Getting Burnt in a Flame (7) - habis

September 28th, 2008 by bona-amanitogar

11 September 2008. Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tibalah. Slide presentasi sudah siap. Presentasi pun sudah beberapa kali pula aku latih, baik di rumah maupun di hadapan Nona Jorjevik yang dengan setia mendengarkan dan memberi masukan-masukan. Jas baru telah aku beli. Dan tidak lupa pula mencukur rambutku yang gondrong itu sehari sebelumnya, setelah 1 tahun penuh tidak tersentuh alat pangkas. Persiapan yang sempurna.

Presentasi dijadwalkan jam 4 sore. Beberapa jam sebelumnya aku membeli satu krat bir dan beberapa soft drink untuk hadirin, sebagaimana “adat” yang berlaku di sini. Setengah jam sebelumnya aku dan Nona Jorjevik sudah stand-by di ruangan untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar presentasi berjalan mulus.

Menjelang jam 4 orang-orang pun mulai berdatangan. Hadir di situ Pak Zarzalis dan Pak Schaub sebagai penguji. Lalu banyak pula peneliti-peneliti dari institut-institut yang berkaitan dengan combustion technology dan thermal process engineering. Lalu ada pula teman-teman sekelasku: Ben, Suzan dan Andy. Diikuti oleh mahasiswa baru, adik kelasku yang baru saja datang di Jerman. Dan yang paling penting bagiku adalah kehadiran teman-temanku dari komunitas Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI) Karlsruhe: Ardo, Vincent, Gita, Adeline, Jejes, dan Irene. Total kira-kira ada 30 orang yang hadir memenuhi ruangan itu.

Tepat jam 4, moderator pun berbicara, menandai dimulainya seminar. Langsung tegangan darahku naik tajam. Jelas ini bukan presentasi pertamaku. Tapi tetap saja rasa grogi itu tak bisa hilang. Namun semua itu segera hilang begitu moderator menyebut namaku dan mempersilahkan aku memulai presentasi. Bakat singa podium itu tiba-tiba muncul entah darimana datangnya, dan dengan lancar aku membeberkan slide demi slide presentasi itu tanpa halangan apapun. Selama lebih kurang 30 menit aku berbicara dengan menghabiskan 35 lembar slide. Sampai akhirnya pada slide terakhir aku mengucapkan “thank you for your attention”, diikuti dengan ketuk meja (di sini, seperti itulah gantinya tepuk tangan) para hadirin.

Tapi ternyata perjuangan belum berakhir di situ. Moderator telah membuka sesi tanya jawab, yang langsung dibuka oleh pertanyaan Pak Zarzalis. Dua pertanyaan beruntun dari beliau langsung kujawab taktis. Setelah itu muncul pertanyaan dari seorang peneliti Cina yang juga meneliti topik yang sama persis dengan yang aku geluti ini. Tidak kurang dari 5 pertanyaan diajukan olehnya, yang membuatku harus jungkir balik menjelaskan. Akhirnya sesi itu ditutup dengan pertanyaan dari Pak Schaub.

Ujian akhir itu memakan waktu kurang lebih 1 jam. Tepuk tangan hadirin menutup seluruh acara itu. Pak Zarzalis pun datang menyalamiku sambi mengatakan, “Sie sind jetzt fertig“. “Fast fertig” jawabku sambil melirik ke arah Nona Jorjevik yang tersenyum penuh arti.

Fast fertig! Hampir selesai. Karena saat itu - dan sampai detik ini pun - aku belum tau berapa nilai yang aku dapat. Hanya bisik-bisik dari Nona Jorjevik yang aku dengar, bahwa Pak Zarzalis berkomentar bahwa beliau puas dengan apa yang telah aku buat. “Er ist überhaupt zufrieden” begitu katanya.

Na, und? Kita lihat saja nanti setelah pak pos mengantarkan Masterurkunde itu ke rumahku di Bekasi. Karena besok pagi aku akan kembali. Kembali ke kampung halamanku, di tempat mana matahari tak pernah terlambat bersinar. Indonesia!

Getting Burnt in a Flame (6)

September 28th, 2008 by bona-amanitogar

Tiga bulan lamanya aku berjibaku dalam eksperimen di lab. Pertengahan Juli 2007, masa-masa eksperimen di lab yang berat itu akhirnya terlewati juga. Sepertinya tidak bisa dipercaya bagaimana aku bisa melalui semua itu: bangun jam 6 pagi, berkemas, menyiapkan bekal, menghabiskan waktu 12 jam di lab, pulang kembali dalam keadaan letih lesu sekitar jam 9 malam, masak, makan malam dan harus pula mengolah data yang didapat hari itu sampai sekitar jam 11 malam, untuk menentukan apa yang harus dilakukan esok harinya.

Sejak pertengahan Juli itu aku memulai pengolahan data, analisa dan pembahasan. Bab-bab awal seperti pendahuluan, dasar teori dan experimental set-up sudah aku tulis simultan dengan eksperimen. Nona Jorjevik memang teliti dan telaten. Seluruh tulisanku benar-benar diperiksa, mulai dari spelling/grammar, pilihan kata, logika, proses penghitungan, keakuratan referensi, ketajaman analisa sampai penampilan. Tak satu paragraf pun yang luput dari perhatiannya. Dalam hal ini aku kembali harus mengacungkan jempolku buatnya.

Dua minggu terakhir bulan Juli aku menyelesaikan seluruh pembahasan itu, lalu aku menyerahkan draft 4 bab pertama kepadanya di akhir bulan Juli. Itu adalah deadline yang dibuatnya mengingat di bulan Augstus dia akan cuti selama 3 minggu.

Setelah diperiksa olehnya, draft yang aku buat itu dikembalikan lagi kepadaku untuk aku revisi selama dia cuti. Setelah dia selesai cuti di minggu ketiga Agustus, aku serahkan kembali hasil revisiku.

Akhirnya tanggal 1 September aku siap menyerahkan draft final kepada Pak Zarzalis untuk diperiksa. Sekitar 3-4 hari draft final itu dibaca oleh Pak Zarzalis, lalu dikembalikan dengan sedikit revisi kecil. Tanggal 11 September aku dijadwalkan untuk melangsungkan presentasi akhir dalam suatu seminar.

Getting Burnt in a Flame (5)

September 28th, 2008 by bona-amanitogar

Sekarang tibalah waktuku untuk memulai thesis. Nona Jorjevik membawa secarik kertas yang ditandatangani oleh Pak Zarzalis, berisi penugasan resmi dari universitas tentang thema yang harus aku kerjakan, berikut output-output yang diinginkan. Memang begitulah di sini. Untuk memulai thesis atau Diplomsarbeit, semua deskripsi tugas dan kerangka waktu pengerjaan tertulis jelas hitam di atas putih.

Eksperimen pertama disepakati tanggal 16 April 2007. Aku pun datang tepat pada waktu yang dijanjikan, jam 8 pagi. Di situlah aku pertama kali mengalami secara utuh seperti apa jalannya percobaan, yang selama ini hanya aku lihat sebagian-sebagian saat mengikuti percobaan yang dilakukan oleh Peter.

Rangkaian operasi itu dimulai dengan start up, yakni menyalakan kompresor yang terletak di ruang bawah tanah, lalu membuka katup gas, kemudian menyalakan exhaust gas analyser, setelah itu mengaktifkan sistem kontrol dengan program LabVIEW. Setelah itu sistem dibiarkan stabil kira-kira setengah jam. Setelah sistem stabil, Nona Jorjevik akan datang untuk melakukan ignition.

Proses Ignition cukup berbahaya, karena memungkinkan terjadinya ledakan apabila ada parameter tertentu yang kurang tepat. Itu sebabnya Nona Jorjevik tidak mau ambil resiko, dan selalu ada pada saat itu. Proses ini berlangsung kira-kira 30 menit. Setelah itu pekerjaan rutin pun dimulai: pengamatan stabilisiasi nyala dan tingkat emisi gas buang.

Proses pengamatan ini sungguh membosankan. Aku harus terpaku di depan kontrol panel untuk melihat kondisi nyala yang ditampilkan dalam bentuk temperature profile. Setiap 2-3 menit sekali seluruh parameter dicatat, ada yang dengan cara menyimpan data di program, ada yang harus dicatat manual.

Karena pekerjaan ini berhubungan dengan api terbuka, maka fasilitas uji tidak bisa ditinggalkan. Bahkan untuk makan siang pun aku harus membawa bekal dan dimakan di sela-sela pengukuran. Kalau aku mau ke toilet, aku harus memanggil Nona Jorjevik untuk menggantikan tugasku sementara. Jadi betul-betul seperti di penjara.

Rutinitas seperti itulah yang aku lakukan berbulan-bulan. Maka sering kali di jam-jam tertentu saat aku sudah betul-betul lelah dan bosan, pikiranku melayang sendiri sampai lupa saat itu aku sedang berada di mana. Memang menyebalkan berada sendirian di antara pipa gas methana itu, belum lagi tabung-tabung gas bertekanan tinggi: N2, CO2, CO, O2, NOx yang semuanya mudah meledak. Tapi belakangan aku tau bahwa ada satu yang jauh lebih mudah meledak daripada itu semua, yaitu Nona Jorjevik.

Getting Burnt in a Flame (4)

September 27th, 2008 by bona-amanitogar

Mahasiswa Diplom itu bernama Peter. Orang Jerman asli dengan dialek Badisch yang kental. Ada sekitar 2 bulanan aku melakukan orientasi di fasilitas test itu bersama dia sambil ikut serta membantu mengoperasikan alat-alat uji.  Orientasi itu aku lakukan di sela-sela jam kuliahku, sekitar 2-3 jam setiap kali dia melakukan pengujian, sambil juga berdiskusi tentang topik yang sedang dikerjakan.

Di situ aku baru paham betapa rumit dan membosankannya penelitian ini. Yang diamati adalah suatu burner baru berbasis porous-inert-media yang diproyeksikan mampu menghasilkan pembakaran yang berperforma tinggi, efisien dan rendah emisi gas buang. Percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan gas methana dengan udara, dan stabilisasi nyala diteliti dengan merubah-rubah parameter termodinamika dan struktur geometri porous-media.

Aku cukup beruntung bahwa Peter sangat paham cara kerja peralatan itu dan mampu memberikan penjelasan dengan baik. Tapi yang menjadi kekhawatiranku waktu itu adalah rumit dan membosankannya proses percobaan ini. Maklum dalam melakukan pengujian dibutuhkan waktu lama, kurang lebih 11-12 jam per hari non stop. Biasanya dia mulai start-up jam 8 pagi dan baru selesai jam 7 malam. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia berangkat pagi-pagi dari rumahnya yang sekitar 40 menit perjalanan di musim dingin yang menggigit pada waktu itu, dan menghabiskan seluruh hari di tempat yang berukuran 4×4.

Di sela-sela proses percobaan aku sering juga mengajak Peter ngobrol di luar topik penelitian ini, misalnya tentang kehidupan sehari-hari. Aku beruntung karena Peter ternyata cukup terbuka. Mungkin dia juga senang karena ada orang yang menemaninya berbicara di tengah-tengah kebosanan seperti itu.

Suatu hari aku pernah berkomentar kepadanya, “So, you spend 12 hours of your days in such a place? How bored it is! Just like in a jail.” Dia tersenyum, manggut-manggut dan menjawab, “Ja, ja… that’s true, but in a jail you won’t have your diploma.” :) Iya juga, batinku.

Kini Peter sudah lulus. Nilai Diplomsarbeit-nya juga sangat bagus (pernah suatu kali kebetulan aku lihat di meja Nona Jorjevik). Tapi sayang aku tidak sempat minta alamat kontaknya.

Getting Burnt in a Flame (3)

September 22nd, 2008 by bona-amanitogar

Akhirnya dalam suatu kesempatan aku menyampaikan pada Pak Zarzalis bahwa aku jadi mengambil topik yang ditawarkannya itu untuk master thesis-ku, meski aku sama sekali tidak tau tepatnya seperti apa masalah yang harus diteliti. Saat itu juga beliau langsung merespon dengan membuat janji untuk mengantarkanku ke fasilitas test. Maksud beliau adalah supaya aku terlebih dahulu belajar tentang seluk-beluk fasilitas itu, sebelum periode thesisku dimulai.

Akhirnya pada hari yang dijanjikan aku diantarkan ke laboratorium yang dimaksud. Laboratorium itu berukuran kurang lebih 4×4 meter dipenuhi dengan tabung-tabung gas, pipa-pipa, valve dan sebuah ruang bakar besar di tengah-tengahnya. Di salah satu sudutnya ada seperangkat komputer. Di situ aku melihat seorang perempuan berambut pirang bermata coklat tajam dengan hidungnya yang luar biasa mancung. Aku mengenali perempuan itu. Dia pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah transport phenomena, salah satu mata kuliah tersulit yang pernah aku pelajari dalam hidupku, setidaknya sampai saat ini. Perempuan itu adalah Nona Jorjevik. Dia adalah peneliti muda berdarah Slavia. Jenius dan cantik! Suatu kombinasi yang membuat dunia ini semakin penuh dengan kesenjangan sosial.

Aku melihat Pak Zarzalis dan Nona Jorjevik berbicara sebentar. Entah apa yang mereka perbincangkan aku tak ambil pusing. Sampai akhirnya Pak Zarzalis mengatakan padaku, bahwa selanjutnya Nona Jorjevik lah yang akan memberi pengantar tentang cara kerja fasilitas test itu dan sekaligus menjelaskan secara detail apa saja topik yang akan aku teliti di situ. Aku mengangguk-angguk, sambil sesekali menjawab sekenanya dengan sedikit berbasa-basi. Lalu tak lama kemudian Pak Zarzalis pun pergi meninggalkan kami berdua.

Tanpa membuang waktu lama, Nona Jorjevik langsung memulai dengan menjelaskan secara garis besar topik penelitiannya. Gaya bicaranya cepat dan ringkas dengan aksen Slavia yang kental. Setauku dia ini juga mahir dalam berbahasa. Yang aku tau, dia bisa berbahasa Jerman, Inggris dan Yunani, disamping tentu saja bahasa Serbia sebagai bahasa ibu.

Meski dia sudah banyak berbicara, hanya sedikit yang bisa aku tangkap dari penjelasannya. Pada akhir penjelasannya dia mengatakan bahwa saat ini ada salah satu mahasiswa Diplom yang sedang melakukan penelitian juga di tempat itu. Lalu dia memperlihatkan padaku hari-hari mana saja si mahasiswa itu melakukan percobaan dan dia memintaku datang lagi pada hari dimana dia akan melakukan percobaan agar aku bisa melihat langsung prosesnya. Akhirnya, dia memberikan padaku beberapa kutipan jurnal di bidang yang ditelitinya itu sebagai bekal untuk dipelajari.

Getting Burnt in a Flame (2)

September 21st, 2008 by bona-amanitogar

Terompet tahun baru dan letupan bunyi petasan menutup lembaran kalender usang 2007. Malam pergantian tahun itu aku lewatkan dengan sederhana di ruang kamarku sambil mencoreti carikan kertas usang di meja tulis, menuangkan segala carut-marut yang ada di benakku. Banyak hal yang melintas di pikiran, dan salah satunya adalah pertanyaan Pak Zarzalis itu: Wie finden Sie das Thema?

Ironis juga, dimana ketika orang-orang sibuk merumuskan resolusi tahun barunya, aku duduk sendirian di ruang gelap dengan mata menerawang dan pikiran kosong. Aku perhatikan jam, masih beberapa menit lagi menuju jam 12 malam. Aku bosan! Lalu kuputuskan untuk tidur saja.

Lampu kamar pun kupadamkan, tapi gorden kubiarkan terbuka. Dari jendela aku pandangi langit malam yang gelap tanpa bintang. Aku coba pejamkan mata, tapi ternyata tidak mudah untuk tidur dengan hingar bingar suara orang-orang di malam tahun baru itu.

Menjelang tengah malam suara terompet semakin keras. Dan tiba-tiba terdengar suara letupan yang keras sekali disertai sorak-sorai orang-orang. Kiranya detik-detik pergantian tahun sudah dilalui. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju jendela. Dari situ aku melihat warna-warni kilatan kembang api menghiasi langit malam. Percikan api itu begitu indah dalam berbagai konfigurasi.

Bukan pertama kali ini aku melihat kembang api. Tapi aneh bahwa kali ini aku begitu terpesona lebih dari biasanya. Saat itu aku rasa seperti ada sesuatu yang melonjak dalam batinku. Aku seperti melihat diriku di tengah-tengah pijaran bunga api. Eureka! Inilah jawaban yang aku tunggu-tunggu. Aku suka bermain-main dengan api. Dia menyenangkan. Dan menegangkan! Aku merasa saat itu juga mendapat resolusi tahun baru.

I love spark, glow, flash, flare.

I love flame.

Getting Burnt in a Flame (1)

September 16th, 2008 by bona-amanitogar

Hari ini baru saja aku merampungkan rangkaian tugas akhirku dalam studi ini. Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan dengan sukses Thesis defense, sore tadi - ditemani oleh Suzan teman sekelasku - aku telah menjilid buku Master Thesis-ku yang berjudul “Flame Stabilization and Emissions of a SiSiC Porous Burner” untuk segera diserahkan ke universitas. Suatu tonggak penting dalam hidupku. Sesuatu yang dulu - sejujurnya - membayangkan pun aku tak berani.

Rangkaian panjang dan melelahkan (fisik dan mental) ini sebenarnya sudah dimulai dari penghujung tahun 2007 yang lalu. Saat itu di suatu perayaan natal di Engler-Bunte-Institut, aku duduk semeja dengan Pak Zarzalis, profesor di bidang Combustion Technology. Di sela-sela menikmati hidangan, beliau “menawarkan” sebuah proyek Masterarbeit di group riset yang dipimpinnya. Tawaran yang dapat ditafsirkan sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi merupakan kebanggaan bagiku dipercaya untuk berkolaborasi di grup riset yang bergengsi itu. Tapi di sisi lain, bidang ini sangat asing bagiku dan tentu menuntut kerja dan belajar yang extra keras.

Sejak saat itu kepalaku langsung dipenuhi dengan tanda tanya besar: apakah mungkin aku menerima tawaran (baca: tantangan) ini. Tapi, apakah etis kalau aku menolak kepercayaan pak profesor itu, apalagi beliau adalah kepala program (=Kajur) studiku ini. Heat Transfer, Transport Phenomena, Chemical Kinetics, Thermodynamics, dll adalah momok bagiku selama ini. Padahal di bidang Combustion Technology, mereka itu semua adalah makanan sehari-hari. Lalu, sanggupkah aku hidup berdampingan dengan mereka itu?

Memang di akhir percakapan Pak Zarzalis mengatakan, “Aber, was Sie wollen, it’s up to you…!” yang aku tanggapi dengan, “Ich will überlegen, please give me time to think about it.

“Ya, I’ll definetely think about it“, batinku sambil menikmati Glühwein dan Spekulatius

Kemarin, Kini dan Esok : Berani?

June 6th, 2008 by bona-amanitogar

Diakui atau tidak, kerap kita menghendaki masa lalu terulang kembali. Alih-alih menjalani hari ini - apalagi memikirkan hari esok - kita lebih sering menginginkan hari kemarin. Masa lalu memang sering terasa jauh lebih berarti dibandingkan masa kini; apa lagi dibandingkan masa depan yang sungguh abstrak tak berbentuk.

Keinginan untuk kembali ke masa lalu itu bisa jadi disebabkan dua alasan yang berbeda. Satu: jika masa lalu itu manis, ingin rasanya mereguk kembali segala keindahan dan mengecap semua kenikmatannya. Dua: jika itu pahit, ingin supaya bisa merubahnya dan memperbaiki kesalahan, baik perbuatan maupun kelalaian.

Hidup dalam "kekinian" memang tidaklah mudah. Terlebih jika dihadapkan dengan realita yang muram dan bayangan masa depan yang suram. Maka jangan heran, banyak orang yang berprinsip "berani mati". Padahal sesunguhnya itu bukanlah prinsip keberanian sejati, karena dibaliknya tersembunyi suatu ketakutan menghadapi realita kehidupan. "Berani mati" karena "takut hidup".

Bagiku, keberanian yang sesungguhnya adalah keberanian menghadapi realita, apa pun bentuknya. Keberanian adalah suatu kualitas, sesuatu yang hanya dapat dialami, bukan wacana. Keberanian adalah sebuah sikap, sesatu yang hanya dapat dirasakan, bukan retorika. Dan dalam hal ini, aku berprinsip bahwa keberanian sejati adalah keberanian untuk hidup dan menghadapi apa pun yang terjadi pada hari ini, tanpa penyesalan akan hari kemarin atau kecemasan akan hari esok.

Seseorang pernah menulis sajak seperti ini:

Need no time machine
I don’t need it
Neither to change the past nor the future

No regret… The past is good
No wonder… The future is great
As I don’t see my life is not my own again
As I live not for my own again

Time machine…
I don’t need it
Even if it truly exists
The greatest and the best are prepared

I knew that my way had never been that easy
I knew it…
But this is my path…
This is my life


Dan aku sependapat…

So, what bothers you?
Isn’t it today what yesterday we worried about tomorrow?

Kumpulan Puisi : Let Me Be

April 11th, 2008 by bona-amanitogar



THERE IS

There’s such a creature called rose,
    so beautiful, yet harmful
There’s such a thing called love,
    so wonderful, yet painful

CHORD THAT REMAINS


A singer once sang
of a black haired girl
whose eyes like jewels
with smile like a pearl

    The words have disappeared
    long faded through the sky
    only the love they’ve shared
    remains unchanged as a memory


But the tone still rings on
and the chord has never gone
as my fingers gently play
a music without gaiety



ONLY IF

Thousand years of my life I would share
    for a single minute of your time;
Thousand beats of my heart I would give
    for a single breath of your life;
Thousand love of my soul I would send
    for a single piece of your affection;
Yes, I would
if I only could!

I USED TO

I used to have laughter;
    It’s gone, but not far enough
I used to have desire;
    It’s run, but not quick enough
I used to have a dream;
    It’s left, but keeps coming back
… but this time I promise
    There will be no way back

SURVIVE

There was a war
    I survived;
There was a disaster
    I survived;
There was a pain
    I survived;
There is hurt
    Why wouldn’t I survive?

LET ME BE

A guiding star,
    I couldn’t be
A sailing ship,
    I couldn’t be
A bridge,
    let me be…


===============================
Karlsruhe, 11 April 2007
 

Cerpen: Akhir Suatu Reinkarnasi

April 2nd, 2008 by bona-amanitogar

Julia, meski kini aku hampir mati, aku masih teringat akan ucapanku kepadamu di suatu hari. Dulu sekali, di suatu kehidupan yang lain, berkali-kali aku katakan bahwa kelak kau akan menjadi milikku dan aku jadi milikmu. Aku akan berbahagia mendampingimu hingga ajal itu kembali datang menjemputku. Dan kau selalu saja hanya mengatupkan bibirmu dan memandangi aku melalui sudut matamu dari sela-sela urai rambutmu. Setelah itu biasanya alam menjadi hening dan aku akan mulai mencumbui hatimu, lalu merasuk ke kedalaman jiwamu sampai kita berdua menyatu dalam dekapan yang mengharu-biru.

Di satuan waktu yang lain, sesaat sebelum kita berpisah untuk meluncur ke muka bumi ini, teringat jelas bagaimana air mata mengalir membanjiri pelupuk mataku. Sekali lagi aku ulangi kalimat itu, bahwa kau akan jadi milikku dan aku jadi milikmu. Namun saat itu tak ada lagi cumbu-rayu seperti biasanya. Semua beku. Kita sama-sama terdiam memaku dalam dua jiwa yang terbelenggu.

Kini kita telah bertemu kembali di tempat ini. Dalam suatu kehidupan yang lain. Tidak jauh berbeda dengan keadaan kita sebelumnya. Usia kita tidak terpaut jauh. Kau tetap seindah yang aku kenal dulu. Kelopak mata yang syahdu dengan bibir tipis yang mengulum senyum.

Hanya sekali saja aku pernah melihat senyumanmu mengembang lebih dari biasanya. Sesaat setelah aku selesai mengucap janji setiaku kepadamu, ketika aku benar-benar jadi milikmu dan kau jadi milikku. Itulah hari yang telah lama kutunggu-tunggu. Aku tak pernah tau apakah kau pun menungu-nunggu hari itu, juga tak pernah aku tau apakah kau masih mengingat janjiku kepadamu di kehidupan kita terdahulu.

Saat ini aku berbaring di hadapanmu. Wajahmu kutatap lekat. Sedari tadi kau tetap diam dengan tetesan air mengalir dari matamu yang sebening kaca. Nafasku tersengal. Aku merasa seperti manusia renta yang tak berdaya, meski aku sama sekali belum tua.

Sejak kematian anak kita Fulda, aku memang tak bisa lagi melangkah ke mana pun. Aku hanya berbaring dan berbaring. Sesekali engkau mendorong aku duduk di atas kursi roda di saat punggungku benar-benar letih setelah berhari-hari diam di pembaringan. Sebagian besar waktuku telah aku habiskan di pembaringan itu. Hanya khayalku sajalah yang membawa pikiranku ke manapun aku suka. Bahkan sering kali aku sampai tidak bisa membedakan lagi mana khayal dan mana mimpi, persis seperti yang aku rasakan saat ini.

Aku melihat Fulda berdiri anggun dalam suasana yang teramat asing bagiku. Dia tersenyum manis dalam balutan gaun sifon dengan hiasan batu kristal yang menjuntai semata kaki. Ingin aku berlari memeluknya sembari mengatakan betapa aku merindukannya. Aku lalu mencoba memanggilnya, tapi suaraku terhenti di tenggorokan yang kering. Lama sekali aku tidak minum air. Semua cairan dimasukkan lewat selang infus yang ditembuskan dari hidungku. Fulda hanya berdiri memandangku. Matanya berbinar. Dadaku semakin berdebar memompakan rindu yang semakin lama semakin memuncak.

Sekelebat terintas lagi gambaran dikala Fulda meninggalkan kita untuk selamanya. Aku ingat hari itu hari Minggu. Aku berniat membawa Fulda berkeliling menikmati indahnya kota. Aku angkat tubuh mungil Fulda ke atas sepeda motor. Fulda aku letakkan di depanku, aku dekap sembari mengendalikan jalannya. Sesekali aku menciumi rambutnya sembari mendengarkan suara dari bibirnya yang tak berhenti berceloteh sepanjang jalan.

Aku sungguh menikmati celotehan Fulda sampai-sampai aku lupa kalau saat itu aku sedang berada di jalan raya. Aku terkejut ketika mendengar orang-orang berteriak dan melihat sebuah truk besar meluncur ke hadapan kami. Aku panik dan tidak bisa menguasai pikiranku. Dan terjadilah semuanya. Truk itu menghantam tubuh Fulda dan mencabik-cabiknya tanpa ampun, dan kakiku tergilas di bawah rodanya yang besar. Aku sadar setelah kedua kakiku lenyap teramputasi. Dan kau Julia, hanya butiran air matamu itu yang tak pernah berhenti menetes membasahi sudut matamu.

Selanjutnya aku hanya menghabiskan waktuku dengan mencoreti kalender, dan menghitung hari sejak kepergian Fulda. 100, 200, 300 … hingga 1000 hari aku lewati aku masih rajin mencoretinya. Lewat 1000 hari aku mulai lelah. Aku tidak lagi menghitung hari-hari itu, mulai marah dan tak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri. Aku menjadi malas makan dan enggan berbicara kepada semua orang termasuk juga kau, Julia. Aku juga mulai melukai diriku sendiri hingga akhirnya badanku semakin lemah dan aku harus mendekam di rumah sakit ini.

Tiba-tiba sosok Fulda kembali datang menghampiriku. Namun kali ini hanya sekejap saja, karena kemudian suasana menjadi redup tertutup kabut putih. Lalu dari balik kabut itu mucul sosok laki-laki muda yang berjalan ke arahku. Dia tersenyum dan menjabat tanganku. Kulit tangannya begitu halus dan tubuhnya menyemburkan semerbak aroma bunga.

Dia mengajakku duduk dan bercerita tentang nirwana. Aku langsung teringat pada Fulda, dan bertanya kepadanya.

"Apa Fulda ada di sana?" tanyaku
"Tentu saja." jawabnya.
"Aku ingin sekali pergi ke sana." balasku tak sabar.
"Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" aku menjadi bersemangat.
"Kau terlebih dulu harus mati."
"Mati? Hanya itu? Mudah sekali." sahutku.

Aku sama sekali tidak perduli. Yang ada dalam pikiranku saat itu adalah bertemu Fulda. Aku ingin memeluknya, menumpahkan segala rasa sembari memohon ampun atas segala keteledoranku dulu yang menyebabkan ia kehilangan nyawanya.

Suasana berangsur-angsur menjadi sangat dingin dan hening tanpa suara kecuali detak-detak yang terdengar sangat lirih. Itulah suara degup jantungku yang selama ini tidak pernah aku dengar karena sudah sangat lemah. Detakan itu terdengar monoton sekali memecah kebekuan dan keheningan. Tiba-tiba aku ingin suara itu hilang sama sekali.

"Aku ingin suara ini diakhiri saja." pintaku
"Itu berarti kau akan mati." katanya
"Ya, memang itulah yang aku inginkan. Aku ridu Fulda."
"Kalau kau mati, Julia tentu akan sedih sekali."

Aku tersentak. Julia? Aku melupakannya? Bagaimana mungkin aku meninggalkan Julia?

Baru saja aku hendak mengatakan sesuatu kepada laki-laki itu, tiba-tiba semua berubah. Seberkas cahaya menyeruak dari balik kabut, yang membuatnya laksana pendaran intan berlian. Kini di hadapanku tampaklah bunga-bunga dengan mahkotanya yang bermekaran dengan warna-warni dan aroma yang tak terperi.

Sekonyong-konyong aku melihat Fulda berlari ke arahku dari kejauhan. Matanya berbinar dengan senyum simpul di bibirnya. Gaunnya mengembang tertiup angin, sementara mahkota untaian bunga menghiasi rambut hitamnya yang lurus sebahu.

Tapi seketika itu juga aku teringat kembali kepadamu, Julia. Aku lihat kau masih saja duduk di sisi pembaringanku dengan mata berkaca-kaca. Aku ingin menceritakan kepadamu kalau aku baru saja bertemu Fulda, buah hati kita. Aku memanggil-manggil namamu, Julia, tapi kau sama sekali seperti tak mendengarku.

Lihat Julia, Fulda datang kembali. Kini dia semakin dekat. Tangannya direntangkan ke arahku. Ayolah Julia, ayo rangkul buah hati kita. Tidakkah kau ingin kita berbahagia selamanya? Tapi kenapa kau masih saja diam di tempat dudukmu?

Aku sama sekali tak mampu lagi memilih, atara kau dan Fulda. Betul-betul menyiksa tapi sekaligus mendebarkan. Nafasku semakin terengah-engah. Aku kehabisan tenaga. Aku melihat bibirmu yang tadi terkatup mulai komat-kamit, mungkin kau sedang berdoa. Sementara matamu yang tadi berkaca-kaca kini menghujankan derai air mata. Aku belum pernah melihatmu begitu sedih, Julia.

Lalu semua terpastikan. Seseorang menarik sesuatu dari tubuhku, yang membuat aku merasa sangat ringan, seolah ada beban maha berat yang baru saja terlepaskan. Sangat cepat.

Tiba-tiba aku dan Fulda sudah berpelukan begitu eratnya, sementara kau memeluk tubuhku dan menangis sejadi-jadinya di pembaringanku. Perawat mencabut selang infus dari tubuhku. Dan aku berteriak untukmu: "Aku akan selalu merindukanmu, Julia!"

*****

Karlsruhe, 7 April 2008