orang lewat tapi hanya melihat dan berlalu. Sementara Leo sedang kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa.

Puji Tuhan karena selang beberapa menit kemudian di jalan itu lewat beberapa rekan kerjaku yang mengenali aku lewat seragam yang aku pakai. Merekalah yang kemudian berusaha mencarikan aku tumpangan untuk mengantar aku ke rumah sakit. Mereka pula yang mengamankan sepeda motorku ke kantor. Agung Abigana, salah seorang diantara temanku itu ikut menemani aku sampai ke rumah sakit dengan mencarter sebuah mikrolet kosong. Untuk masuk ke mikrolet itu aku diangkat ramai-ramai, dan karena aku tak dapat menggerakkan kakiku maka aku hanya dibaringkan dekat pintu mikrolet dengan sebagian badanku ditahan oleh Agung - oleh karena belakangan aku diberi tahu bahwa tangan Agung pegal sampai dua hari.

Sekali lagi puji Tuhan perjalananku sangat lancar tanpa hambatan sehingga dalam 30 menit aku telah sampai ke unit gawat darurat. Segera aku di foto rontgen. Dan hasilnya sungguh mengerikan karena jelas terlihat pada femur (tulang paha) terjadi patah yang lebih tepat dikatakan hacur. Ibarat peta kepulauan Maluku, begitulah yang terlihat pada hasil foto itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, suaraku telah habis ketika menjerit kesakitan sepanjang jalan. Hanya mampu untuk berdoa dalam hati sebagaimana Daud bermazmur, "aku hamba-Mu ya Tuhan, anak dari sahaya-Mu"

Beberapa lama setelah hasil rontgen itu keluar, datanglah dokter spesialis orthopedi yang menjelaskan bahwa aku harus dioperasi. Tapi operasi tidak bisa dilakukan hari ini, mengingat bahwa pen (plat untuk menyambung tulang yang patah) harus dipersiapkan lebih dulu, sehingga paling cepat baru bisa keesokan harinya. Aku tidak mau banyak tanya sehingga hanya mengangguk tanda setuju dan beberapa saat kemudian aku telah menandatangani surat pernyataan bersedia dioperasi. Di sela-sela kesakitanku itu kehadiran Louise istriku dan Thomas anakku dengan segala tingkahnya yang lucu ternyata mampu menjadi penawar rasa sakit, karena mulai siang itu sampai esok paginya aku harus bersabar dengan kakiku yang semakin membengkak.

Hari itu terasa panjang sekali. Jarum jam serasa bergerak lambat. Suasana rumah sakit yang hening membuat pikiranku menerawang jauh. Berbagai bayangan kejadian-kejadian muncul secara acak dalam anganku, mimpi atau sekedar imajinasi susah dibedakan. Terkadang aku beberapa menit tertidur lalu tiba-tiba terbangun lagi. Untunglah sore harinya Altamira, teman lamaku di PSM-ITS, datang membezuk. Bagiku kedatangannya laksana oase di padang gurun, yang menawarkan kesejukan lewat kata-kata dan doanya. Alta adalah teman pertama yang membezuk aku. Kira-kira dua jam dia menemaniku lalu ia pamit pulang. Setelah dia pulang aku langsung tertidur dengan pulas menyongsong operasi besok pagi.