Julia, meski kini aku hampir mati, aku masih teringat akan ucapanku kepadamu di suatu hari. Dulu sekali, di suatu kehidupan yang lain, berkali-kali aku katakan bahwa kelak kau akan menjadi milikku dan aku jadi milikmu. Aku akan berbahagia mendampingimu hingga ajal itu kembali datang menjemputku. Dan kau selalu saja hanya mengatupkan bibirmu dan memandangi aku melalui sudut matamu dari sela-sela urai rambutmu. Setelah itu biasanya alam menjadi hening dan aku akan mulai mencumbui hatimu, lalu merasuk ke kedalaman jiwamu sampai kita berdua menyatu dalam dekapan yang mengharu-biru.
Di satuan waktu yang lain, sesaat sebelum kita berpisah untuk meluncur ke muka bumi ini, teringat jelas bagaimana air mata mengalir membanjiri pelupuk mataku. Sekali lagi aku ulangi kalimat itu, bahwa kau akan jadi milikku dan aku jadi milikmu. Namun saat itu tak ada lagi cumbu-rayu seperti biasanya. Semua beku. Kita sama-sama terdiam memaku dalam dua jiwa yang terbelenggu.
Kini kita telah bertemu kembali di tempat ini. Dalam suatu kehidupan yang lain. Tidak jauh berbeda dengan keadaan kita sebelumnya. Usia kita tidak terpaut jauh. Kau tetap seindah yang aku kenal dulu. Kelopak mata yang syahdu dengan bibir tipis yang mengulum senyum.
Hanya sekali saja aku pernah melihat senyumanmu mengembang lebih dari biasanya. Sesaat setelah aku selesai mengucap janji setiaku kepadamu, ketika aku benar-benar jadi milikmu dan kau jadi milikku. Itulah hari yang telah lama kutunggu-tunggu. Aku tak pernah tau apakah kau pun menungu-nunggu hari itu, juga tak pernah aku tau apakah kau masih mengingat janjiku kepadamu di kehidupan kita terdahulu.
Saat ini aku berbaring di hadapanmu. Wajahmu kutatap lekat. Sedari tadi kau tetap diam dengan tetesan air mengalir dari matamu yang sebening kaca. Nafasku tersengal. Aku merasa seperti manusia renta yang tak berdaya, meski aku sama sekali belum tua.
Sejak kematian anak kita Fulda, aku memang tak bisa lagi melangkah ke mana pun. Aku hanya berbaring dan berbaring. Sesekali engkau mendorong aku duduk di atas kursi roda di saat punggungku benar-benar letih setelah berhari-hari diam di pembaringan. Sebagian besar waktuku telah aku habiskan di pembaringan itu. Hanya khayalku sajalah yang membawa pikiranku ke manapun aku suka. Bahkan sering kali aku sampai tidak bisa membedakan lagi mana khayal dan mana mimpi, persis seperti yang aku rasakan saat ini.
Aku melihat Fulda berdiri anggun dalam suasana yang teramat asing bagiku. Dia tersenyum manis dalam balutan gaun sifon dengan hiasan batu kristal yang menjuntai semata kaki. Ingin aku berlari memeluknya sembari mengatakan betapa aku merindukannya. Aku lalu mencoba memanggilnya, tapi suaraku terhenti di tenggorokan yang kering. Lama sekali aku tidak minum air. Semua cairan dimasukkan lewat selang infus yang ditembuskan dari hidungku. Fulda hanya berdiri memandangku. Matanya berbinar. Dadaku semakin berdebar memompakan rindu yang semakin lama semakin memuncak.
Sekelebat terintas lagi gambaran dikala Fulda meninggalkan kita untuk selamanya. Aku ingat hari itu hari Minggu. Aku berniat membawa Fulda berkeliling menikmati indahnya kota. Aku angkat tubuh mungil Fulda ke atas sepeda motor. Fulda aku letakkan di depanku, aku dekap sembari mengendalikan jalannya. Sesekali aku menciumi rambutnya sembari mendengarkan suara dari bibirnya yang tak berhenti berceloteh sepanjang jalan.
Aku sungguh menikmati celotehan Fulda sampai-sampai aku lupa kalau saat itu aku sedang berada di jalan raya. Aku terkejut ketika mendengar orang-orang berteriak dan melihat sebuah truk besar meluncur ke hadapan kami. Aku panik dan tidak bisa menguasai pikiranku. Dan terjadilah semuanya. Truk itu menghantam tubuh Fulda dan mencabik-cabiknya tanpa ampun, dan kakiku tergilas di bawah rodanya yang besar. Aku sadar setelah kedua kakiku lenyap teramputasi. Dan kau Julia, hanya butiran air matamu itu yang tak pernah berhenti menetes membasahi sudut matamu.
Selanjutnya aku hanya menghabiskan waktuku dengan mencoreti kalender, dan menghitung hari sejak kepergian Fulda. 100, 200, 300 … hingga 1000 hari aku lewati aku masih rajin mencoretinya. Lewat 1000 hari aku mulai lelah. Aku tidak lagi menghitung hari-hari itu, mulai marah dan tak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri. Aku menjadi malas makan dan enggan berbicara kepada semua orang termasuk juga kau, Julia. Aku juga mulai melukai diriku sendiri hingga akhirnya badanku semakin lemah dan aku harus mendekam di rumah sakit ini.
Tiba-tiba sosok Fulda kembali datang menghampiriku. Namun kali ini hanya sekejap saja, karena kemudian suasana menjadi redup tertutup kabut putih. Lalu dari balik kabut itu mucul sosok laki-laki muda yang berjalan ke arahku. Dia tersenyum dan menjabat tanganku. Kulit tangannya begitu halus dan tubuhnya menyemburkan semerbak aroma bunga.
Dia mengajakku duduk dan bercerita tentang nirwana. Aku langsung teringat pada Fulda, dan bertanya kepadanya.
"Apa Fulda ada di sana?" tanyaku
"Tentu saja." jawabnya.
"Aku ingin sekali pergi ke sana." balasku tak sabar.
"Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" aku menjadi bersemangat.
"Kau terlebih dulu harus mati."
"Mati? Hanya itu? Mudah sekali." sahutku.
Aku sama sekali tidak perduli. Yang ada dalam pikiranku saat itu adalah bertemu Fulda. Aku ingin memeluknya, menumpahkan segala rasa sembari memohon ampun atas segala keteledoranku dulu yang menyebabkan ia kehilangan nyawanya.
Suasana berangsur-angsur menjadi sangat dingin dan hening tanpa suara kecuali detak-detak yang terdengar sangat lirih. Itulah suara degup jantungku yang selama ini tidak pernah aku dengar karena sudah sangat lemah. Detakan itu terdengar monoton sekali memecah kebekuan dan keheningan. Tiba-tiba aku ingin suara itu hilang sama sekali.
"Aku ingin suara ini diakhiri saja." pintaku
"Itu berarti kau akan mati." katanya
"Ya, memang itulah yang aku inginkan. Aku ridu Fulda."
"Kalau kau mati, Julia tentu akan sedih sekali."
Aku tersentak. Julia? Aku melupakannya? Bagaimana mungkin aku meninggalkan Julia?
Baru saja aku hendak mengatakan sesuatu kepada laki-laki itu, tiba-tiba semua berubah. Seberkas cahaya menyeruak dari balik kabut, yang membuatnya laksana pendaran intan berlian. Kini di hadapanku tampaklah bunga-bunga dengan mahkotanya yang bermekaran dengan warna-warni dan aroma yang tak terperi.
Sekonyong-konyong aku melihat Fulda berlari ke arahku dari kejauhan. Matanya berbinar dengan senyum simpul di bibirnya. Gaunnya mengembang tertiup angin, sementara mahkota untaian bunga menghiasi rambut hitamnya yang lurus sebahu.
Tapi seketika itu juga aku teringat kembali kepadamu, Julia. Aku lihat kau masih saja duduk di sisi pembaringanku dengan mata berkaca-kaca. Aku ingin menceritakan kepadamu kalau aku baru saja bertemu Fulda, buah hati kita. Aku memanggil-manggil namamu, Julia, tapi kau sama sekali seperti tak mendengarku.
Lihat Julia, Fulda datang kembali. Kini dia semakin dekat. Tangannya direntangkan ke arahku. Ayolah Julia, ayo rangkul buah hati kita. Tidakkah kau ingin kita berbahagia selamanya? Tapi kenapa kau masih saja diam di tempat dudukmu?
Aku sama sekali tak mampu lagi memilih, atara kau dan Fulda. Betul-betul menyiksa tapi sekaligus mendebarkan. Nafasku semakin terengah-engah. Aku kehabisan tenaga. Aku melihat bibirmu yang tadi terkatup mulai komat-kamit, mungkin kau sedang berdoa. Sementara matamu yang tadi berkaca-kaca kini menghujankan derai air mata. Aku belum pernah melihatmu begitu sedih, Julia.
Lalu semua terpastikan. Seseorang menarik sesuatu dari tubuhku, yang membuat aku merasa sangat ringan, seolah ada beban maha berat yang baru saja terlepaskan. Sangat cepat.
Tiba-tiba aku dan Fulda sudah berpelukan begitu eratnya, sementara kau memeluk tubuhku dan menangis sejadi-jadinya di pembaringanku. Perawat mencabut selang infus dari tubuhku. Dan aku berteriak untukmu: "Aku akan selalu merindukanmu, Julia!"
*****
Karlsruhe, 7 April 2008